<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291</id><updated>2011-04-21T14:49:35.794-07:00</updated><category term='Layanan'/><category term='Self development'/><category term='Spiritual'/><category term='Motivasi'/><title type='text'>dengarkanlah saat jiwa berkata</title><subtitle type='html'>mencoba melihat kehidupan dengan mata hati dan memaknai-nya sebagai pembelajaran</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-420589784053781790</id><published>2009-02-01T22:49:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T22:51:20.785-08:00</updated><title type='text'>Kepompong</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hari-hari belakangan ini, Anindya putri tertua saya gemar sekali sebuah lagu unik yang dinyanyikan oleh SindenTosca. Judulnya Kepompong. Begitu dia lihat video klip lagu ini di TV, langsung saja dia ajak orang yang ada di dekatnya untuk sama-sama menyanyi. Walaupun setiap kata yang keluar dari mulut kecilnya sering tidak jelas namun dari ekspresinya jelas terlihat dia sangat menikmati lagu itu. Lagu itu, sesuai dengan judulnya menceritakan sebuah persahabatan yang diibaratkan dengan Kepompong. Namun dalam LPB ini saya tidak akan membahas mengenai lagu itu tapi pada kata: Kepompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepompong merupakan sebuah masa yang harus dilewati ketika seekor ulat akan berubah menjadi sebuah kupu-kupu yang indah. Dari seekor ulat yang mungkin ‘merugikan’ dan ‘musuh’ bagi anda penyuka tanaman, menjadi sebuah kepompong yang konsisten sekaligus pasrah dalam diamnya, sampai akhirnya menjelma menjadi sebuah kupu-kupu yang seringkali membuat takjub manusia yang memandangi keindahan sayapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulat, seringkali dipandang sebagai seekor binatang yang menjijikkan (teman saya malah bilang mengerikan) dan hidup dari memakan dedaunan di tanaman tempat dia hidup. Karena itu ulat kerap juga dicap sebagai ‘musuh’ bagi para pecinta tanaman. Dan jika sedang tidak beruntung, manusia akan membunuhnya karena kebiasaan makannya yang merusak. Apabila sang ulat tidak punya cukup kekuatan, seekor ulatpun akan binasa saat menjadi kepompong. Bila semua proses ini bisa dilewati, maka dari sebuah kepompong akan muncul sebentuk mahluk yang sama sekali berbeda dan jauh lebih menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang terjadi manakala manusia ‘campur tangan’ dalam proses alam ini? Dengan dalih membantu dalam mempercepat proses metamorfosis, manusia ‘membantu’ sang ulat dengan membuka kepompong yang didalamnya sudah terdapat sebentuk kupu-kupu. Yang terjadi justru sayapnya akan menjadi lemah dan tidak mampu terbang, karena proses didalamnyalah yang menjadikan kupu-kupu itu kuat. Kupu-kupu dengan keinginannya sendiri akan mencoba menggerak-gerakkan sayapnya agar kuat dan apabila memang sudah tiba waktunya dia akan merobek kepompong itu dan terbang keluar menyebarkan keindahan pada tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan kupu-kupu, kita manusia juga sebenarnya membutuhkan proses serupa untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik. Semua perubahan kebaikan itu akan menjadi semakin indah manakala keinginan untuk berubah lebih besar karena keinginan dari dalam diri. Perubahan manusia menjadi pribadi yang lebih baik tentu tidak semudah dan sejelas proses metamorfosa ulat tadi. Karena lamanya proses seekor ulat menjadi kupu-kupu merupakan hukum alam dan telah ditetapkan oleh Pencipta. Tetapi tidak demikian dengan manusia. Hanya kita sendirilah yang bisa menetapkan kapan kita mau berubah atau tidak. Dan kita jualah yang memiliki kekuasaan penuh mengenai keputusan apakah kita mau merasakan indahnya sebuah metamorfosa ataukah ingin tetap sebagai ulat yang hanya berdiam dalam kepompongnya yang nyaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan ’metamorfosa’ bagi kita dengan memberikan serangkaian kejadian-kejadian. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk memperbaiki dan menyempurnakan kita sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi dan rembulan di kala malam. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-420589784053781790?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/420589784053781790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=420589784053781790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/420589784053781790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/420589784053781790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2009/02/kepompong.html' title='Kepompong'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6366084974742675365</id><published>2009-02-01T22:48:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T22:49:26.310-08:00</updated><title type='text'>Ikan Sapu-Sapu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2 minggu lalu saya mengunjungi rumah salah seorang kerabat yang kebetulan rumahnya baru pindah di dekat komplek perumahan saya di Bekasi. Kerabat saya ini penggemar ikan jadi di rumahnya selalu ada kolam ikan (walau kecil) dan akuarium yang diletakkan di ruang tengah rumahnya. Ikannya pun macam-macam. Saat orang heboh dengan ikan Louhan, dibelinya beberapa jenis ikan itu. Saat orang ramai membicarakan ikan Koi, di kolamnya segera dapat kita lihat beberapa ekor ikan Koi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya datang, akuarium yang biasanya bersih saya lihat begitu kotor. Banyak lumut tumbuh di dinding kacanya. &lt;em&gt;“Ikan sapu-sapu ku mati Rif. Udah empat hari ini akuariumku nggak sempat dibersihkan”,&lt;/em&gt; ungkapnya saat itu. Bagi seorang penggemar ikan dan memiliki akuarium,seperti kerabat saya ini, ikan sapu-sapu berperan besar dalam membersihkan dan membebaskan kolam atau akuarium dari tempelan lumut. Dan bila begitu banyak lumut yang menempel di kaca, keindahan ikan yang ada didalam akuarium akan menjadi tak terlihat. Ikan sapu-sapu merupakan sejenis ikan yang makanannya adalah lumut yang tumbuh di kaca ataupun di batu-batuan di dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Hari Minggu pagi kemarin, saya kembali mengunjungi kerabat saya selepas jalan pagi bersama istri. Begitu masuk rumahnya, pandangan mata saya langsung tertuju ke akuarium yang ada di tengah ruangan. Ada yang sangat berbeda dengan akuarium itu sekarang. Warnanya tidak lagi semu hijau tapi berubah bening sehingga dengan mudah saya dapat melihat lenggak-lenggok ikan mas koki warna-warni yang berenang didalamnya. Anindya pun langsung mendekat untuk melihat dari dekat ikan-ikan yang menarik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara seliweran ikan warna-warni itu saya melihat sebuah bentuk yang semula saya pikir sebuah mainan ikan-ikanan karena benda itu hanya diam di pojok dan tidak bergerak sama sekali. Saat saya tanya, kerabat saya bilang karena ikan itulah akuarium nya menjadi bersih dan lebih indah. Sejak saat itulah saya baru tahu bentuk sebuah ikan sapu-sapu! Bentuknya tidak menarik dengan warna kulitnya yang hitam terkesan kasar dan harganyapun murah. Dari penampilan yang serba tidak menarik itu ternyata Tuhan memberikan ’tugas mulia’ kepada jenis ikan tersebut untuk memberikan andil yang besar bagi sebuah keindahan ikan hias untuk dapat dinikmati. Ikan koki yang cantik dan berwarna-warni itu menjadi semakin cantik karena kaca akuarium yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian berpikir betapa Maha kreatifnya Tuhan. DIA begitu cermat menciptakan semua mahluk di dunia dengan fungsinya masing-masing di dunia. Kita sebagai manusia seringkali melihat dan menilai seseorang dari penampilan fisik yang kita lihat. Bibir akan lebih mudah tersenyum saat melihat seorang bapak yang rapijali, necis dan wangi daripada seorang ibu dengan pakaian yang sederhana dengan membawa tas plastik. Manusia seringkali terjebak untuk menakar manusia lain dari apa yang terlihat melekat ditubuhnya, apa yang dia miliki dan ’predikat’ yang disandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan beberapa orang ’kecil’ yang seringkali saya jumpai, seperti petugas kebersihan yang setiap hari dengan tekun dan tanpa pernah mengeluh meskipun hujan dan panas, membersihkan lingkungan perumahan termasuk jalan di depan rumah saya yang seringkali kotor oleh daun yang berjatuhan selepas hujan semalam. Seorang tukang sampah yang terlihat kotor namun dengan cekatan dan tanpa sungkan dengan bau mengangkat sampah rumah tangga yang kami buang kemarin. Saya yakin, tanpa orang-orang tersebut hidup saya akan lebih repot karena harus mengurusi kotornya halaman dan menumpuknya sampah tak terangkut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sepatutnya kita menghargai setiap orang yang berada di sekitar kita dan terutama orang-orang yang kita sayangi. Ketika mereka masih ada, segalanya terasa biasa saja. Apa yg dilakukan mereka seolah-olah memang itu sudah kegiatan rutinnya. Padahal mungkin banyak keinginannya yg mereka korbankan demi kita. Mungkin mereka malah ikhlas untuk melupakan kebahagiannya sendiri demi kita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pertolongan dari Tuhan sering kali datang dari orang-orang yg tidak pernah kita sangka sebelumnya. Tuhan Maha Baik, tidak pernah membiarkan kita sendiri dalam kesulitan. Selalu dihadirkan orang-orang yg akan membantu kita, baik kita sadar atau tidak dengan keberadaan mereka.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6366084974742675365?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6366084974742675365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6366084974742675365' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6366084974742675365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6366084974742675365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2009/02/ikan-sapu-sapu.html' title='Ikan Sapu-Sapu'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3463608648121469538</id><published>2009-02-01T22:43:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T22:47:03.471-08:00</updated><title type='text'>Memahami Orang Lain</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Minggu lalu saya menunaikan janji saya kepada istri dan 2 putri saya untuk mengajak mereka berlibur ke luar kota dengan tujuan utama Yogya tempat tinggal orang tua saya. Mengingat perjalanan yang panjang saya memutuskan untuk singgah ke beberapa tempat untuk bermalam yaitu di Baturaden Purwokerto pada saat berangkat dan Cilacap serta Bandung pada saat pulang. Perjalanan kali ini saya rencanakan dengan teliti karena saya tidak mau membuang watu di perjalanan hanya untuk berdebat mengenai tempat yang hendak disinggahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis selama 6 hari kemarin saya tidak lepas dari keluarga saya dan ternyata banyak hal-hal baru yang saya lihat pada diri istri dan kedua putri saya. Saya baru sadari bahwa ternyata istri saya terlihat lebih cantik dengan potongan rambutnya yang baru (saat saya katakan hal ini dia langsung mencubit saya). Hal ini luput dari amatan saya karena pada tiap hari kerja waktu untuk bertemu sangat sedikit. Anindya putri sulung saya, kini semakin menyadari kehadiran Anindita adiknya sebagai sebuah ‘mainan baru’ untuk bisa dicubit, dipeluk dan diciumnya. Dan Anindita, sebagai anggota keluarga termuda (10 bulan) kini mulai mau membuka dirinya terhadap siapa saja dan terhadap apa saja yang dilihat dan dipegangnya. Perubahan-perubahan yang selama ini luput karena kesibukan pada hari-hari kerja saat itu benar-benar saya amati dan nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 6 hari meluangkan waktu bersama mereka saya menjadi dapat lebih memahami kebiasaan, kesenangan maupun ketidaksukaan masing-masing. Anindya misalnya, dia akan minta diantar ke kamar kecil untuk pipis sebelum tidur malam dan kalau kami makan ikan gurameh goreng dia seringkali memakan bagian sirip ikan yang garing seperti krupuk daripada bagian dagingnya. Anindita adiknya, apabila perutnya sudah cukup kenyang dia akan segera memonyongkan mulutnya sebagai tanda tidak mau lagi menerima asupan makanan atau susu dari botol. Apabila kita memaksakan juga dia akan dengan senang hati menyemburkan apapun yang masuk kedalam mulutnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Memahami orang lain adalah bagian penting dalam dalam menciptakan hubungan yang baik dengan orang-orang terdekat dan juga dalam kehidupan bersosialisasi dengan masyarakat . Ada banyak orang pandai tetapi dia tidak mampu memahami orang lain sehingga dengan kepandaiannya dia malah membuat orang lain kecewa, merasa disakiti, dan diremehkan. Memahami orang lain bukanlah perkara yang mudah, tapi juga tidak sulit bila kita mau untuk membuat diri kita paham akan tingkah laku dan kecenderungan orang lain. Ketika kita mencoba memahami orang lain, misalnya tidak tertawa jika teman sedang menangis, maka suatu ketika orang lain tidak akan mentertawai diri kita ketika kita mengalami kejadian seperti itu. Orang akan paham bahwa kita peduli terhadap nasib atau keadaan orang lain dan seperti teori psikologi bahwa setiap ada aksi maka akan timbul reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan saya bermaksud untuk menyenangkan hati istrinya dengan membelikan seporsi mie goreng kesukaannya dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Sesampainya di rumah istrinya membuka mie goreng itu dengan suka cita untuk dimakan bersama. Sejenak keriangan wajah istrinya surut saat melihat mie goreng dihadapannya. &lt;em&gt;“Mas, kok mie gorengnya pakai udang sih? Apa mas lupa kalau aku kan alergi dengan udang?”.&lt;/em&gt; Saat itulah teman saya itu sadar bahwa selama sekian tahun menikah ternyata dia tidak begitu memperhatikan dan memahami hal-hal kecil dari istrinya. &lt;em&gt;”Aku bingung mau jawab apa Rif, karena aku sendiri memang nggak ingat sama sekali dengan hal itu”,&lt;/em&gt; ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami orang lain apapun bentuknya dapat mendatangkan kemudahan. Seorang suami yang mengerti benar istrinya akan dengan mudah mendapatkan curahan cinta dan kasih setiap waktu. Seorang pimpinan akan dengan bisa lebih dekat dengan bawahannya dan begitu juga sebaliknya. Dan sebuah bank yang mampu memahami keinginan dan kebutuhan nasabahnya akan dapat dengan mudah mendapatkan kepercayaan nasabah untuk menyimpan uangnya di bank itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri masih terus mencari tahu apa yang menjadi kesenangan, kebiasaan, dan hal-hal lain dari istri dan putri-putri saya agar saya dapat lebih memahami mereka. Dan saya merasa proses ini sebagai sebuah ’petualangan’ yang menyenangkan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3463608648121469538?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3463608648121469538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3463608648121469538' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3463608648121469538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3463608648121469538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2009/02/memahami-orang-lain.html' title='Memahami Orang Lain'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8890726116337044762</id><published>2009-02-01T22:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T22:43:10.676-08:00</updated><title type='text'>Berbagi Kasih</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Istirahat saya di minggu siang itu terganggu oleh bunyi dering telepon. Ternyata saudara saya di Cilacap yang berada di ujung telepon. &lt;em&gt;“Mas, Bu Sastro tetangga kita di Cilacap yang punya warung meninggal kemarin,”&lt;/em&gt; ujarnya pelan. Saya berusaha mengingat-ingat karena sudah lama sekali saya tidak update dengan lingkungan saya dulu termasuk nama dan sosok mantan tetangga-tetangga saya. Mungkin karena prosesor di kepala saya membutuhkan waktu agak lama untuk mengingat, suara diseberang terdengar lagi. Kali ini dengan nada gemas: &lt;em&gt;“Itu lho masss.. yang anaknya dulu suka ngejar-ngejar layangan bareng mas di halaman SMP 3. Yang rumahnya dekat rel kereta api!”.&lt;/em&gt; Begitu mendengar penjelasan tersebut visual sosok Bu Sastro yang semula buram menjadi kian jelas. &lt;em&gt;“O’iya..iya, aku ingat. Innanillaihi….”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia mulai menceritakan ihwal musibah itu. &lt;em&gt;“Aku punya perasaan nggak enak mas dengan meninggalnya beliau”.&lt;/em&gt; Belum sempat saya menanyakan ketidak-enakan itu dia melanjutkan, &lt;em&gt;”Soalnya terakhir kali aku ketemu dia sekitar minggu lalu aku agak judes dan membentak pada beliau. Soalnya aku sebal saat beliau layani aku di warung dia lebih sering ngobrol dengan pembeli lain. Karena itu aku jadi tambah lama dilayani padahal waktu itu aku sedang buru-buru. Nah kemarin tuh rencananya aku mau minta maaf karena aku jadi merasa bersalah karena sudah berkata ketus pada beliau tempo hari. Ehhh..tadi pagi aku dikasih tahu kalau beliau meninggal karena jantung. Lemes aku mas..aku jadi makin nggak enak hati karena nggak sempat minta maaf..”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Manusia berkehendak, Tuhan memutuskan”,&lt;/em&gt; begitu sebuah kata bijak yang saya pernah baca dalam sebuah buku. Terutama dalam soal kematian, tuntasnya kehidupan duniawi seseorang merupakan sebuah kuasa Yang Maha Memutuskan. Banyak kita dengar kepergian yang tiba-tiba. Seseorang yang paginya masih ngobrol dengan kita dan begitu siang menjelang kita mendengar kabar bahwa dia telah berpulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu berharap meninggalkan kebaikan kepada semua orang yang pernah mengenal kita. Kita juga ingin setiap orang yang datang menunjukkan kedukaan di tempat pembaringan kita yang terakhir selalu mengenang pengalaman manis saat terakhir bertemu dengan kita. Orang-orang menangis karena mereka akan rindu terhadap kebaikan yang selalu kita berikan kepada mereka. Mereka juga tersenyum ketika mengingat kembali saat-saat kebaikan mereka terima dari kita, walau itu hanya sebentuk senyuman. Mereka akan rindu akan kasih yang selalu kita tebarkan ke orang-orang sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan baik apapun bentuknya tidak akan pernah sia-sia karena akan berdampak mendamaikan hati siapapun yang melakukan dan menerimanya. Kadangkala kebaikan kita dibalas dengan kenyataan yang menyakitkan dan ini adalah sebuah ujian kebaikan. Apabila kita menerimanya dengan ikhlas, Insya Allah dalam waktu dekat kebaikan itu akan Allah balaskan dengan kebaikan yang berlipat kadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah waktu mengekang dan mengatur kapan kita untuk berbuat baik dan menebarkan kasih. Berbuat baik dan menebarkan kasih tidaklah selalu dengan sebuah sikap yang demonstratif. Sebuah senyuman merupakan perwujudan kasih dan salah satu hadiah terindah untuk siapapun. Kasih bisa juga kita tebarkan saat kita khusyuk berdoa dengan melafalkan harapan kebaikan untuk siapapun yang anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah waktu membatasi kita untuk berbagi kasih karena kita tidak tahu kapan saat Tuhan meminta kita untuk pergi. Dan sebelum semua itu terjadi pastikanlah bahwa kita selalu memberikan kebaikan setiap waktu dan saat bertemu dengan siapapun. Tutuplah hari dengan kebaikan, seolah-olah Tuhan akan memanggil kita kembali pada-Nya esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SELAMAT HARI NATAL 2009&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Semoga Kasih Natal selalu bersemayam dalam hati kita&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8890726116337044762?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8890726116337044762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8890726116337044762' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8890726116337044762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8890726116337044762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2009/02/berbagi-kasih.html' title='Berbagi Kasih'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8590565813022534269</id><published>2009-02-01T22:38:00.000-08:00</published><updated>2009-02-01T22:40:36.441-08:00</updated><title type='text'>Menunda</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;“Selamat Tahun Baru ya Mas, Semoga tahun 2009 makin sukses deh!..mas aku mau ajak mas dan keluarga jalan-jalan ke Bogor nih, mau nggak?”&lt;/em&gt; suara riang dari kerabat saya siang itu membuat kegiatan bersih-bersih rumah menjadi sedikit terusik. &lt;em&gt;“Wah maaf dek, saya sedang bersih-bersih rumah, mumpung hari libur”,&lt;/em&gt; jawab saya menolak ajakannya. &lt;em&gt;“Udah lah, bersih-bersih kan bisa aja dilakukan besok-besok hari, kan masih lama liburnyaa..”&lt;/em&gt; ujarnya lagi dengan kenes.Tapi tetap saja saya menolak dengan halus karena saya sudah merencanakan untuk bersih-bersih rumah ini sejak lama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin anda sama seperti saya, sering mendapat ajakan dan bujukan untuk menunda dan meninggalkan apa yang sedang kita kerjakan untuk melakukan hal lain yang sama sekali berbeda. Menurut Anthony Robins, ada 2 penyebab kenapa kita menunda melakukan sesuatu. Yaitu bahwa secara alamiah manusia akan selalu tergerak untuk menghindari hal yang tidak menyenangkan (pain) dan selalu mengharapkan kesenangan (pleasure). Dan inilah yang terjadi saat kita menunda sesuatu (pekerjaan) ketimbang menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana seperti berikut. Sebagai seorang Salesman, anda ditargetkan menelpon prospek nasabah minimal 100 orang per minggu. Tetapi anda justru memilih untuk menundanya. Dalam fikiran anda (mungkin) terbersit rasa ragu sekiranya prospek nasabah tersebut akan menolak penawaran anda, nasabah susah untuk dihubungi, anda merasa tidak PeDe dll. Anda kemudian lebih memfokuskan energi diri ke hal-hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan kegiatan mencari prospek nasabah. Misal, rencana kumpul rutin dengan teman-teman, kegiatan kencan anda akhir minggu, dll.  Dengan menunda menelepon prospek nasabah, diri anda mendapatkan kesenangan semu. Akibatnya menjelang weekend, kejar tayang pun dilakukan dengan menelpon puluhan prospek nasabah yang menjadi target hanya dalam 1 hari terakhir. Kadang hal ini diperburuk, ketika pada hari itu anda harus juga menyelesaikan tambahan pekerjaan penting yang diberikan mendadak oleh atasan. Akibatnya bisa ditebak, selama menelepon prospek anda akan terburu-buru, tidak focus selama interaksi dan pekerjaan yang diberikan oleh atasan anda bisa jadi tidak juga rampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunda sesuatu, sederhana tapi bisa berakibat buruk. Sudah tahu bayar kartu kredit setiap tanggal 5 setiap bulan, &lt;em&gt;“Ah masih tgl 28, masih lama, pakai aja dulu uangnya“,&lt;/em&gt; begitu biasanya kita berpikir. Sampai akhirnya lupa dan baru ingat setelah tanggal 5, barulah kita sibuk cari ATM untuk cepat-cepat bayar. Bahkan seringkali kita baru ingat setelah ditelepon oleh pihak bank.&lt;br /&gt;Suka tidak suka, kebiasaan menunda pekerjaan sekalipun kecil merupakan kebiasaan buruk. Kita tidak hanya akan menghambat diri tapi juga bisa merugikan orang lain. Bayangkan bila seorang staf IT menunda pekerjaan untuk memperbaiki system kantor atau komputer rekan kerja lain yang rusak. Penundaan pekerjaan yang dilakukan tidak hanya merugikan diri sendiri (karena pekerjaan lain akan menumpuk) juga berdampak merugikan kepada perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunda sesuatu, pada banyak hal menghambat kemajuan. Harusnya pekerjaan bisa selesai hari ini, jadinya besok atau besoknya lagi. Kalau gajian ditunda tentu kita akan protes dan pasti tidak mau, tapi kalau menunda pekerjaan seringkali masih saja kita lakukan. Kalau kita ingin sukses, tentu kita harus membiasakan untuk tidak menunda. Kerjakan yang bisa dilakukan pada hari ini, Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Sekecil apapun yang kita lakukan, akan sangat berguna untuk kemajuan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan menunda seperti itu mungkin masih banyak terjadi pada kita. Kesempatan yang datang kita lewatkan, kita mengira besok akan ada kesempatan yang lebih bagus lagi. Begitu seterusnya setiap ada kesempatan kita lewatkan. Akhirnya kita nggak akan pernah mengambil satupun peluang, kita nggak melakukan apapun, sampai akhirnya kita menyadari telah begitu banyak membuang kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan penyebab dari kegagalan adalah karena kebiasaan menunda. Ayo kawan, jangan pernah menunda pekerjaan jika bisa kita lakukan saat ini juga!...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8590565813022534269?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8590565813022534269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8590565813022534269' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8590565813022534269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8590565813022534269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2009/02/menunda.html' title='Menunda'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3058097209758738497</id><published>2008-08-29T20:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T20:16:22.232-07:00</updated><title type='text'>Sadar Setiap Waktu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perjalanan berangkat dan pulang kantor bagi saya merupakan hal yang mengasyikkan. Malam itu KRL Bekasi Ekspress (seperti biasa) terlambat datang di Stasiun Kota. Karena jarak waktu antara KRL Bekasi jadwal sebelumnya berangkat cukup jauh maka KRL Bekasi yang terakhir ini penumpangnya menjadi lebih banyak dari biasanya. Begitu kereta datang dan berhenti, sekian ratus orang berebut naik agar bisa mendapatkan tempat duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua penumpang naik ternyata kereta tidak langsung berangkat. Saat itu seorang ibu terdengar berkeluh kesah kepada ibu di sebelahnya. &lt;em&gt;“Aduuhh, kok nggak berangkat juga nih kreta, nunggu apa lagi sih? Bakal kemalaman lagi nih sampai rumah”.&lt;/em&gt; Ibu yang disebelahnya  bergumam sesuatu dan mengangguk mengiyakan. Berdiri di seberang saya ada seorang perempuan muda kelihatan gelisah dan sebentar-sebentar melihat ke arah jamnya menunjukkan ketidak sabaran. Ternyata dalam gerbong itu cukup banyak wajah-wajah berkerut menandakan kekesalan dan kegelisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba berpikir sederhana saja, apakah dengan mengomel, bersungut-sungut atau marah dapat menyebabkan kereta bisa berjalan? Atau kereta akan sampai tepat waktu? Tentu saja tidak, karena keterlambatan itu berada diluar kemampuan penumpang. Kalau begitu, untuk apa kita melakukan itu semua kalau memang tidak ada pengaruhnya apa-apa? Yang pasti ada pengaruhnya adalah pada diri kita sendiri. Dengan menggerundel dan bersungut-sungut malah akan menyulut rasa gelisah. Dan dengan pikiran yang gelisah, kita tidak akan dapat menikmati waktu. Padahal salah satu kunci hidup bahagia adalah kemampuan untuk menikmati setiap detik kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang merasa stress atau tertekan di banyak hal dalam kehidupan. Hal ini bisa terjadi salah satunya adalah karena kita tidak bisa menikmati setiap hal yang kita lakukan. Hal yang selalu saya lakukan selain membaca buku/ majalah saat menunggu kereta datang atau selama dalam perjalanan adalah memperhatikan kerumunan dan keriuhan orang yang lalu lalang di sekitar saya. Bila melihat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari saya dari segi materi dan fisik, saya akan bersyukur. Saya mencurahkan perhatian dan energi untuk saat itu, saat saya duduk dan mengamati sekitar. Saya tidak mencoba mengalihkan energi saya untuk memikirkan kereta yang entah ada dimana, atau rencana setelah sampai rumah mau ngapain atau kejadian-kejadian yang saya alami di kantor siang tadi. Dengan melakukan itu saya dapat menikmati setiap detik yang saya lewati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menikmati hidup kalau kita berkonsentrasi ke masa kini. Seorang bijak pernah berkata, bahwa ada dua hari dalam hidup ini yang sama sekali tak perlu kita khawatirkan. Yang pertama; &lt;em&gt;hari kemarin&lt;/em&gt;. Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi, tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan, tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang pernah kita rasakan kemarin. Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah: &lt;em&gt;hari esok&lt;/em&gt;. Hingga mentari esok hari terbit, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Selalu mengingat masa depan juga dapat membuat kenikmatan hidup kita berkurang. Kita senantiasa dirundung kecemasan akan masa depan yang belum datang. Target yang kita tetapkan seringkali membuat kita gelisah. Padahal seperti halnya dengan masa lalu, masa depan juga berada diluar kontrol kita. Yang berada dalam kontrol kita adalah proses menuju masa depan. Proses inilah yang kita jalani dan hadapi sekarang dari hari ke hari. Dan tugas kita adalah menjalankan dan menikmati proses itu setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tersisa kini hanyalah &lt;em&gt;hari ini&lt;/em&gt;. Pintu masa lalu telah tertutup; pintu masa depan pun belum tiba. Pusatkan saja diri kita untuk hanya hari ini. Kita akan dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan hari esok. Tingkatkan kesadaran terhadap apapun yang kita lakukan dan hadapi. Lakukan apapun yang kita kerjakan dengan sepenuh hati dan curahan energi agar hari ini dapat kita lalui lebih baik dari hari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati perjalanan malam itu ke stasiun akhir Bekasi saya mendengarkan sebuah lagu lama yang dinyanyikan oleh Gito Rollies melalui HP saya,” &lt;em&gt;Hari ini punya hari ini/ Hari esok itu soal nanti/ Bergembiralah/ Berbahagialah/ Nikmatilah hidup ini..&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3058097209758738497?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3058097209758738497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3058097209758738497' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3058097209758738497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3058097209758738497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/08/sadar-setiap-waktu.html' title='Sadar Setiap Waktu'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-1118645727817361513</id><published>2008-08-29T20:11:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T20:13:13.575-07:00</updated><title type='text'>Mendengarkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;“Kamu sih kalau dibilangin suka susah, makanya sekali-kali dengerin dong kalau orang ngomong. Aku nggak mau beurusan lagi denganmu, capek!”.&lt;/em&gt; Suara perempuan muda itu jelas sekali saya tangkap karena posisi berdiri dia di dalam gerbong KRL AC Bekasi itu berdekatan dengan saya. Entah sadar atau tidak segala kata yang keluar saat bercakap melalui ponsel itu terdengar oleh kami, penumpang lain disekitarnya. Beberapa penumpang menoleh heran sekaligus geli kearah perempuan muda itu. Dari intonasi dan ekspresi wajahnya selama bertelepon kelihatan sekali perempuan muda itu sedang mendung hatinya. Dan saya yakin orang-orang yang mendengar percakapan itu memiliki ‘skenario’ sendiri mengenai apa kira-kira masalah yang dihadapi perempuan muda itu. Begitu juga saya, dari percakapan yang terdengar kelihatannya si lawan bicara perempuan muda itu jarang mau mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan, kelihatannya sepele untuk dilakukan namun percaya atau tidak hanya karena masalah (yang kita anggap) sepele itu banyak permasalahan kecil menjadi besar, kesepahaman menjadi perselisihan dan persaudaraan menjadi permusuhan. Kenapa? Karena lebih banyak orang cenderung lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Buktinya, banyak sekali kursus-kursus yang mengasah manusia bagaimana menjadi seorang ‘pembicara’ yang baik, namun jarang sekali kita menjumpai kursus yang mengajarkan bagaimana menjadi ‘pendengar’ yang baik. “Lha wong dari bayi kita juga udah bisa dengar kok mas, ngapain diajarain lagi?” begitu teman saya pernah bilang. Mendengarkan kita anggap sebagai kebisaan yang otomatis kita miliki bahkan saat kita belum lahir kedunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Allah sudah memberikan isyarat kepada kita melalui apa yang kita miliki. Allah menciptakan manusia dengan 2 telinga dan satu mulut karena kita diminta untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Telinga juga berbentuk terbuka sedangkan mulut tertutup, hal ini menunjukkan bahwa kita senantiasa membuka telinga untuk mendengar dan menahan diri menutup mulut untuk tidak banyak berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa kita rasanya masih juga sulit untuk mendengarkan ya? Mungkin yang sering saya alami dan lakukan ini merupakan salah satu penyebabnya. Saat istri saya menyampaikan sesuatu dan kebetulan saya tahu penyebab dan cara mengatasinya, saya cenderung tidak sabar untuk segera memberikan jawaban. Bahkan pernah suatu kali saya menyela saat istri saya belum selesai berbicara. Alhasil, bukannya istri saya berterima kasih karena jawaban dan jalan keluar yang saya berikan, dia malah cemberut. Hal ini mungkin juga sering anda temui atau malah anda lakukan. Coba lihat perilaku kita pada saat rapat, peserta rapat yang sudah tahu permasalahan atau jalan keluar dari suatu masalah akan cenderung menimpali dengan cepat bahkan memotong pembicaraan pihak lain yang belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bawa anak saya ke dokter spesialis anak di dekat rumah. Baru saja saya duduk dan mengatakan bahwa demam anak saya tinggi dan tidak turun-turun, sang dokter langsung menukas&lt;em&gt;..”Oohh, ini pasti virus pak, memang lagi musim nih!”.&lt;/em&gt; Bagaimana dia bisa yakin kalau itu virus sedangkan saya hanya baru mengatakan satu gejala saja dari sakit anak saya, bagaimana kalau ternyata disebabkan oleh hal lain?. Dokter itu merespon cepat dengan menyatakan bahwa itu disebabkan virus karena banyak kejadian yang mirip dengan anak saya penyebabnya adalah virus. Pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki kadang membuat kita menjadi enggan mendengarkan sesuatu yang dinyatakan dan ditanyakan berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan yang sebenar ”mendengarkan” menjadi sulit karena kita sering menganggap bahwa mendengarkan bisa dilakukan sambil lalu. Bawahan anda berbicara kepada anda mengenai permasalahan yang dialami dalam pekerjaan. Anda mendengarkan, tapi seringkali mata anda menatap tangan anda yang sedang asyik mengetik sms di ponsel untuk janjian makan siang dan supaya terkesan mendengarkan anda akan bersuara&lt;em&gt;..”hmm.., ya..,..terus?...ya udah”.&lt;/em&gt; Bagaimana bawahan anda yakin kalau anda mendengarkan kalau mata anda lebih sering melihat ke sms daripada melihat mata mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan dengan baik dapat meningkatkan hubungan antar manusia. Bahkan sebuah pepatah kuno mengatakan &lt;em&gt;”Bila seorang pria mendengarkan dengan seksama apapun yang dikatakan seorang wanita, wanita itu sudah setengah jatuh cinta kepada pria itu”.&lt;/em&gt;  Mendengarkan dengan sepenuh hati merupakan ujud penghormatan dan menganggap penting lawan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang tentu ingin suaranya didengar dan agar orang lain mau mendengarkan omongan kita, pertama kali yang harus kita lakukan adalah: &lt;em&gt;belajar untuk mendengarkan&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-1118645727817361513?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/1118645727817361513/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=1118645727817361513' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1118645727817361513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1118645727817361513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/08/mendengarkan.html' title='Mendengarkan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5487104281375013240</id><published>2008-08-29T20:06:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T20:10:56.303-07:00</updated><title type='text'>Apa dan bukan Kenapa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sabtu pagi itu tiba-tiba saja istri saya masuk rumah sambil uring-uringan. &lt;em&gt;“Duhh sebelnya! Tetangga sebelah nyiram jalan pakai air got lagi tuh, apa nggak tahu ya kalau bau-nya kemana-mana?” &lt;/em&gt;ujarnya geram. &lt;em&gt;“Kenapa sih kok nyiramnya selalu pagi-pagi dan kenapa juga nyiramnya selalu mengarah ke depan rumah kita, kenapa nggak ke tetangga sebelah kirinya? Apa memang dia tidak suka dengan kita ya?”.&lt;/em&gt; Saya yang sedang asyik minum kopi dan membaca Koran sempat bingung dengan ‘serangan’ gerutuan pagi itu. Memang sih saya juga mulai mencium bau tidak enak dari arah jalan, dan dengan adanya gerutuan istri saya jadi mengerti penyebabnya. Kejadian ini bukan hanya kali ini saja dilakukan tapi sudah berulangkali. Akhirnya kegiatan membaca saya hentikan dan mencoba menenangkan istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak sadar respon kita saat menemui masalah atau musibah adalah pertanyaan ‘Kenapa’. Kenapa mesti terjadi pada saya? Kenapa harus mengalami ini dan itu dan sebagainya. Saat saya di luar kota dan mendengar kabar bahwa mobil saya diserempet truk di jalan tol dan rusak parah, kata pertama yang terucap juga ‘Kenapa’. Kenapa mesti mobil saya yang diserempet? Padahal begitu banyak mobil di jalan yang macet itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon ‘Kenapa’ terdengar wajar ya dan mungkin sebagian besar dari anda (termasuk saya) juga masih suka mengucapkan kata tanya itu. Coba kita pikirkan dan rasakan sekali lagi. Pada saat kita mepertanyakan sebuah kejadian dengan kata ’Kenapa’, pikiran kita akan diajak untuk berputar-putar pada masalah itu dan menjebak kita dengan sebuah rasa sesal dan penyesalan yang tidak berkesudahan. Seringkali pertanyaan ’Kenapa’ ini bisa menjadi berkembang sampai akhirnya tidak memiliki relevansi dengan kejadian semula. Misalnya saat mobil saya diserempet oleh truk malam itu. Kenapa mobil saya yang diserempet?, Kenapa bukan mobil yang ada di belakang atau di depan saya?, Apa yang sudah saya perbuat kepada orang lain sehingga saya mendapatkan musibah ini? Apa dosa yang telah saya perbuat? Dll. Pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak jelas arahnya ini malah membuat kita menjadi semakin gelisah sedangkan masalahnya sudah berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda sekali apabila respon yang kita tunjukkan saat mengalami sebuah musibah dengan kata ”Apa”. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya untuk menghadapai masalah ini? Kata ”Apa” yang kita ucapkan akan memicu pikiran kita bekerja untuk menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Kata ”Kenapa” cenderung berorientasi ke masa lalu sedangkan kata ”Apa” berasosiasi dengan masa depan sesuai dengan kodrat manusia bahwa hidup selalu berjalan ke depan. Seseorang yang hidupnya seringkali memikirkan masa lalu seperti seseorang yang berjalan dengan membawa ransel penuh batu. Batu-batu itulah perlambang masalah-masalah masa lalu yang dibawa dan menjadi beban selama jalan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah masa lalu bisa kita anggap selesai karena betapapun menyakitkan ataupun merugikan toh hal itu sudah terjadi dan apapun yang sudah terjadi ya kita anggap selesai dan tak akan pernah kembali lagi walau kita memikirkan dan meratapinya terus menerus. Masa lalu tidak menentukan masa depan kita, tetapi yang menentukan adalah apa yang kita perbuat sekarang ini.Melupakan masa lalu bukan berarti tidak mengingatnya lagi. Sebagai manusia normal tentu saja kita mengingat masa lalu kita. Melupakan masa lalu artinya kita tidak lagi dipengaruhi oleh masa lalu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah buku yang saya baca ada sebuah doa yang sebaiknya seringkali kita panjatkan agar kita dapat hidup lebih tenag di masa sekarang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pertama, &lt;em&gt;Ya Allah berikan aku keberanian untuk  bisa mengubah apa yang bisa aku ubah&lt;/em&gt;. Kedua, &lt;em&gt;Ya Allah berikan ketenangan kepadaku untuk dapat menerima apa-apa yang tak dapat aku ubah. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan yang ketiga, &lt;em&gt;Ya Allah berikanlah padaku kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hal ini penting karena kita seringkali tidak dapat membedakan mana hal-hal yang dapat kita ubah dan mana yang tidak. Kita seringkali memikirkan hal-hal yang tak dapat kita ubah, misalnya mengenang masa lalu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Padahal namanya saja masa lalu. Ia sudah berlalu, sudah selesai.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5487104281375013240?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5487104281375013240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5487104281375013240' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5487104281375013240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5487104281375013240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/08/apa-dan-bukan-kenapa.html' title='Apa dan bukan Kenapa'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6555379426409969627</id><published>2008-08-29T19:55:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T19:57:22.636-07:00</updated><title type='text'>Investasi Kebaikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Beberapa minggu belakangan HP saya seringkali berdering dan si penelepon selalu menawarkan beberapa produk investasi dengan iming-iming return yang bagus bahkan ada yang terdengar fantastis. Karena memang pada dasarnya saya tipe orang yang ‘konvensional’ dalam soal investasi, penawaran menggiurkan itu selalu saja saya tampik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi menurut pengertian secara umum diartikan sebagai ‘pengorbanan’ dimasa sekarang untuk mendapatkan sesuatu (baca: keuntungan) dimasa datang dengan harapan yang lebih baik. Atau dalam bahasa yang ilmiah investasi merupakan komitmen untuk mengikatkan aset saat ini untuk beberapa periode waktu ke masa depan guna mendapatkan hasil yang mampu mengkompensasikan pengorbanannya. ‘Pengorbanan’ dalam hal ini berarti kita merelakan sebagian dari materi kita keluarkan untuk keuntungan di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau untuk investasi materi banyak dari kita getol melakukannya bahkan mungkin untuk beberapa instrumen investasi seperti saham, asuransi dll. Tapi apakah anda pernah berfikir juga untuk ber-investasi bukan saja untuk masa depan tapi lebih jauh lagi: kehidupan setelah kehidupan yang kita jalani sekarang. Investasi jenis ini tidak menyertakan materi di dalamnya tapi membutuhkan keikhlasan dalam pelaksanaannya: investasi pada kebaikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Berbuat kebaikan adalah investasi yang &lt;em&gt;return&lt;/em&gt;-nya bisa dalam waktu dekat atau di masa mendatang. Bahkan bisa lintas generasi yang terjadi sekian puluh tahun kemudian. Tak ada satu kebaikan pun yang dilepaskan akan menjadi sia-sia. Mungkin saja kebaikan yang kita lakukan seolah-olah nampak sia-sia bagi pandangan orang lain, tapi yakinlah bahwa itu tidak sia-sia bagi Allah. Bahkan hal ini secara tegas dijamin oleh Allah sebagaimana telah disampaikan dalam kitab suci-Nya bahwa Tuhan akan menggandakan berlipat-lipat, kepada setiap manusia yang melepaskan kebaikan dengan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang rekan saya di SQUAD minggu lalu menerima kiriman paket di rumahnya. Bungkusan itu dikirim dengan tanpa tercantum nama si pengirim. Setelah paket dibuka isinya ternyata dompetnya yang hilang 4 bulan yang lalu dan anehnya lagi tidak ada selembarpun dokumen atau uang yang hilang dari dompet itu! Luar biasa! Teman saya ingin sekali mengucapkan terima kasih tapi tidak tahu harus berterima kasih kepada siapa. Yang bisa dilakukan adalah menulis surat pembaca di surat kabar dan menyatakan terima kasih kepada siapapun yang telah berbuat mulia dengan mengembalikan dompet itu utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya berfikir ini adalah salah satu bukti bahwa investasi kebaikan apapun yang telah dilakukan oleh teman saya salah satunya telah berbuah minggu lalu, dirinya menerima kembali kebaikan dari seseorang yang tidak dia ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya meskipun seringkali kita diperlihatkan bukti-bukti yang diberikan kehidupan kepada mereka yang banyak melakukan kebaikan, masih saja banyak orang senang menunda-nunda untuk melakukan kebaikan. Mengapa demikian ? Hal ini disebabkan oleh banyaknya godaan, baik dari dalam diri kita sendiri, maupun dari lingkungan sekitar. Godaan ini kerap kali membuat orang yang hendak berbuat baik terhalang, menunda, hingga akhirnya tidak sempat berbuat baik. Padahal menunda kebaikan berarti membuang waktu, usia dan kesempatan mulia yang telah diberikan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu-pintu untuk meraih kebaikan itu sesungguhnya sangat banyak dan tersebar dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan mulai dari yang sangat sederhana sampai dengan yang lebih tinggi nilainya, terbuka lebar bagi siapa saja yang bersedia menjemputnya. Diantaranya adalah memberikan senyuman dan menyapa orang lain, bertutur kata baik, ikhlas membantu dll. Semua hal-hal sederhana itu termasuk pintu-pintu kebaikan. Pintu-pintu kebaikan seperti ini kalau kita lakukan dengan keikhlasan merupakan sebuah potensi investasi yang pasti akan dikembalikan kepada kita dengan jumlah berlipat. Hal itu semua merupakan potensi untuk menjaga kejernihan suara hati, sehingga cahayanya dapat memancar dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang telah melakukan tindakan-tindakan positif dan kebaikan bagi sesama akan merasakan “buah”nya seketika itu dalam jiwa, akhlak, dan hati nuraninya. Sehingga hatinya akan terjaga kejernihannya. Hidup akan terasa lebih mudah, tenang, tenteram dan damai di hati. Bukankah itu yang kita cari dalam kehidupan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6555379426409969627?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6555379426409969627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6555379426409969627' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6555379426409969627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6555379426409969627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/08/investasi-kebaikan.html' title='Investasi Kebaikan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3266543812527193257</id><published>2008-08-29T19:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T19:53:20.956-07:00</updated><title type='text'>Jasa Marga</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hal yang paling saya khawatirkan pada saat mengendarai mobil di jalan tol adalah apabila ban mobil bocor atau pecah karena hal ini sangat membahayakan. Dan hal inilah yang terjadi pada saya beberapa waktu lalu saat saya berada di atas Jalan Tol Priok Jakarta. Siang itu saat melintas diatas Jatinegara saya merasa bahwa mobil saya mulai oleng dan selang beberapa detik kemudian mobil mulai tidak stabil dan seketika saya sadar bahwa ban belakang mobil saya bocor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan siang itu lalu lintas di jalan tol tersebut tidak ramai dan segera saya arahkan mobil ke tepi. Saat saya mengambil perkakas untuk mengganti ban, di belakang saya berhenti sebuah mobil patroli Jasa Marga dengan lampu hazard menyala. Kemudian seorang dari mereka mendatangi saya dan setelah menyapa dia langsung ikut membantu mengganti ban depan saya yang pecah. Sebenarnya saat itu praktis saya tidak ikut mengganti ban yang pecah tersebut karena petugas tersebut mengambil alih dan dengan cekatan dia mengganti ban saya dengan ban serep. Dalam kisaran 5 menit pekerjaan itu sudah selesai dilakukan. Selama pekerjaan mengganti ban itu berlangsung, petugas lain berdiri di samping mobil dan memberikan tanda untuk mobil lain yang melintas agar berhati-hati. Semua pekerjaan itu dilakukan dengan cekatan, sistematik dan rapi. Kedua petugas jasa marga tersebut sudah tahu betul apa yang harus mereka lakukan apabila ada kejadian seperti yang saya alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya ingin sekedar memberikan imbalan atas jasanya, dengan ramah dia menolak pemberian itu dan mengatakan bahwa hal itu sudah bagian dari pekerjaan dan tanggung jawab mereka. Saat saya kembali masuk kedalam mobil, saya lihat petugas tersebut masih berdiri di belakang mobil sambil memberi arahan kepada mobil yang lewat agar berhati-hati. Sampai akhirnya petugas tersebut mempersilahkan saya jalan ketika jalan sudah aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditunjukkan oleh kedua petugas Jasa Marga tadi adalah sebuah bentuk Layanan yang baik. Layanan bukan hanya “bersikap ramah terhadap pelanggan” tapi lebih besar daripada itu. Layanan yang baik juga meliputi ketrampilan dan pengetahuan (product knowledge) si pemberi service. “Bersikap ramah” merupakan perwujudan sikap yang menyamankan hati pelanggan namun sikap yang menyenangkan saja tidaklah cukup tanpa disertai dengan kecekatan dalam melakukan pekerjaan dan kemampuan dalam memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pelanggan dengan benar dan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang rekan saya pernah mengeluh kepada saya terhadap pelayanan sebuah bank negeri dimana dia pernah menjadi nasabah. &lt;em&gt;“CS-nya ok banget, penampilannya menarik senyumnya menawan dan tutur katanya juga halus. Tapi sewaktu ditanya mengenai beberapa produk baru bank itu, dia kayaknya nggak begitu percaya diri dalam menjelaskan bahkan beberapa kali dia tanya sama supervisor-nya. Lha bagaimana bisa meyakinkan calon nasabah kalau dia sendiri nggak yakin dengan informasi yang mau disampaikan ke calon nasabah?”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain pernah saya temui di salah sebuah kantor Capem. Kebetulan saat itu nasabah yang mengantri di Capem ini cukup banyak. Saya langsung duduk di kursi depan CS tersebut karena dia tidak mempersilahkan saya duduk. Dan dengan (tetap) sambil bersandar dia berkata,&lt;em&gt;”Ada yang bisa saya bantu, Pak?”&lt;/em&gt;. Melihat sikapnya saya hanya senyum saja karena antara sikap dan ucapannya tidak sejalan. Ucapannya menyatakan ingin membantu tapi sikap badannya (bersandar) menyiratkan bahwa dia tidak mau membantu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layanan bukan saja sebuah senyum yang ramah dan tutur kata yang lembut. Sebaik apapun senyum anda seramah apapun sikap anda, pelanggan akan menciut hatinya ketika anda tidak bisa menjawab dengan baik saat mereka bertanya atau anda terlihat tidak yakin dengan jawaban anda atau anda tidak terlihat cakap dalam bekerja.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3266543812527193257?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3266543812527193257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3266543812527193257' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3266543812527193257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3266543812527193257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/08/jasa-marga.html' title='Jasa Marga'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6351837839949403065</id><published>2008-08-29T19:44:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T19:49:06.901-07:00</updated><title type='text'>Pujian</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di dalam gerbong KRL AC Bekasi saat perjalanan pulang kantor, saya duduk dekat dengan sekumpulan ibu-ibu yang kalau dilihat dari barang bawaannya menunjukkan mereka pulang dari berbelanja. &lt;em&gt;“Mbakyu jadi kelihatan tambah muda dan segar lho kalau pakai kerudung warna biru itu,” &lt;/em&gt;ujar salah seorang ibu. Dari cara dan tekanan suara ibu tersebut saya yakin kalau hal itu diucapkan dengan sungguh-sungguh. Si ibu yang berkerudung warna biru muda tadi tersipu-sipu sambil menyahut&lt;em&gt;,” Ah, jeng ini ada-ada saja, masak sih? Salah lihat kaliii..”. “Mmm tumben muji, mesti ada apa-apanya tuuhh,” &lt;/em&gt;timpal seorang ibu gemuk dengan tas belanjaan paling banyak. Kemudian mereka serempak tertawa, entah siapa dan apa yang ditertawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang sedari tadi (terpaksa) mendengarkan obrolan mereka menjadi berpikir dengan isi percakapan terakhir itu. Saya rasa anda semua juga sering mendengar obrolan seperti itu dan bahkan mungkin kita sering melakukannya juga. Tapi kalau dicermati percakapan itu ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Seseorang yang dipuji semestinya akan merasa senang karena sesuatu yang baik tentang dirinya diketahui orang lain dan dinyatakan secara terbuka. Apalagi kalau pujian tersebut memang dilakukan dengan keikhlasan. Tapi yang terjadi kok malah bisa sebaliknya, si ibu tadi berbalik mempertanyakan pujian kepada dirinya itu dan terkesan seolah memberikan ”penyangkalan” dan malah ”menyalahkan” si pemberi pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voltaire, seorang pujangga besar, pernah mengatakan hal yang menarik tentang pujian. menurutnya &lt;em&gt;"pujian adalah hal yang indah, pujian membuat yang terbaik pada diri orang lain menjadi bagian dari diri kita pula".&lt;/em&gt; Sayangnya, pujian adalah seperti barang langka dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita perhatikan, ketika dipuji, kebanyakan wajah orang kita bersemu merah dan merespon seperti salah seorang ibu di dalam kereta tadi atau malahan ada yang kalau dipuji dengan tulus malah membalas pujian dengan ketus &lt;em&gt;"Mau menjilat saya dengan kata-kata pujian yaaa?",&lt;/em&gt; bayangkan betapa lemahnya penghargaan kita terhadap pujian, bahkan sebagai pihak penerima pujian pun kita masih sulit menerima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati. Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak pemimpin yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi oleh uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja. Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat ketika masih kelas 3 SMA di Pontianak saya mendapat ranking 2 di kelas. Saya bangga sekali dengan prestasi tersebut karena saya adalah murid baru di sekolah itu. Tetapi ketika raport saya berikan kepada ayah saya, diluar harapan, Beliau tidak mengomentari prestasi, malah berkomentar mengenai ”kekurangan” saya, &lt;em&gt;"Wah nilai pelajaran bahasanya cuma 7 ya Rif?".&lt;/em&gt; Prestasi menjadi juara 2 dikelas tidak diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tujuan Ayah saya baik. Dan saya yakin bahwa Beliau sebenarnya ingin memberikan dorongan agar tak mudah puas dan mau terus maju, hanya saja, setiap orang juga membutuhkan pujian atas apa yang telah diraihnya. Sayangnya, kebiasaan bahwa kita tidak pernah dipuji lantas membuat kita seringkali menjadi sulit untuk memuji orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa memberikan pujian yang tulus tidaklah mudah, dibutuhkan kedewasaan secara emosi, karena pada saat memberikan pujian, sepintas lalu tampak bahwa gengsi kita harus diturunkan untuk mengakui kelebihan dan kehebatan orang lain. Seakan-akan kita harus merelakan sesuatu untuk bisa memberikan pujian yang membuat orang lain senang dan bahagia. Sayangnya, hal-hal tersebut di atas itulah yang sering kali menjadi alasan mengapa kita sulit memberikan pujian. Kita sering kali menunda pemberian pujian dan penghargaan kita dengan alasan-alasan konyol seperti &lt;em&gt;“Nanti orangnya tambah GR dong!”&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;“Nanti dia malah akan semakin sombong”&lt;/em&gt; atau juga &lt;em&gt;“Entar dikira menjilat lagi!”.&lt;/em&gt; Dan karena itulah kita menunda pujian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, akan membuat orang merasa di’manusia’kan.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6351837839949403065?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6351837839949403065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6351837839949403065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6351837839949403065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6351837839949403065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/08/pujian.html' title='Pujian'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3994835466492968832</id><published>2008-05-14T18:26:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:30:16.753-07:00</updated><title type='text'>Malas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;”Wah udah masuk kerja lagi nih, gua malas banget kerja apalagi baru libur 4 hari!”.&lt;/em&gt; Begitulah bunyi sms yang saya terima pada hari senin pagi kemarin. Sms itu berasal dari salah seorang mantan teman kuliah saya yang sekarang bekerja di sebuah bank Negara. Pernahkah anda merasakan hal yang sama dengan rekan saya tadi? Suatu hal yang lumrah dialami ketika rasa malas menghampiri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Malas adalah penyakit mental. Siapa dihinggapi rasa malas, sukses pasti jauh dari gapaian”.&lt;/em&gt; Begitulah yang pernah dikatakan mantan atasan saya. Rasa malas dapat diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam ”keluarga besar” rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, dll. Jika ”keluarga besar” dari rasa malas ini mudah sekali muncul dalam aktivitas sehari-hari kita, maka dijamin kinerja kita akan jauh menurun. Bahkan bisa jadi kita tidak pernah bisa mencapai sesuatu yang lebih baik sebagaimana yang kita atau perusahaan tempat kita bekerja inginkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Rasa malas sejatinya merupakan sejenis penyakit mental. Mengapa disebut penyakit mental? Disebut demikian karena akibat buruk dari rasa malas memang sangat merugikan. Siapa pun yang dihinggapi rasa malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan. Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Masyarakat yang dipenuhi oleh individu-individu yang malas jelas tidak akan pernah maju. Rasa malas adalah dalih yang paling berbahaya. Hal ini karena ia membunuh potensi kita. Ketika rasa malas muncul, kita akan tampil di bawah performance maksimal kita, sehingga kita menjadi kurang bernilai dan kurang bermanfaat di hadapan diri sendiri dan orang lain. Karena itu, rasa malas harus diperangi. Malas membuat potensi seseorang menjadi terpendam atau muncul tapi terlambat. Malas membuat seseorang bagaikan lumpuh. Tak bertenaga dan tak berdaya untuk menghindarinya. Pikirannya menjadi irasional, jiwanya kosong dan perbuatannya menjadi tak bertanggung jawab. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara mengatasinya? Beberapa tip pernah saya baca seperti dengan meloncat-loncat ditempat sebanyak 20 kali agar peredaran darah kembali lancar dan semangat kembali muncul. Menuliskan hal-hal yang akan dikerjakan hari itu atau dengan mengingat atau melihat sesuatu yang bisa memancarkan semangat untuk kembali aktif. Ayah saya adalah salah seorang guru ”anti-malas” terbaik yang pernah saya tahu. Cara untuk mengatasi rasa malas cukup sederhana namun efektif: &lt;strong&gt;Just do it!&lt;/strong&gt; (lakukan saja, tanpa menunda!)- seperti slogan sebuah iklan sepatu olah raga.&lt;br /&gt;Jadi untuk mengatasi rasa malas, kerjakan saja apa yang menurut kita harus dilakukan. Jangan ditunda dan jangan mencari alasan untuk menunda! Apapun alasan untuk menunda pekerjaan itu, lupakanlah! Sebab sebagian besar alasan itu sejatinya adalah alasan yang dicari-cari dan mengada-ada. Karena itu, just do it! Lakukan sekarang juga! Karena jika kita menundanya maka kita bisa akan semakin malas dan takut untuk melakukannya. Sebaliknya semakin tidak ditunda, semakin bersemangat dan termotivasi kita untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, perlu diketahui bahwa seringkali semangat melakukan suatu pekerjaan justru datang dan semakin besar bersamaan dengan saat kita melakukan pekerjaan tersebut. Semangat bekerja seringkali muncul bukan sebelum melakukan pekerjaan, tapi pada saat kita melakukan pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah rahasia mengatasi rasa malas, Jika pikiran kita mulai mencoba melakukan rasionalisasi untuk menundanya, katakan dengan keras dan tegas pada diri kita sendiri: Just do it! Lakukan sekarang juga! Jangan banyak alasan! Niscaya kita akan mampu mengatasi rasa malas dan tidak menunda-nunda melakukan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya pagi itu, sambil tersenyum saya langsung membalas sms teman saya: &lt;em&gt;”Kalau elu malas kerja, bagaimana jika perusahaan juga malas membayar gaji elu? Just do it!"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3994835466492968832?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3994835466492968832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3994835466492968832' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3994835466492968832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3994835466492968832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/malas.html' title='Malas'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5448253936609529449</id><published>2008-05-14T18:25:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:26:52.986-07:00</updated><title type='text'>Gong Xi Fat Chai</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ada kemeriahan yang menyegarkan pandangan dalam minggu-minggu ini, nuansa merah dan lampion serta hiasan pohon angpao menjadi pandangan yang akan sering dijumpai. Pergantian tahun Imlek sudah di depan mata. Pada masa-masa seperti ini banyak sekali pembicaraan yang berkaitan dengan pengaruh tahun baru dengan shio. Aneka buku dan ramalan seputar tahun mendatang ikut menyemarakkan suasana. Saya sebagai orang yang awam segala hal mengenai hal ini berusaha mensikapi segala pandangan, pendapat dan analisa dengan pola pikir yang logis.&lt;br /&gt;Pergantian tahun adalah sesuatu yang alami, yang pasti akan terjadi. Dampaknya tentu saja ada bagi kita, ada yang bagus dan tentu saja ada yang kurang. Coba saja amati, bukankah dalam setiap pergantian musim ada flora dan fauna yang diuntungkan dan dirugikan. Itulah hukum alam. Keberuntungan dan kegagalan manusia tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh apa shio kita tapi bagaimana kita mensikap tantangan kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Banyak buku dan artikel yang mengulas mengenai pengaruh shio terhadap peruntungan. Semua hal yang ditulis di buku-buku itu hanyalah secara garis besar saja. Misalnya kalau dikatakan shio anda akan ada bahaya, belum tentu akan terjadi. Kalau mau lebih akurat, harus dihitung dan dianalisa sampai ke jam, hari bulan dan tahun. Nah, semua yang dikatakan di buku-buku hanyamenghitung dan analisa tahun saja. Namun itu kembali kepada masing-masing individu dalam mensikapi ”ramalan” shio masing-masing. Hal lain yang banyak diulas juga adalah urusan ”membuang sial”. Urusan "membuang sial" juga cukup ramai. Hal itu terkadang diekspose dalam skala yang berlebihan, sehingga hanya menjadi ritual yang membutuhkan biaya cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya teknik untuk "membuang sial" yang paling jitu dan ampuh itu cukup mudah dan murah. Berbuatlah kebajikan setiap hari. Membantu orang, berderma kepada yang membutuhkan, atau hal-hal lain yang setiap hari bisa kita lakukan dan merupakan "jurus nomor wahid" untuk membantu melancarkan jalan hidup kita. Jadi tidak perlu menunggu saat tertentu dalam setahun untuk melakukan seremoni "buang sial" atau apapun istilah lainnya. Tahun Baru Imlek mengandung makna spiritual, makna sosial, dan makna budaya. Saat Tahun Baru Imlek juga menjadi suatu momentum untuk saling introspeksi dan bersosialisasi serta saling berbagi. Bagi umat yang merayakan akan berhenti bekerja sejenak untuk memeriksa apa yang telah dijalaninya sepanjang tahun berlalu. Memeriksa kembali dan merenungkan apa-apa yang telah dikerjakan dan yang belum dikerjakan, meneliti apakah perbuatannya selalu didalam kebajikan atau masih belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Baru juga merupakan momentum untuk membaharui diri. Setelah memeriksa diri dari kekurangan-kekurangan, membulatkan tekad dan mengobarkan semangat untuk memperbaiki dan memperbaharuinya di tahun mendatang, sebagai sujud dan prasetya kepada Sang Khalik.&lt;br /&gt;Sambutlah pergantian tahun (apaun shio tahun anda) dengan pikiran dan perasaan yang positif. Kalau dibilang shio kita bagus atau jelek yah terima saja, amini saja. Perjalanan hidup kita tidak ditentukan oleh aneka "ramalan" yang ditulis dibuku-buku. Nasib anda, andalah yang menentukan sendiri. Bagaimana kita bersikap akan jauh lebih menentukan dan bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita jemput keberuntungan dan kejayaan kita di Tahun Tikus dengan bekerja lebih keras dan bahu membahu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5448253936609529449?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5448253936609529449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5448253936609529449' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5448253936609529449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5448253936609529449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/gong-xi-fat-chai.html' title='Gong Xi Fat Chai'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8401383701318393321</id><published>2008-05-14T18:16:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:21:30.292-07:00</updated><title type='text'>Kebahagiaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagi seorang sopir taksi mencari penumpang di malam hari cenderung lebih beresiko daripada di siang hari terutama untuk daerah-daerah yang dikatakan rawan kejahatan. Karena alasan itulah mereka jadi lebih ekstra hati-hati dan “pemilih” dalam mendapatkan penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Arif (kebetulan namanya sama dengan saya), teman lama saya seorang manager operasional di sebuah perusahaan taksi yang sedang turun lapangan menjadi pengemudi taksi selama beberapa hari. Malam itu saat melintas di jalan by pass (jl. Yos Sudarso, Jakarta) tepatnya didekat daerah Cempaka putih, dia melihat ada 3 orang melambaikan tangan untuk meminta taksinya berhenti. Ketiga orang tersebut berpakaian kotor, memakai sandal dan membawa pacul. Berdasarkan cerita dari para sopir taksi daerah tersebut merupakan daerah rawan, apalagi penampilan ketiga orang tersebut juga tidak meyakinkan. Namun dia tetap meminggirkan taksinya. Untuk mengurangi resiko, dia minta ketiga orang tersebut untuk meletakkan peralatan mereka di bagasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga orang tersebut bergegas masuk ke kursi belakang taksi dan salah seorang berkata dengan antusias,”&lt;em&gt;Pak tolong antarkan lihat Monas ya&lt;/em&gt;”. Melihat penampilan penumpangnya yang seadanya dan tujuan mereka untuk melihat Monas membuat teman saya tergerak untuk mencari tahu. ”&lt;em&gt;Mau lihat apa di Monas pak&lt;/em&gt;?” tanyanya. ”&lt;em&gt;Begini pak, kami ini kuli bangunan proyek dan sudah 3 minggu ini ada di Jakarta cari pekerjaan. Alhamdulillah bisa langsung dapat dan tadi siang kami baru terima upah. Besok pagi kami mau pulang ke Brebes untuk kasih uang ini ke istri dan anak-anak. Nah, istri dan anak saya pesen supaya tolong ”diliatkan” Monas dan gedung bertingkat di Jakarta supaya saya bisa cerita ke mereka karena selama ini kami hanya bisa lihat Monas dan gedung bertingkat di Jakarta hanya lewat TV saja&lt;/em&gt;”. Dua orang penumpang lainnya mengangguk-angguk mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari percakapan selama perjalanan diketahui bahwa saat itulah kali pertama mereka datang ke Jakarta dan mereka mendapat informasi bahwa di Jakarta banyak gedung yang tingginya sampai ke langit dan Monas. Sesampainya di Monas mereka tidak turun dari taksi dan minta teman saya agar jalan pelan-pelan. ”&lt;em&gt;Ooo, kayak gini toh yang namanya Monas..apik banget ya kang (bagus sekali ya mas)&lt;/em&gt;,” ucap salah seorang dari mereka dengan nada kagum. ”&lt;em&gt;Anak-bojoku nek melu mesti seneng banget ndeleng kiye (anak dan istriku kalau ikut pasti senang sekali melihat ini),”&lt;/em&gt; kata seorang bapak dengan wajah sumringah. ”&lt;em&gt;Sudah cukup pak lihat Monasnya, sekarang tolong antar kami kembali ketempat tadi berangkat ya pak&lt;/em&gt;”, ujar seorang bapak setelah beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbersit rasa haru dalam hati teman saya dan kemudian dia menawarkan sesuatu,”&lt;em&gt;Pak mumpung bapak di Jakarta, mau nggak saya antar lihat gedung-gedung tinggi karena kalau malam lebih bagus pak&lt;/em&gt;”. Tawaran ini disambut dengan antusias oleh 3 penumpang tersebut. Dan saat melewati Jalan Sudirman dan Thamrin, ketiga bapak itu tidak henti-hentinya berucap kagum akan kemeriahan dan keindahan lampu-lampu jalan dan gedung di sepanjang jalan protokol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di tempat semula, mereka bertiga terlihat mengeluarkan uang untuk patungan membayar argo taksi dan kemudian menyerahkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. ”&lt;em&gt;Pak uang ini bapak simpan saja ya buat anak dan istri bapak di rumah. Biar argo ini saya saja yang nalangin, yang penting bapak-bapak senang,&lt;/em&gt;” teman saya berkata sambil menyorongkan kembali uang itu. Sejenak ketiga bapak itu terdiam dan akhirnya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kebaikan teman saya. Sambil mengambil perlengkapan kerja di bagasi mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas pengalaman yang menyenangkan malam itu. ”&lt;em&gt;Nanti saya kasih tahu sama istri saya kalau saya ketemu orang baik seperti bapak di Jakarta&lt;/em&gt;,” kata seorang bapak dengan terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menceritakan pengalaman ini kepada saya, teman saya masih merasakan keharuan sekaligus kebahagiaan malam itu. ”&lt;em&gt;Aku mendapat pelajaran malam itu. Tujuan utama kita kerja sebenarnya tidak lain adalah untuk keluarga. Segala kerja keras kita muaranya hanya untuk kebahagiaan orang-orang yang kita sayangi. Bapak-bapak itu bekerja keras meninggalkan kampungnya juga demi mencukupi kehidupan anak dan istrinya. Dan saat anak dan istri mereka minta untuk sekedar ”dilihatkan” Monas, mereka juga lakukan walau harus mengorbankan sebagian penghasilan mereka. Itu mereka lakukan juga demi orang-orang yang dicintainya. Aku jadi malu kadang aku suka mengeluh pada diriku sendiri dan pada pekerjaanku. Padahal seharusnya aku bersyukur karena aku mendapat pekerjaan yang baik dan bisa selalu dekat dengan orang-orang yang aku cintai&lt;/em&gt;”. Saya yang mendengar pengalaman itu menjadi ikut terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Malam itu, setelah mengantar ketiga bapak tadi ke tempat semula, aku langsung pulang karena tiba-tiba ada rasa rindu yang luar biasa besar pada anak dan istriku&lt;/em&gt;”. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8401383701318393321?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8401383701318393321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8401383701318393321' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8401383701318393321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8401383701318393321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/kebahagiaan.html' title='Kebahagiaan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-7844146061295331501</id><published>2008-05-14T18:12:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:16:33.205-07:00</updated><title type='text'>Resiko</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menjadi manusia seutuhnya mahal harganya sehingga hanya sedikit orang yang memiliki cinta dan keberanian untuk membelinya. Seseorang harus melepaskan hasrat untuk mencari rasa aman dan harus menghadapi risiko hidup dengan kedua belah tangannya. Seseorang harus memeluk kehidupan seperti memeluk seorang kekasih. Segala usaha untuk meraih tujuan, selalu melibatkan sebuah risiko. Kita mungkin berkata, &lt;em&gt;"Saya tidak mau bergantung di dahan pohon yang kecil itu!".&lt;/em&gt; Kita tidak menyadari bahwa ada buah yang matang dan manis di ujung dahan itu. Buah itu selalu berada di sana, di ujung dahan, menunggu ada orang yang berani memetiknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan dari kita memulai hidup ini dengan sikap positif dalam menghadapi risiko. Ketika masih anak-anak, kita tidak sabar untuk melakukan berbagai petualangan baru. Mereka belajar memanjat kursi, menaiki tangga dan berlari-lari. Seorang anak yang sehat, gembira, seperti halnya seorang dewasa yang sehat dan gembira, senang menguji dan mengukur kemampuan mereka. Pada saat kita pertama kali mencoba berjalan dengan tertatih-tatih, pada saat kita mulai menguasai seni berjalan, kita sebenarnya sudah mengambil risiko. Bahkan saat bayi lahir ke duniapun dia sudah memutuskan untuk mau mengambil resiko hidup di dunia baru yang tidak diketahuinya. Dan kita ternyata menyukainya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumbu kehidupan adalah saat kita melakukan hal-hal baru, menciptakan sesuatu dari kemampuan kita sendiri. Kala kita mencintai dan peduli pada seseorang, kita menanggung risiko. Mengatakan 'aku cinta padamu', bisa menjadi urusan yang penuh risiko, tetapi imbalannya sungguh fantastis dan itu yang menggerakkan hati manusia untuk melakukannya. Menjadi sosok manusia yang berbeda juga melibatkan risiko. Anda ingin berubah menjadi seseorang yang lebih bisa tepat waktu akan berisiko dicap sebagai orang yang sok disiplin dsb. Dalam kenyataannya, alam semesta ini senantiasa mendorong kita agar berusaha, berkembang dan menjadi luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita punya pilihan, yaitu antara menjalani hidup dengan benar-benar hidup atau semata-mata hidup. Kalau kita memilih hanya semata-mata hidup, hidup anda akan tidak banyak gejolak, selalu berada dan bermain di “zona aman” dan sebisa mungkin menghindarkan risiko. Hasil yang akan diterima pun juga akan “semata-mata hasil” saja. Sayuran, bumbu kacang dan tahu kalau dicampur akan tetap jadi gado-gado dan kita tidak mungkin mengharapkannya jadi makanan lain. Namun kalau saja kita mau mengambil resiko dengan melakukan eksperimen dan mencampurkan dan mengolah bahan makanan tadi dengan cara lain kita mungkin bisa mendapatkan jenis makanan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai sesuatu, kita harus menanggung risiko. Untuk belajar berjalan kita menanggung risiko jatuh dan terluka. Untuk memperoleh uang, kita harus menanggung risiko kehilangan dan orang yang memperoleh uang terbanyak memiliki risiko terbesar. Untuk memenangkan sebuah pertandingan kita menghadapi kemungkinan kalah. Mencari pekerjaan adalah risiko. Menyeberang jalan adalah risiko. Bahkan untuk sekedar makan di restoranpun mengandung risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, Hidup adalah risiko. Dan semua resiko itu harus kita ambil dan alami agar kita bisa lebih menghargai apa arti keberhasilan dan kemenangan. Kita harus berani melewati dahan pohon agar dapat memetik dan merasakan manisnya buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hukum yang berlaku dalam kehidupan ini menjamin bahwa imbalan akan datang sesudah risiko. Dan bukan sebaliknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-7844146061295331501?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/7844146061295331501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=7844146061295331501' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7844146061295331501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7844146061295331501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/resiko.html' title='Resiko'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-7398562720710138319</id><published>2008-05-14T18:10:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:12:24.037-07:00</updated><title type='text'>Kreatif</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mungkin anda ingat dengan sebuah cerita mengenai seekor gajah yang diikat kakinya sejak kecil dengan seutas rantai sepanjang 4 meter. Ketika dewasa dia tidak akan (berani) melangkah keluar dari area lingkaran 4 meter walaupun rantainya sudah diganti dengan seutas benang. Gajah berperilaku seperti itu karena dalam pikirannya sudah tertanam kuat bahwa area dia bergerak hanyalah sejauh 4 meter saja karena apabila lebih dari 4 meter akan ada sesuatu yang menahannya. Karena berlaku selama bertahun-tahun akhirnya gerakannya menjadi sudah terpola dalam lingkaran 4 meter itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Apakah penggambaran itu bisa juga terjadi pada manusia? Tentu saja. Istri teman saya sudah bisa mengendarai mobil. Hampir tiap hari dia menggunakan mobil untuk antar jemputnya ke dan dari sekolah, tapi dia hanya berani menggunakannya di dalam kompleks perumahannya di Kelapa Gading Jakarta. Selama lebih dari 5 tahun tidak pernah sekalipun dia berani mengendarai mobil keluar dari komplek, sampai akhirnya dia memberanikan diri keluar dari komplek karena harus mengantarkan anaknya yang sakit ke rumah sakit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari pengalaman diatas bisa kita kaji bahwa sebenarnya kita mampu melakukan sesuatu yang awalnya kita pikir tidak bisa. Yang diperlukan terutama sekali adalah mempengaruhi pikiran kita dengan mengatakan bahwa kita pasti bisa. Salah seorang adik kelas saya sewaktu kuliah dulu sekarang menjadi salah satu pengusaha yang cukup sukses di Yogya. Saat memulai usahanya dia (nyaris) tidak memiliki apa-apa kecuali surat ijin pendirian perusahaan. Namun dia yakin bahwa dia bisa dan mencari akal agar usahanya cepat dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya bagaimana? Dia keluar masuk hotel besar di Yogya dan selalu minta bagian Car Call untuk menyuarakan lewat pengeras suara: “&lt;em&gt;Kepada pengemudi dari Konsultan PT.ABC untuk segera ke lobby hotel&lt;/em&gt;”. Padahal dia sama sekali tidak punya sopir karena kemana-mana dia hanya naik motor. Begitu dia lakukan selama beberapa hari dan di dua waktu berbeda yaitu saat makan siang dan saat makan malam dimana tamu yang datang ke hotel lebih banyak. Cara unik ini ternyata berhasil. Beberapa hari kemudian hasil dari iklan di koran dan Car Call di hotel mulai nampak. Banyak telepon yang masuk awalnya penasaran dengan nama perusahaan yang sering mereka dengar di hotel dan beberapa akhirnya berlanjut menjadi sebuah project sampai akhirnya perusahaannya menjadi besar seperti sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita menarik lain saya dengar mengenai salah seorang mantan pemimpin cabang di bank kita. Salah satu cara unik yang digunakan agar nama UOB Buana dapat cepat dikenal adalah dengan mendatangi orang terkenal (tokoh, pengusaha dll) di kota itu yang meninggal dunia. Saat menyatakan berduka cita kepada pihak keluarga yang meninggal, dia juga menyebutkan sebagai perwakilan dari UOB Buana. Moment itu juga dia manfaatkan untuk memperkenalkan diri dan nama UOB Buana kepada pengusaha dan tokoh masyarakat yang datang melayat. Akhirnya secara perlahan nama UOB Buana mulai banyak dikenal di kalangan pengusaha kota itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kedua pengalaman nyata diatas adalah sebuah bukti bahwa bekerja keras saja belumlah cukup, akan lebih baik bila kita juga selalu terpacu untuk mencari ”cara-cara baru” untuk meningkatkan hasil. Mungkin cara baru itu bukan sesuatu yang canggih atau hebat, namun bisa hal sederhana. Seperti kenalan saya seorang kepala cabang sebuah bank negara di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. &lt;em&gt;”Daripada saya susah-susah cari nasabah diluar dan ”rebutan” dengan bank lain, saya lebih suka memanfaatkan kedekatan dengan nasabah-nasabah lama saya dan meminta mereka merekomendasikan bank kami kepada keluarga, teman dan partner bisnis mereka. Hasilnya malah lebih cepat dan saya juga bisa lebih yakin bahwa nasabah baru yang saya dapat ini kualitasnya bagus karena hasil ”seleksi” dari nasabah-nasabah saya&lt;/em&gt;”, jelasnya suatu hari. Sebuah cara yang sederhana bukan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sekarang mari kita coba lihat diri kita sendiri, adakah seutas benang yang menghambat diri kita saat ini? Putuskan benang itu, bergeraklah maju lebih dari lingkaran yang selama ini mengurung. Kita pasti bisa kalau kita berpikir kita bisa, kita akan gagal kalau kita selalu berpikir akan gagal. Dan sesuatu kan sulit dilakukan kalau di awal kita mengatakan itu sulit. Peluang demi peluang muncul setiap hari, dan kalau selama ini kita menutup mata, telinga, pikiran, diri, bahkan hidup kita, maka peluang itu menjadi terbuang, dan akan lewat begitu saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mulailah melangkah sedikit demi sedikit kalau sekiranya masih gamang, lalu berlari cepat setelah lebih yakin lagi. Jangan sia-siakan setiap peluang untuk maju, demi perusahaan, demi diri kita sendiri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-7398562720710138319?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/7398562720710138319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=7398562720710138319' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7398562720710138319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7398562720710138319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/kreatif.html' title='Kreatif'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6624870635297771235</id><published>2008-05-14T18:07:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:10:03.566-07:00</updated><title type='text'>Catatan Akhir 2007</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebuah sms masuk ke handphone saya minggu lalu, sms itu mengabarkan sebuah berita duka atas meninggalnya salah seorang mantan dosen saya di saat kuliah di Yogya. Berita duka ini patut disampaikan karena beliau adalah salah seorang dosen yang kami sayangi sekaligus dihormati karena keilmuwannya. Seminggu sebelumnya saya juga mendapat kabar mengenai meninggalnya salah seorang kerabat jauh keluarga istri saya yang tinggal di luar kota. Kedua kabar duka cita ini kembali menyadarkan saya akan sebuah kenyataan hidup yakni &lt;strong&gt;kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kematian adalah salah satu bentuk kehilangan yang mungkin merupakan satu stimulus terbesar yang mampu menyentakkan kita. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat dekat menyadarkan kita akan arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita akan betapa singkatnya hidup. Padahal selama hidup kita seringkali mempermasalahkan hal-hal sepele, terpaku pada hal-hal duniawi dan menimbun materi yang tidak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup seringkali kita anggap sebagai sebuah rutinitas yang harus dijalani. Hidup juga seringkali menipu dan meninabobokan orang. Agar tidak terjebak dalam keterlenaan kita harus sadar mengenai siapa diri kita sebenarnya, darimana kita berasal dan hendak kemana kita akan pergi. Untuk itu kita perlu memberi waktu untuk diri sendiri dan keluar dari rutinitas kesibukan duniawi dengan melakukan perjalanan kedalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang filsuf Perancis &lt;strong&gt;Teilhard de Chardin&lt;/strong&gt; mengatakan bahwa ”&lt;em&gt;kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, sebaliknya kita adalah mahluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi&lt;/em&gt;”. Karena itu kita disebut juga sebagai ”mahluk langit”. Kita adalah mahluk spiritual yang sedang menempati kehidupan ragawi di dunia. Tubuh yang kita miliki saat ini adalah rumah sementara bagi sang jiwa karena tubuh merupakan salah satu syarat untuk bisa hidup di dunia. Tubuh lambat laun menua, rusak dan akhirnya tak dapat digunakan lagi. Moment itulah yang disebut sebagai ”meninggal dunia” dan jiwa kita akan pergi menuju ”kehidupan” yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Urip kuwi mung mampir ngombe”&lt;/em&gt; kata orang jawa, hidup itu hanya mampir untuk minum saja. Kalimat ini bermakna bahwa hidup hanya sebentar sebelum memasuki kehidupan selanjutnya. Tapi sayangnya kalimat penuh makna ini sering kita abaikan dan kita kembali senantiasa menyakiti hati orang lain, mengambil yang bukan hak kita, bermalas-malasan, berkeluh kesah dan menutup mata terhadap indahnya kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan suatu hari yang pasti kelak akan Anda alami. Pada hari itu Anda melihat diri Anda sendiri sedang terbaring tenang di tengah ruangan dengan dikelilingi oleh sanak saudara, kerabat, rekan kerja dan tetangga rumah Anda. Hari itu adalah hari pemakaman Anda. Hari itu, mereka yang mengelilingi Anda datang dengan berbagai kenangan tersendiri tentang diri Anda. Sebelum jenasah Anda dibawa untuk dimakamkan, beberapa orang diminta untuk mengungkapkan perasaan dan kenangannya tentang diri Anda. Menurut Anda, &lt;em&gt;apa yang ingin Anda dengar pendapat mereka tentang Anda selama masih hidup? Orang tua macam apakah Anda? Suami/ Istri macam apakah Anda? Rekan kerja macam apa? Ipar macam apa? Tetangga macam apakah Anda?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang mereka katakan saat itu sangat tergantung dari perilaku dan perkataan yang anda gunakan dan tunjukkan selama Anda hidup dan berinteraksi dengan mereka. Anda tidak punya kuasa lagi untuk memperbaiki pendapat itu sekiranya kenangan mereka tidak seperti yang Anda harapkan. Kalau anda dipersepsikan sebagai orang yang angkuh karena mungkin selama Anda hidup anda menunjukkan sikap senantiasa angkuh terhadap mereka, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2007 segera berakhir dan tahun yang baru akan dijelang. Sudah saatnya bagi kita untuk kembali melihat perjalanan hidup yang sudah kita lalui, melihat kembali hal-hal yang sudah kita lakukan dan mengkaji kembali prioritas-prioritas hidup kita. Meningkatkan kualitas hubungan horisontal terhadap sesama manusia dan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Menjalin kembali tali silaturahmi dengan orang-orang yang anda kenal, meningkatkan kualitas hubungan dengan keluarga yang anda kasihi dan memberi banyak kebaikan kepada siapapun yang anda temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita jelang Tahun Baru 2008 dengan penuh keyakinan bahwa di tahun yang menjelang kualitas pribadi dan kerja kita akan senantiasa lebih baik dari tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SELAMAT TAHUN BARU 2008 !&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6624870635297771235?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6624870635297771235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6624870635297771235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6624870635297771235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6624870635297771235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/catatan-akhir-2007.html' title='Catatan Akhir 2007'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-4997437594669084235</id><published>2008-05-14T18:05:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:07:34.579-07:00</updated><title type='text'>Apa yang kita beri akan kembali</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Entah kenapa saya tertarik sekali setiap kali saya mendengar ada bencana, baik itu bencana alam maupun hal-hal lain yang membutuhkan bantuan sesama. Dalam hati saya selalu ada dorongan untuk berusaha menyisihkan walau sedikit saja uang yang saya miliki untuk membantu mereka yang terkena musibah. Bagi saya materi masih bisa dicari, dan dengan kita memberikan sekedar seribu, dua ribu ataupun 10 ribu tidak akan membuat kita jatuh miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali saya pernah mengirim sedikit uang untuk korban bencana alam disuatu daerah lewat kantor saya. Saat saya menyetorkannya sendiri lewat Teller, Teller tersebut berkata,” &lt;em&gt;Kok sumbangan sedikit amat, kalau mau memberi bantuan yang besar dong”&lt;/em&gt;. Memang bantuan yang saya berikan saat itu tidaklah besar dari segi jumlahnya, tetapi kalau saya boleh katakan janganlah bantuan itu dilihat dari nilai nominal yang kita berikan, tetapi lebih melihat dari sisi ketulusan kita untuk membantu dan meringankan beban saudara-saudara kita yang kesusahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga suatu hari sekitar 4 tahun yang lalu saya berjalan disekitar Kantor UOB Buana di kota saya, saat itu saya menemukan sebuah dompet yang tergeletak di jalan. Setelah saya pungut dan saya periksa ternyata dompet itu berisi uang yang cukup banyak. Hampir saja saya tergoda, tetapi hati kecil saya seperti mengingatkan 'KEMBALIKAN SAJA APA YANG BUKAN MILIKMU". Saya kemudian berusaha mencari informasi dan nomor telepon yang terdapat dalam dompet tersebut untuk bisa saya hubungi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu yang ada di benak saya adalah bagaimana sedih dan bingungnya orang yang kehilangan dompet ini, karena di dompet tersebut terdapat bermacam-macam kartu dan mungkin beberapa surat penting. Setelah 2 hari mencari barulah saya berhasil menemukan pemilik dompet tersebut. Kebetulan pemilik dompet tersebut adalah seorang ibu dan ibu tersebut begitu berterima kasih saat tahu bahwa dompetnya yang hilang akhirnya ditemukan oleh seseorang dan kembali dalam keadaan utuh. Untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, ibu tersebut hendak memberikan saya sejumlah uang. Saya berusaha menolak karena saya ikhlas melakukannya namun dia tetap berkeras memberikan. Bagi saya sebenarnya, ibu tersebut cukup memberikan uang hadiah tersebut kepada panti asuhan atau pihak lain yang lebih membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tangan Tangan Tuhan akan bekerja",&lt;/em&gt; inilah yang saya rasakan dan saya alami saat saya melangsungkan pernikahan saya minggu yang lalu, "angpau" yang saya terima jumlahnya cukup banyak dan bahkan lebih dari cukup. Saya juga kaget karena banyak yang datang dan memberikan angpau tersebut merupakan orang yang sebelumnya tidak termasuk dalam daftar undangan. Saat itu saya menyadari bahwa Tuhan memang Maha Pemurah dan Maha Adil kepada umat-Nya dan saya semakin meyakini bahwa apapun yang kita berikan akan selalu kembali ke kita dalam jumlah yang berlipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang Katolik tetapi saya suka sekali mendengar dan membaca buku-buku agama yang lain. Bagi saya semua agama selalu mengajarkan hal kebaikan bagi kita walaupun terdapat perbedaan dalam tata cara ritualnya. Kalau kita bisa mengambil "Benang Merah" dari semua ajaran tersebut, niscaya dan saya percaya sekali kita akan menjadi manusia yang selalu bertingkah laku dan selalu berbuat kebaikan kepada sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu LPB yang pernah saya baca, ada suntingan sebuah bait dari Lagu "Jagalah Hati” dan dalam kesempatan ini saya ingin katakan bahwa hal itu benar sekali, karena hati lah merupakan Lentera Kehidupan kita dan dari Hatilah segala tingkah laku kita akan terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hati kita bersih, tingkah laku dan perbuatan kita pun akan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan kiriman dari seorang rekan di UOB Buana Jambi.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-4997437594669084235?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/4997437594669084235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=4997437594669084235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4997437594669084235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4997437594669084235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/apa-yang-kita-beri-akan-kembali.html' title='Apa yang kita beri akan kembali'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-1990286479021339312</id><published>2008-05-14T18:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T18:05:15.077-07:00</updated><title type='text'>Dekat Dengan Kesederhanaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam seminggu ke depan kita akan jelang (bagi yang merayakan) 2 hari raya besar yaitu Idul Adha (20/12) dan Natal (25/12). Idul Adha dirayakan umat Islam untuk memperingati kejadian penting dimana Ibrahim menerima wahyu dari Allah untuk mengorbankan anak semata wayangnya, Ismail. Peristiwa itu merupakan batu ujian terberat bagi Ibrahim untuk menunjukkan bukti kecintaannya pada Allah. Walaupun terasa sangat berat, perintah ini tetap dijalankan oleh Ibrahim yang pada detik terakhir Ismail diganti dengan seekor domba oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “kurban” itu berasal dari bahasa Arab &lt;em&gt;qaraba-yuqaribu-qurbanan-qaribun&lt;/em&gt;, yang artinya dekat atau mendekatkan maksudnya adalah mendekatkan diri pada Tuhan. Ibadah kurban menurut Jalaludin Rakhmat (1996) juga mencerminkan pesan moral: kita mendekatkan diri dengan saudara-saudara kita yang kekurangan. Dengan berkurban berarti kita dekat dengan mereka yang tidak lebih beruntung dari kita. Bila kita memiliki kenikmatan, kita diminta berbagi kenikmatan itu dengan orang lain. Bila berpuasa, kita akan merasakan lapar seperti halnya orang miskin. Hewan kurban yang dipotong merupakan simbol dari penyembelihan dari nafsu kebinatangan yang seringkali kita tunjukkan semacam rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, dan setiap sesuatu yang membutakan mata dan telinga kita terhadap kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Hari Natal dirayakan setiap tahun untuk memperingati kelahiran Yesus. Dalam perspektif umat Kristiani, Yesus dihormati sebagai sang penebus dosa-dosa; yang memungkinkan kembalinya kita diterima dengan baik oleh Allah. Dengan demikian, Tuhan sendiri mendekat, mau menerima manusia, mau bertegur sapa dengan-Nya sehingga manusia bisa berharap, bisa membuka hati. Di dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa Dia lahir di palungan dalam sebuah kandang yang kotor, karena tidak ada tempat di dalam penginapan. Berselimutkan kain lampin yang sederhana dan ditemani oleh para gembala. Kenyataan ini bisa diartikan sebagai ajakan untuk mengambil sikap bersahaja. Semacam semangat untuk mau berbuat baik, tidak berkeras hati, dan selalu berpihak pada orang kecil dan lemah, serta tidak memberi ruang pada kebencian dan rasa balas dendam kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diresapi lebih dalam, semangat yang dimiliki oleh 2 hari besar tersebut sebenarnya semakna sejalan. Memaknai sebuah peristiwa untuk bisa lebih dekat dengan kesederhanaan, meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Pada perayaan Idul Adha, daging hewan kurban yang disembelih akan dibagikan kepada kaum fakir (tidak mampu), membagikan rejeki dan kenikmatan kepada mereka dan secara tidak langsung kita juga diajak untuk bisa memahami ketidak beruntungan mereka. Natal, merefleksikan kehadiran Tuhan dalam kesederhanaan bersama-sama dengan orang-orang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati hari raya Idul Adha ini, kenangan saya selalu kembali pada masa sekitar 13 tahun lalu saat saya melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah desa kecil di daerah Banyumas (Jawa Tengah). Kebetulan selama 3 bulan saya dan teman-teman tinggal disana dan berkesempatan menikmati perayaan hari besar ini. Dua minggu sebelum hari raya suasana di desa tersebut mulai berubah. Warga dari segala usia semua kelihatan antusias mempersiapkan segala sesuatunya dan raut kebahagiaan terpancar dari orang-orang yang saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah percakapan dengan seorang sesepuh desa, saya memahami perubahan perilaku warga desa tersebut. Setiap hari raya besar akan banyak sanak kerabat mereka yang bekerja di kota besar pulang ke desa itu, kembali berkumpul dengan keluarga merajut kembali silaturahmi yang terpisah jarak. Alasan kedua adalah hari raya itu adalah hari raya kurban yang juga berarti mereka akan bisa menikmati gurihnya daging kambing atau sapi, karena bagi warga desa tersebut makan berlaukkan daging adalah sebuah “kemewahan” tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat makan siang bersama di pelataran masjid saya banyak melihat raut wajah penuh syukur dan bahagia di sekitar saya. Warga desa yang tidak merayakan juga diundang dalam acara tersebut. Dalam keterbatasan dan kesederhanaan saya merasakan arti kasih antar sesama yang sesungguhnya. Walaupun secara materi mereka serba kekurangan namun sesungguhnya mereka memiliki kekayaan bathin yang lebih dibandingkan saudara-saudara mereka yang tinggal di kota, termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA DAN HARI NATAL 2007&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-1990286479021339312?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/1990286479021339312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=1990286479021339312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1990286479021339312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1990286479021339312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/05/dekat-dengan-kesederhanaan.html' title='Dekat Dengan Kesederhanaan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8630030088746304547</id><published>2008-02-05T21:50:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T21:51:49.295-08:00</updated><title type='text'>Menyalahkan Orang Lain</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Namanya Andre, seorang eksekutif muda sebuah bank negeri yang besar. Dia direkrut dan disekolahkan oleh bank tersebut karena kecerdasannya tidak mengecewakan selama kuliah. Gayanyapun sekarang sudah beda dengan saat kuliah dulu. Kalau dulu makan di warungpun mesti harus banyak sayur dan nasi daripada lauk. Sekarang kalau tidak makan di Cafe kayaknya belum afdol. Setiap ketemu 2 buah handphone selalu menemani dia kemanapun. Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah sampai sekarang: kebiasaannya datang terlambat setiap kali kami berkumpul. Dan selalu saja ada alasan, entah yang jalan macet lah, taksi susah dapet lah atau lagi banyak pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga siang itu saat kami janjian kumpul untuk sekedar ngobrol di sebuah cafe. &lt;em&gt;”Sorry, gua telat nih,”&lt;/em&gt; ujarnya tanpa merasa bersalah. &lt;em&gt;”Macet lagi jalanan atau elo nggak dapat taksi?”&lt;/em&gt; tanya teman saya kesal. &lt;em&gt;”Bukan, tadi adik gua ikutan jadi gua mesti anter dia dulu dan ternyata di jalan itu macet cet,” &lt;/em&gt;jelasnya sambil lalu. Kami yang sudah hadir 1 jam sebelumnya hanya tersenyum maklum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa teman saya ini selalu ada alasan untuk menjelaskan keterlambatannya. Dan selalu yang jadi alasannya adalah segala hal di luar dirinya. Pendek kata menyalahkan kondisi di luar atau orang lain sebagai alasannya. Mungkin bukan hanya dia saja yang pernah (bahkan selalu) melakukan hal ini, mungkin anda juga pernah, saya juga dan sepertinya tidak ada orang yang tidak pernah melakukan hal ini. Cobalah sekali waktu kita cermati, berapa kali dalam sehari kita menyalahkan orang lain atau keadaan. Perilaku ini seolah sudah menjadi bagian dari budaya kita. Setiap ada masalah otomatis telunjuk kita akan menunjuk keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah disadari atau tidak, kita sebagai orang tua (atau calon orang tua) ternyata memiliki andil dalam menanamkan dan menyuburkan perilaku ini terhadap anak-anak kita. Kalau anak anda sedang bermain-main kemudian dia menangis. Apa yang biasanya kita lakukan? Kita (biasanya) akan bertanya &lt;em&gt;”Kenapa dek? Siapa yang nakal? Ooo kakak ya yang nakal?”.&lt;/em&gt; Bahkan kalau anak kita sedang main sendirianpun dan dia menangis karena terbentur kursi, kita akan juga bertanya &lt;em&gt;”Siapa yang nakal? Ooo kursinya ya yang nakal sama adek..sini biar mama cubit nanti kursinya ya...”.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dengan semakin seringnya kita mengatakan hal-hal demikian, wajar saja paradigma yang terpatri dalam benak seorang anak kecil adalah apabila ada sesuatu yang terjadi dengan dirinya itu diakibatkan oleh sesuatu diluar dirinya, bisa orang-orang atau benda-benda yang berada di sekitarnya. Dan begitu dia mengalami masalah lagi dia akan dengan fasihnya menunjuk dan mengatakan siapa atau apa yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah sekarang coba kita lihat perilaku kita sendiri. Kalau kita terlambat datang ke kantor, apa yang biasanya kita salahkan? mungkin kita akan menyalahkan jalanan yang macet atau angkutan yang lebih sering ngetem daripada jalan sebagai kambing hitamnya. Kalau karier kita mentok siapa yang salah? Mungkin kita akan menunjuk atasan yang sentimen dengan kita sebagai sumber masalahnya. Kalau kenaikan gaji kita ternyata lebih kecil dari si A, siapa yang salah? Mungkin kita akan mengatakan bahwa si A memang anak emas atasan kita karena itu dia bisa mendapat lebih banyak. Kalau semua hal yang terjadi dengan diri kita sumber masalahnya selalu berada pada orang lain atau keadaan di luar, lantas apa bedanya kita dengan anak kecil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku 8th habit karya Stephen Covey, perilaku kita yang menyalahkan orang lain (atau keadaan diluar) terjadi karena kita menganggap diri kita sebagai obyek dalam kehidupan. Paradigma menganggap diri sebagai obyek ini disebut juga sebagai paradigma &lt;em&gt;Outside-In&lt;/em&gt; (luar – kedalam). Orang-orang seperti Andre kalau tidak mengubah paradigmanya akan terus menemui hal yang sama dengan ilustrasi di atas, kemanapun mereka pergi. Kehidupan mereka akan bisa menurun kualitasnya dan bisa gagal menjadi orang yang sukses, karena memang hidup ini penuh masalah dan mereka selalu memposisikan dirinya sebagai obyek.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Stephen Covey menuliskan bahwa untuk menjadi orang yang sukses haruslah memiliki paradigma &lt;em&gt;Inside-Out&lt;/em&gt; (dalam-keluar). Paradigma ini memposisikan diri kita sebagai subyek dari kehidupan ini dan kita punya kemampuan untuk mengatasi segala kesulitan dan bukan lagi sebagai obyek dari kesulitan itu. Bila Andre memiliki paradigma berpikir seperti ini tentu ia akan 99,9% tepat waktu. Dia akan menjadi orang yang super kreatif mengatasi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Ia akan menyediakan payung dalam tasnya untuk bersiap kalau-kalau hujan turun, ia akan bangun lebih awal, berangkat lebih cepat sehingga ia punya punya cukup waktu cadangan kalau-kalau jalanan macet. Ia menjadi super kreatif menghadapi semua permasalahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang dengan paradigma ini tidak pernah mengenal stress, karena ia yakin bahwa setiap masalah yang timbul pasti bisa diselesaikan. Orang-orang besar adalah orang-orang yang tidak pernah mengeluhkan keadaan, merekalah yang mengendalikan keadaan. Setiap permasalahan yang mereka temui mereka anggap sebagai tantangan baru untuk meningkatkan kreatifitas mereka. Dan saya yakin di UOB Buana masih banyak orang-orang yang memiliki paradigma seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8630030088746304547?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8630030088746304547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8630030088746304547' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8630030088746304547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8630030088746304547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/02/menyalahkan-orang-lain.html' title='Menyalahkan Orang Lain'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-1240841952191017892</id><published>2008-02-05T21:46:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T21:49:26.312-08:00</updated><title type='text'>Miskin Mental</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu siang saya sedang berada dalam 1 mobil dengan atasan saya menuju ke Harmoni. Di sebuah jalan saya melihat beberapa anak muda tanggung berdiri di tengah median jalan dengan ember ditangan. Mereka meminta sumbangan dari mobil-mobil yang lewat. Dengan menggerak-gerakkan ember mereka menyorongkan ember itu ke jendela mobil-mobil berjalan pelan karena kondisi macet. Sayang saya tidak sempat membaca tulisan yang ada pada ember itu. Tidak banyak mobil yang membuka kaca dan memberikan sekedar lembaran ribuan atau recehan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Kamu ingat apa yang kamu tulis dalam artikel kemarin mengenai sedekah Rif?&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Kalau yang minta-minta orangnya begitu kira-kira kamu akan kasih juga nggak?,”&lt;/em&gt; tanya atasan saya. &lt;em&gt;”Kalau dari prinsip bahwa kita lebih mampu dari mereka tentu kita akan berikan. Namun pemberian itu juga harus dilihat dari manfaat jangka panjangnya. Jangan sampai pemberian kita itu ternyata malah ”disalahgunakan” dan malah menciptakan orang-orang yang bukan hanya miskin secara materi tapi lebih bahaya lagi adalah kemiskinan mental”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan tersebut saya teringat dengan pengalaman teman saya yang menceritakan bagaimana saudara-saudaranya yang lain melihat dan mem-persepsikan dirinya. Teman saya ini adalah anak bungsu dari sebuah keluarga besar dan kebetulan juga dari segi materi masih lebih baik dari kakak-kakaknya yang lain. Setiap kali kakak-kakaknya ada masalah (seringnya berkaitan dengan materi) mereka biasanya menghubungi teman saya ini dan minta dibantu. Awalnya dengan senang hati mereka dia bantu. Namun lama-kelamaan menjadi keseringan dan bukannya kebaikan atau ucapan terima kasih yang diterimanya, malah cibiran dan sindiran apabila sekali waktu dia tidak dapat membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman teman saya tersebut, dia secara tidak sengaja telah menciptakan manusia-manusia yang seperti atasan saya sebut sebagai miskin secara mental karena saudara-saudaranya menjadi terbiasa hidup dari pemberian orang lain dan tidak tergerak untuk berusaha merubah nasibnya sendiri. Orang-orang seperti ini dengan tidak malu-malu akan selalu menengadahkan tangannya kepada orang lain mengharapkan pemberian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam sebuah buku agama yang pernah saya baca, dikisahkan oleh Anas bin Malik bahwa salah seorang laki-laki kaum Anshar mendatangi Rasulullah dan meminta sesuatu. Rasulullah bertanya padanya, &lt;em&gt;"Apakah kamu tidak memiliki apa pun di rumahmu?".&lt;/em&gt; Ia menjawab, &lt;em&gt;"Tentu kami punya, kain yang kami pakai sebagian dan sebagian lainnya kami jadikan alas, dan juga gelas besar tempat kami minum."&lt;/em&gt; Rasulullah berkata, &lt;em&gt;"Bawalah keduanya padaku."&lt;/em&gt; Lalu kedua barang itu diberikan kepada Rasulullah dan beliau pun lalu melelangnya, &lt;em&gt;"Siapakah yang ingin membeli kedua barang ini?" &lt;/em&gt;Seseorang berkata, &lt;em&gt;"Aku akan membelinya dengan dua dirham”.&lt;/em&gt; Lalu Rasulullah menjualnya dan memberikan uangnya dan berkata,&lt;em&gt; "Belilah dengan dirham pertama ini makanan untuk kau berikan kepada keluargamu dan dirham lain belilah kapak dan bawa kepadaku." &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setelah kapak dibeli, lalu Rasulullah memerintahkan, &lt;em&gt;"Pergilah dan carilah kayu bakar, lalu juallah. Aku tidak ingin melihatmu lagi hingga lima belas hari ke depan”.&lt;/em&gt; Laki-laki itu lalu mencari kayu bakar dan menjualnya. Tiba saatnya, ia pun mendatangi Rasulullah dengan membawa sepuluh dirham di tangannya, yang sebagian ia belikan makanan. Melihatnya, Rasulullah pun berkata, &lt;em&gt;"Ini lebih baik bagimu daripada sedekah yang memberikan noda hitam di wajahmu pada hari kiamat!"&lt;/em&gt; .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pembelajaran yang tersirat adalah hendaknya kita sama-sama menyadari bahwa sikap peduli dan kasih sayang kepada sesama tidak cukup hanya diungkapkan secara emosional. Justru harus dilakukan proporsional dan rasional sebagaimana ditunjukkan Rasulullah dalam cerita tersebut. Dengan demikian, kita akan menciptakan suasana yang mendorong seseorang untuk produktif dan tidak semakin menjerumuskan mereka dalam jurang kemiskinan mental yang dalam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemberian memang selalu bermakna baik namun akan lebih mulia lagi apabila pemberian tersebut memang tepat untuk diberikan dan dapat mengangkat derajat si penerima dari kemiskinan mental. Perjalanan singkat siang itu ternyata memberi pelajaran baru yang berharga bagi saya dalam menumbuhkan kesadaran baru agar saya tidak menjadi manusia yang miskin secara mental.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-1240841952191017892?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/1240841952191017892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=1240841952191017892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1240841952191017892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1240841952191017892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2008/02/miskin-mental.html' title='Miskin Mental'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-1437535878723862322</id><published>2007-11-30T01:08:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T01:09:21.128-08:00</updated><title type='text'>Menumpahkan Kemarahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seorang pria dengan wajah kusut dan muka muram pulang ke rumahnya malam itu. Setibanya di rumah, seperti biasanya ia mengetuk pintu, lalu ketika isterinya membuka pintu sedikit lebih lama dari biasanya maka ia menjadi marah besar. Aneh memang tapi itulah yang terjadi, si isteri lalu dimarahi habis-habisan hanya gara-gara sedikit terlambat membukakan pintu. Isterinya menjadi jengkel tapi tak bisa melawan suaminya yang sedang marah besar, itu sebabnya ia menumpahkan kemarahannya kepada anaknya yang secara tak sengaja melakukan sedikit kesalahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Si anak pun jadi ngambek tapi juga tak berani melawan ibunya yang terlihat begitu angker. Akibatnya pun bisa ditebak, si anakpun lalu menumpahkan kemarahannya kepada si pembantu. Meski si pembantu menjadi emosi dalam hati, tapi tidaklah mungkin seorang pembantu berani melawan anak majikan. Itu sebabnya si pembantu kemudian menumpahkan kemarahannya kepada anjing peliharaan keluarga itu dengan cara tidak memberi makan selama satu minggu! Karena lapar dan sangat jengkel karena merasa jadi korban keadaan, si anjing akhirnya menggigit tamu yang kebetulan berkunjung sebagai bentuk protes dan ungkapan kemarahannya. Anjing ternyata bisa marah juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengertian populer itulah yang disebut &lt;em&gt;displacement of aggression&lt;/em&gt;, atau pengalihan agresi. Menumpahkan kesalahan kepada obyek pengganti yang level, status atau kedudukannya berada di bawahnya. Tentu ini adalah perilaku yang tidak baik. Kita seringkali dan selalu diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri, bukannya melemparkan kesalahan atau menumpahkan kemarahan kepada orang lain yang levelnya ada di bawah kita. Mentalitas yang seperti ini hanya akan menciptakan orang-orang yang gemar mencari kambing hitam. Dia yang berbuat, tapi dia juga yang melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan kalau hal ini terjadi di kantor. Atasannya atasan Anda marah karena departemen tempat Anda bekerja ternyata tidak bekerja seperti yang diharapkan. Kemudian atasan Anda memarahi Anda karena dia jengkel dimarahi oleh atasannya. Andapun melampiaskan kemarahan karena dimarahi atasan kepada pelanggan yang datang hari ini kepada Anda. Dan pelanggan yang jengkel karena pelayanan dan perlakuan Anda yang tidak menyenangkan kemudian berbicara kepada orang-orang lain. Dan orang-orang lain yang mendengar cerita ini ternyata ikut jengkel dan menceritakan kembali kepada teman-temannya. Dampaknya ternyata luar biasa! Hanya karena kita menumpahkan kejengkelan dan kemarahan kita kepada pihak lain, ternyata berakibat pada sekian banyak orang lain lagi yang secara tidak langsung terpengaruh dengan kejengkelan dan kemarahan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah bersikap adil dan jujur terhadap diri sendiri. Kalau memang yang sedang bermasalah adalah kita, bukankah seharusnya kita sesegera mungkin membereskan masalah itu dan bukannya mencari “tong sampah” untuk menumpahkan kejengkelan dan kemarahan kita. Sunggguh tidak adil kalau orang-orang di sekeliling kita harus menerima luapan emosi kita, sementara mereka sebenarnya tak melakukan sesuatu yang membuat mereka layak mendapat kemarahan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Anda bayangkan kalau yang menjadi limpahan kemarahan atau kejengkelan kita adalah anak kita, yang untuk bertemu dan berkumpul dengan kita saja hanya punya beberapa jam setelah kita pulang kantor. Kita akan merasakan dampaknya di kemudian hari dimana kita mulai merasakan adanya kerenggangan emosional antara kita dan anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda sedang jengkel dan marah pada hari ini. Tahanlah diri Anda untuk tidak menumpahkan kejengkelan dan kemarahan Anda kepada orang lain. Berhentilah sebentar, redakanlah jengkel dan amarah anda terlebih dahulu. Pikirkanlah bahwa hidup Anda sangat berharga dan jangan sudi untuk menyia-nyiakannya dengan luapan amarah. Karena dengan marah, kebahagiaan yang sedang anda bangun secara perlahan sedang digerogoti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-1437535878723862322?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/1437535878723862322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=1437535878723862322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1437535878723862322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1437535878723862322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/11/menumpahkan-kemarahan.html' title='Menumpahkan Kemarahan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6230254101180667615</id><published>2007-11-30T01:05:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T01:06:44.893-08:00</updated><title type='text'>Manusia Sulit</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;“Mas, aku pokoknya mau protes dan nggak bisa terima!,”&lt;/em&gt; seru sepupu saya di telepon suatu sore. Saya yang masih belum sadar sepenuhnya dari istirahat siang di hari libur itu berusaha mengira-ngira siapa gerangan orang yang mau protes ini&lt;em&gt;.”Memang kebangetan banget ya iparku itu, lha wong kita sekeluarga sudah setuju mau pergi bareng, eh nggak tahunya dia bilang nggak jadi ikut karena mobilnya mau dimasukkan ke bengkel. Apa nggak nyebelin tuh namanya?!..”&lt;/em&gt; cerocosnya dengan emosional. Setelah dengan sekuat tenaga berkonsentrasi akhirnya saya mulai dapat mengenal suara si penelepon dan masalah yang diungkapkan. Saya hanya merespon sekedarnya saja karena khawatir kalau salah bicara malah bisa menambah masalah. &lt;em&gt;“Dasar dia itu memang manusia sulit kok mas!,”&lt;/em&gt; ujarnya ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita semua pernah mengalami hal yang sama, bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang seperti saudara saya bilang “manusia sulit”. Mereka disebut sulit karena biasanya memiliki atau menunjukkan sifat atau perilaku yang berbeda dengan manusia kebanyakan: keras kepala, suka mengkritik pedas, menghina, menang sendiri, egois dan lain-lain sikap negatif. Namun sadari atau tidak, kita yang seringkali memberi cap manusia sulit pada orang lain sekali waktu juga akan berperan sebagai si manusia sulit. Kita selalu melihat dan menunjuk orang di luar sana sebagai manusia sulit. Tanpa kita sadari bahwa empat jari yang lain saat kita menunjuk mengarah kepada diri kita. Contoh mudahnya ya sudara saya yang telpon itu. Dia memberi cap manusia sulit pada saudara iparnya namun saya tahu pasti saudara saya itupun bisa dikategorikan juga sebagai manusia sulit. Kenapa? Karena tidak jarang dia begitu keras kepala akan pendapat dan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meyakini bahwa guru kehidupan adalah segala sesuatu yang kita alami dan temui. Manusia sulit-pun merupakan salah satu guru terbaik bagi perkembangan kematangan jiwa kita. Saat manusia sulit beraksi dengan menunjukkan betapa menjengkelkannya mereka, sebenarnya kita juga sedang diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu. Tidak heran apabila rekan kerja saya bertemu dan berhadapan dengan manusia sulit, dia akan mengelus-elus perutnya yang sedang hamil 5 bulan dengan harapan agar calon anaknya tidak memiliki atau “ketularan” kejelekan orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sulit juga berjasa dalam membuat kita menjadi orang yang lebih sabar. Gede Parma pernah menulis bahwa badan dan jiwa kita ini seperti karet. Pertama kali ditarik akan melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, jengkel, mengurut dada atau menarik nafas panjang karena ulah manusia sulit ini, sejatinya kita sedang menarik karet (baca:tubuh dan jiwa) agar menjadi longgar (baca: sabar). Dan diharapkan pada saat kesekian kali kita berhadapan kembali dengan manusia sulit ini, tubuh dan jiwa kita bisa lebih mengerti dan sabar. Apabila ini dilakukan terus menerus, niscaya kesabaran akan selalu melekat dimanapun kita berada dan dengan siapapun kita berhadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi cap “manusia sulit” kepada siapapun di luar kita sangat dipengaruhi oleh “kaca mata” yang kita pakai. Kita seringkali men-cap kotor ini dan itu kepada orang lain tanpa tahu sebenarnya bukan mereka yang “kotor”, tapi “kacamata” yang kita pakailah yang kotor yaitu pikiran, emosional dan persepsi. Dengan kata lain sebelum menyebut siapapun diluar sana sebagai manusia kotor atau sulit, yakinlah pada diri anda bahwa bukan anda sebenarnya yang sulit. Karena anda begitu keras kepala, perbedaan pendapat sedikit saja membuat anda marah. Karena anda orang yang mudah tersinggung, orang tersenyum sedikit saja membuat anda kesal karena menganggap orang tersebut sedang meledek anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran mulia dari berhadapan dengan manusia-manusia sulit adalah mereka merupakan orang-orang yang sebenarnya mempermudah jalan kita untuk ke sorga. Apabila tingkat kesabaran anda sudah sedemikian matang, kita akan membalas hinaan dengan sebuah senyuman, cercaan dengan doa, bau busuk dengan bau harum, bukankah hal-hal demikian membuat amal kebaikan kita menjadi semakin banyak dan dengan itu pula jalan kita menuju sorga menjadi lebih lancar?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6230254101180667615?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6230254101180667615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6230254101180667615' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6230254101180667615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6230254101180667615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/11/manusia-sulit.html' title='Manusia Sulit'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6302664193580413027</id><published>2007-11-30T01:03:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T01:04:10.418-08:00</updated><title type='text'>Terpaksa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya memiliki teman yang dulunya adalah perokok berat. Lebih dari 1 bungkus bisa dia habiskan dalam 1 hari terutama apabila dia sedang banyak pekerjaan yang mengharuskan dia melewatkan malam di kantor. Minggu lalu saat bertemu saya lihat ada perbedaan pada penampilannya, dia tidak membawa rokok yang biasanya selalu ada dikantongnya. “Gua tersiksa banget beberapa hari ini. Mulut gua rasanya asam banget dan pengen banget merokok. Tapi karena gua udah janji sama istri untuk tidak merokok lagi makanya terpaksa gua tahan aja,”ujarnya sambil meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pekerjaan atau tindakan yang dilakukan dengan terpaksa tentu tidak menyenangkan bagi pelaku seperti teman saya tadi. Sejenak dapat kita renungkan bahwa  hampir semua tindakan awalnya tidak diinginkan atau pekerjaan yang  dilakukan dalam kehidupan sehari hari  berawal dari sebuah keterpaksaan. Suatu pekerjaan atau tindakan yang menjadi rutinitas adalah merupakan hal biasa dan kurang berpengaruh terhadap kepuasan pelaku. Dan suatu pekerjaan atau tindakan yang dilakukan karena kesenangan/hobi pasti akan menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pelaku meskipun tindakan yang dilakukan adalah sama. Penyanyi misalnya, walaupun mungkin harus setiap hari menyanyi namun dia tetap senang karena itu adalah kesenangan/ hobinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan lalulintas saat pertama kali adanya keharusan memakai sabuk pengaman sewaktu mengemudi mobil atau mengenakan helm saat mengendarai sepeda motor. Bagaimana reaksi masyarakat pada umumnya ? bermacam komentar, repot, tidak praktis, terpaksa karena takut ditilang dan sebagainya. Mengapa sekarang hal tersebut dapat dilakukan dengan kesadaran bahkan kadang dilakukan secara spontan? Karena kita sudah menjadi terbiasa. Apabila kita  mencoba  untuk mencari tindakan  yang awalnya tidak didasari keterpaksaan, mungkin akan sulit menemukan jawabnya. Mengapa? karena semuanya sudah menjadi kebiasaan sehingga keterpaksaan itu tidak terasa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan tugas sehari-hari?  mulai dari memakai seragam, datang ke kantor, mengerjakan tugas,  mentaati peraturan dan kebijakan sampai menerima gaji . Melakukan penyesuaian dan membiasakan dengan lingkungan, pekerjaan dan peraturan baru yang berkesinambungan sesuai dengan perkembangan. Belum pernah ada  perusahaan yang tidak pernah melakukan perubahan dalam menjalankan usahanya baik manajemen, peraturan, struktur organisasi ataupun produk usaha. Dan setiap perubahan yang ada pasti bertujuan untuk menjadikan perusahaan lebih baik, baik untuk perusahaan, pemilik, karyawan dan konsumen. Apakah semuanya pada awalnya tidak kita lakukan dengan terpaksa? tentunya masing masing pelaku mempunyai argumen sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak dapat dikatakan mudah untuk merubah keterpaksaan menjadi sebuah kebiasaan, apalagi terhadap sesuatu yang awalnya belum pernah dilakukan dan asing. Sama halnya dengan perokok yang ingin berhenti merokok, dia tidak akan dapat berhenti merokok kecuali memaksakan diri untuk berhenti, karena tidak ada obat atau alat apapun yang dapat menjadikan perokok berhenti merokok kecuali keinginan yang kuat dari diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Layanan juga sama, pada awalnya canggung untuk senyum, menyapa dan melayani nasabah dengan baik. Bahkan banyak yang menjadi enggan karena merasa hal itu adalah beban. Memang akan menjadi beban karena dalam pikiran kita sudah tertanam bahwa kegiatan itu merupakan kerja tambahan yang tidak perlu. Hal itu yang kalaupun dilakukan pasti dengan kondisi terpaksa. Keterpaksaan akan terlihat oleh orang lain dan disadari atau tidak akan semakin memberatkan pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada salah satu cara untuk dapat merubah keterpaksaan menjadi kebiasaan, yaitu Ikhlas dan Bersyukur. Paksa diri kita untuk melakukannya, insya Allah kita akan dapat menerima dan menikmati pekerjaan dan penerimaan tanpa keluhan. Ikhlas dan Bersyukur juga dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung terhadap perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dan introspektif. Memang tidak semudah teori untuk melakukannya. Tetapi  semua orang pasti merasa sudah berusaha untuk berbuat dan berubah menjadi yang terbaik untuk dirinya dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat saat anda atau anak anda pertama kali belajar naik sepeda. Awalnya hanya satu dua kayuhan, jatuh dan kita bangun lagi untuk melanjutkan dengan kayuhan-kayuhan berikutnya sampai akhirnya kita menjadi bisa dan terbiasa. Perubahan akan mudah diraih apabila ada tekad diri. Jangan terlalu lama terpaku dalam keraguan, mulailah dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6302664193580413027?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6302664193580413027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6302664193580413027' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6302664193580413027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6302664193580413027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/11/terpaksa.html' title='Terpaksa'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3145289118733347087</id><published>2007-11-30T01:02:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T01:03:18.315-08:00</updated><title type='text'>Sedekah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Teman saya ini adalah seorang pegawai negeri di yang berkantor di Jalan Thamrin. Umurnya lebih muda dari saya dan kebetulan sewaktu di Yogya kami satu kos. Salah satu “kegemaran”nya adalah memberikan sedekah kepada pengemis. Suatu saat teman saya yang lain secara sambil lalu “mempertanyakan” kebiasaannya tersebut. “Emang elo yakin kalau dia itu memang pengemis?, bagaimana kalau dia ternyata hanya seorang yang malas bekerja dan akhirnya jadi pengemis?”. Teman saya tersebut hanya tersenyum dan menjawab,”Aku nggak tahu pasti dia itu pengemis benar atau tdak tapi yang aku tahu pasti bahwa hidupnya tidak lebih beruntung dari aku dan Rp.1000 atau Rp.2000 nggak akan membuat kita jadi miskin kan?, lagipula Allah melihat keikhlasan pemberian kita dan bukannya siapa yang diberikan. Kalau kemudian ternyata dia menipu dan bukan pengemis seperti yang kita kira, biarlah itu urusan dia dengan Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan terakhir itu mengingatkan saya akan sebuah tulisan yang pernah saya baca beberapa waktu silam yang berbicara mengenai pemberian dan sedekah. Dalam hidup kita seringkali terjebak pada hitung-hitungan angka, kalau saya kasih sekian kira-kira sisanya bisa nggak buat yang lain dst. Hidup kita tidak seluruhnya berupa matematika dan permainan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis yang bermakna jauh lebih baik. Namun hal ini tidak pernah kita tahu karena kita tidak pernah terpikir untuk setidaknya melihat dari sisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pikiran kita hanya tertuju pada pendapatan (baca:gaji) yang kita terima, kita cenderung akan menjadi orang yang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai pendapatan setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu kita akan berkata,”Bagaimana mau memberi kepada orang lain dan bersedekah, lha wong untuk kita saja masih kurang." Sebagian besar orang akan mengatakan,"Kenyataannya memang begitu kan?”. Mana mungkin seorang pegawai negeri atau pegawai rendahan dengan gaji hanya sebesar itu, bisa hidup tenang, bisa memberi sedekah dan malah bisa berbagi dengan saudara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berpikiran seperti itu karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Tulisan itu juga mengilustrasikan begini: Kita punya uang Rp.10,000. Makan bakso harganya Rp.6000, kemudian makan Es campur Rp.3000. Setelah bayar kita akan dapat kembalian Rp.1000, yang kemudian kita berikan dengan ikhlas kepada pengemis, berapa sisa uang kita? Tentu saja secara logika kita akan menjawab Tidak ada! Tapi ternyata masih ada uang kita yang Rp.1000 tadi dan bahkan masih bisa bertambah banyak melebihi jumlah pemberian kita. Dan seribu rupiah itu abadi. Dikatakan bisa bertambah banyak karena seribu rupiah tadi bisa memancing rezeki yang tidak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa uang yang seharusnya habis malah bisa mendatangkan rejeki yang lain? Kalau kita berpikir matematis dan logika memang tidak mungkin. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan lihatlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Pengemis yang mendapatkan berkah kita tersebut kemudian mengucapkan doa' keberkahan kepada kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya pada lebih banyak orang yang tidak mampu?. Malaikat niscaya akan sibuk mencatat keberkahan untuk anda itu dan indahnya lagi adalah segala doa tersebut didengar oleh Allah. Itu juga menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong kita di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi, yang dapat berbuah keberkahan dan sekaligus juga penolong. Sementara nilai Rp.9000 untuk bakso dan es campur itu akan selalu berakhir di WC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu membuat saya terpaku. Sebegitu dalam penghayatan atas nilai sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang seringkali terlupakan. Sedekah memang berat kalau kita memandangnya dari hitungan logika matematis. Sedekah seringkali hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam kosmis memiliki hukum yang kekal yaitu: siapa memberi kelak suatu hari akan menerima. Bukti empiris banyak tersebar di kehidupan kita. Petani yang selalu memberi pupuk pada tanamannya, kelak suatu hari akan menerima limpahan panen. Kita mengajarkan keindahan cinta pada anak-anak kita, kelak anak-anak kita akan menunjukkan kepada kita mulianya keindahan kasih sayang. Sebaliknya, bila kita menyemai benih kebencian kepada orang lain kelak kita akan ditunjukkan betapa sakitnya saat diacuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan itu adil, apapun yang kita lakukan baik atau buruk, akan dilihat dan didengar oleh-Nya. Seperti Budhe saya selalu bilang,”Gusti Allah ora sare...”. (Tuhan tidak pernah tidur).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3145289118733347087?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3145289118733347087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3145289118733347087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3145289118733347087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3145289118733347087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/11/sedekah.html' title='Sedekah'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-9038749284587461669</id><published>2007-09-13T17:33:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:02:14.354-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><title type='text'>Terbaik</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu hari saya berkesempatan untuk bertemu dengan beberapa teman lama semasa kuliah di Yogya. Masing-masing sudah memiliki pekerjaan yang baik dan 3 diantaranya sudah berkeluarga. Hanya satu orang teman saya Andre, yang ternyata sampai saat ini masih melajang. Kami temannya yang lain sempat tidak percaya dengan status melajangnya tersebut karena setahu kami Andre sangatlah “gaul” dan memiliki banyak teman wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Gua pernah berkeinginan menjalin hubungan yang serius dengan 3 orang gadis&lt;/em&gt;,” ungkapnya memulai cerita. “&lt;em&gt;Yang pertama namanya Nita, orangnya menarik dan penampilannya selalu mengikuti trend. Awalnya gua pikir dia cocok untuk menjadi calon istri. Namun setelah beberapa bulan, gua melihat bahwa Nita bukanlah pilihan yang terbaik buat gua karena menurut gua dia “kurang cerdas” karena seringkali tidak bisa nyambung kalau membahas sesuatu&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Kemudian gua ketemu dengan Santi. Gadis yang gua kenal di gereja ini seorang gadis yang alim tapi juga “gaul”. Kombinasi yang menarik, kan? Gua bertahan selama 4 bulan dengannya sampai akhirnya gua berkesimpulan bahwa Santi bukanlah pilihan yang terbaik untuk menjadi istri. Karena dibalik sikapnya yang lembut itu ternyata dia seorang yang pencemburu dan gua nggak mau hidup serasa diawasi begitu. Akhirnya kami putus hubungan&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Dan terakhir gua ketemu gadis ini, namanya Siska. Siska gua kenal karena kantor kami bekerja sama untuk sebuah project. Siska adalah gambaran ideal buat gua. Dia smart, penampilan menarik, wajah cantik dan tahu betul apa yang dia mau. Pokoknya di mata gua dia gambaran yang sempurna sebagai calon pendamping gua&lt;/em&gt;”, ujarnya. Kemudian dia terdiam. “&lt;em&gt;Terus kenapa elo nggak menikah sama dia?&lt;/em&gt;” desak saya. Sambil menghela nafas dia berkata pelan,”&lt;em&gt;Dia bilang bahwa gua bukanlah pilihan yang terbaik buat dirinya&lt;/em&gt;”. Kami berempat terdiam mendengar penuturan kalimat yang terakhir. Saya tidak tahu apakah harus sedih, prihatin, atau malah geli mendengar cerita pengalaman Andre tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya merasakan adanya sebuah keadilan yang terjadi pada diri Andre. Seringkali sadar atau tidak, kita bersikap atau memiliki prinsip seperti teman saya tadi, bisa dan biasa menentukan mana yang terbaik buat diri kita. Ketika kita menentukan bahwa ini yang cocok atau itu yang terbaik buat diri kita seolah kita telah menyamarkan keberadaan Yang Maha Tinggi sebagai Yang Maha Tahu apa dan mana yang terbaik buat setiap makhluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang seringkali kita lakukan adalah kita terlalu fokus pada apa yang kita idamkan untuk dapatkan dan bukan pada apa yang sudah ada dalam genggaman. Kita selalu melihat ke kejauhan padahal kita sudah memiliki dalam kedekatan. Pola ini mengerucut pada satu hal: kemiskinan dan kebutaan hati untuk bisa selalu bersyukur pada apapun yang kita dapatkan. Bila kita belum mendapatkan tujuan kita (target, posisi, kekayaan, pengakuan), kita akan terus memikirkannya. Tapi anehnya, setelah mendapatkan, kita hanya menikmati “kemenangan” itu sesaat saja karena pikiran kita kembali membuat “idaman-idaman” lain yang lebih dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola kehidupan seperti itu akan semakin menjauhkan diri kita dari rasa syukur dan kelimpahan kebahagiaan. Bathin kita akan lelah dan akan semakin payah karena kita tidak bisa merasakan kebahagiaan dengan apapun yang kita miliki sekarang. Sekali waktu, ambillah jeda dalam hidup anda untuk melihat pada apa-apa yang anda sudah miliki dan kenyataan kehidupan sekitar anda. Sobat saya di kantor selalu kesal apabila ada seseorang yang mengeluh melihat menu makanan yang disajikan setiap hari di kantor tidak cocok dengan seleranya. “&lt;em&gt;Mestinya elo bersyukur kita masih bisa makan dengan menu seperti ini. Kalau elo mengeluh itu sama saja elo gak pernah bisa belajar bersyukur!&lt;/em&gt;”, ungkapnya. Saya respect sekali dengan prinsip yang dia anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur untuk capai kebahagiaan juga bisa dicapai dengan melihat kehidupan dari sisi baiknya. Lihatlah pasangan anda, tetangga, atasan dan bawahan anda dari sisi baiknya. Niscaya hubungan anda dengan mereka akan didominasi dengan senyuman dan keringanan langkah. Sikap itulah yang tidak dilakukan oleh teman saya Andre. Kekurangan dianggap sebagai sebuah harga mati dan menutup kemungkinan bahwa manusia selalu memiliki peluang untuk menjadi lebih  baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat ketika saya akan menikah dulu. Sepucuk kartu ucapan saya terima dari sobat lama saya, dan didalamnya terdapat gambar (foto) sepasang manula yang sedang berjalan di pantai sambil berpegangan tangan. Yang membuat saya terenyuh adalah tulisan dibawahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Arif, Menikahlah dengan orang yang kamu cintai, setelah itu cintailah orang yang kamu nikahi”&lt;br /&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-9038749284587461669?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/9038749284587461669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=9038749284587461669' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/9038749284587461669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/9038749284587461669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/09/terbaik.html' title='Terbaik'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8454191772015055092</id><published>2007-09-12T02:56:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:01:33.281-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self development'/><title type='text'>Sabar</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salah satu hal yang paling mengganggu setiap kali saya pulang kantor dengan menggunakan KRL Patas Bekasi adalah kedatangannya yang selalu tidak pasti. Kalau suatu hari KRL tersebut datang dan berangkat tepat waktu, akan banyak penggemar setia KRL tersebut menggumamkan satu kalimat: “&lt;em&gt;hmm..tumben tepat&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu kembali (seperti biasa) kereta favorite saya tersebut terlambat datang. Istri saya yang sejak hamil selalu pulang bareng saya naik kereta mulai gelisah. Berkali-kali terdengar keluhnya: “&lt;em&gt;sampai dimana sih kereta-nya, kok lama banget?”.&lt;/em&gt; Saya yang berulangkali mendapat keluhan seperti itu menjadi terpengaruh apalagi saya juga sebenarnya ada janji untuk bertemu dengan teman saya di rumah. Untuk memastikan waktu kedatangan, beberapa kali saya tanyakan posisi KRL ke bagian informasi perjalanan kereta. Semakin lama menunggu dalam ketidak pastian, saya menjadi semakin gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang saya alami diatas menunjukkan sebuah ketidaksabaran yang berwujud. Kesabaran merupakan sebuah keadaan dimana badan dan pikiran kita berada di satu tempat. Sewaktu saya tidak sabar dalam menunggu kereta, badan saya ada di stasiun namun pikiran saya sudah ada di rumah. Karena tidak menyatu-nya 2 hal ini dapat menyebabkan kegelisahan dan kehilangan kesabaran. Mungkin akan beda hasilnya apabila saat itu saya lebih tenang dengan menikmati semua yang saya lihat dan alami di stasiun itu dan sambil menunggu kereta datang saya bisa beritahu teman saya untuk mengatur jadwal pertemuan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini Sabar sering diidentikkan bersedia dalam posisi menderita, mengalah dan seterusnya. Kalau budhe saya selalu bilang “&lt;em&gt;yo wis sing sabar wae&lt;/em&gt;” sambil mengurut dada. Sewaktu rekan kerja saya putus hubungan dengan tunangannya, rekan kerja yang lain datang sambil berkata,”&lt;em&gt;Ya sudah Jeng, sabar aja dengan cobaan ini. Toh laki-laki bukan dia ajaaa&lt;/em&gt;..”. Atau sewaktu saudara saya diperlakukan tidak menyenangkan oleh iparnya, saudara yang lain berkata,” &lt;em&gt;Sabar aja, nanti biar Tuhan yang akan membalas perbuatannya&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat diatas seringkali kita dengar dan mungkin juga sering kita ucapkan. Semua kalimat itu bukan kalimat yang salah, namun memaknai-nya seringkali tidak benar. Seakan-akan sabar adalah sikap yang harus ditunjukkan ketika penderitaan datang. Karena itu tidak heran kalau budhe saya selalu mengurut dada sebagai pelengkap kata sabar yang diucapkan. Ekspresi dan pemahaman seperti inilah yang kian lama kian mengaburkan makna Sabar yang sebenarnya. Padahal ke-Sabar-an adalah salah satu rahasia terpenting untuk menikmati hidup. Kalau kita sabar kita akan benar-benar bisa menikmati setiap detik hidup kita baik dalam kesukaan maupun kedukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyatukan badan dan pikiran adalah makna sejati sebuah ke-Sabar-an. Faktor penentu lain adalah Kesadaran. Sadarilah sepenuhnya apa yang sedang kita alami. Rasakanlah saat anda sedang menunggu kereta atau bis yang terlambat. Rasakanlah ketika anda sedang menghadapi nasabah, saat anda berbicara dengan mereka dan membantu mereka memproses transaksi. Nikmatilah dengan sepenuh hati musik yang anda sukai dan nikmatilah wajah anak anda ketika mereka tidur. Nikmatilah setiap apapun yang anda lakukan. Dengan Kesadaran dan menyatunya badan serta pikiran akan menumbuhkan kesabaran dalam pikiran kita dan selain itu kita juga akan merasa lebih rileks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran juga berarti pemahaman kita bahwa sesuatu itu terjadi melalui sebuah proses dan kita bersedia untuk menjalani proses-nya satu persatu. Sewaktu di stasiun pikiran saya merasa ingin bahwa badan ini langsung berada di rumah untuk bertemu anak saya dan kemudian bertemu dengan teman sesuai waktu semula, tanpa melalui proses menunggu kereta datang, kereta jalan, sampai stasiun Bekasi ambil motor, perjalan Stasiun ke rumah dan akhirnya sampai dirumah. Ketidak sabaran membuat pikiran tidak menerima kenyataan bahwa semua perlu melalui proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran juga berarti pemahaman kita bahwa sesuatu itu terjadi melalui sebuah proses dan kita bersedia untuk menjalani proses-nya satu persatu. Sewaktu di stasiun pikiran saya merasa ingin bahwa badan ini langsung berada di rumah untuk bertemu anak saya dan kemudian bertemu dengan teman sesuai waktu semula, tanpa melalui proses menunggu kereta datang, kereta jalan, sampai stasiun Bekasi ambil motor, perjalanan Stasiun ke rumah dan akhirnya sampai dirumah. Ketidak sabaran membuat pikiran tidak menerima kenyataan bahwa semua tujuan perlu melalui berbagai proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, marilah kita lapangkan dada untuk dapat lebih bersabar. Janganlah mengurut dada karena kesabaran adalah sebuah kenikmatan dan bukannya penderitaan. Apapun profesi dan pekerjaan anda, keberhasilan merupakan juga buah dari  kesabaran. Saya selalu ingat guru agama saya dulu selalu bilang bahwa:&lt;br /&gt;                                  &lt;br /&gt;                                   &lt;strong&gt; “Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang Sabar”.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8454191772015055092?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8454191772015055092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8454191772015055092' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8454191772015055092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8454191772015055092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/09/sabar.html' title='Sabar'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3651904503901275402</id><published>2007-09-05T01:39:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:02:14.355-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><title type='text'>Syukur</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu hari saya berkesempatan untuk bertemu dengan beberapa teman lama semasa kuliah di Yogya. Masing-masing sudah memiliki pekerjaan yang baik dan 3 diantaranya sudah berkeluarga. Hanya satu orang teman saya Andre, yang ternyata sampai saat ini masih melajang. Kami temannya yang lain sempat tidak percaya dengan status melajangnya tersebut karena setahu kami Andre sangatlah “gaul” dan memiliki banyak teman wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Gua pernah berkeinginan menjalin hubungan yang serius dengan 3 orang gadis,”&lt;/em&gt; ungkapnya memulai cerita. &lt;em&gt;“Yang pertama namanya Nita, orangnya menarik dan penampilannya selalu mengikuti trend. Awalnya gua pikir dia cocok untuk menjadi calon istri. Namun setelah beberapa bulan, gua melihat bahwa Nita bukanlah pilihan yang terbaik buat gua karena menurut gua dia “kurang cerdas” karena seringkali tidak bisa nyambung kalau membahas sesuatu”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemudian gua ketemu dengan Santi. Gadis yang gua kenal di gereja ini seorang gadis yang alim tapi juga “gaul”. Kombinasi yang menarik, kan? Gua bertahan selama 4 bulan dengannya sampai akhirnya gua berkesimpulan bahwa Santi bukanlah pilihan yang terbaik untuk menjadi istri. Karena dibalik sikapnya yang lembut itu ternyata dia seorang yang pencemburu dan gua nggak mau hidup serasa diawasi begitu. Akhirnya kami putus hubungan”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Dan terakhir gua ketemu gadis ini, namanya Siska. Siska gua kenal karena kantor kami bekerja sama untuk sebuah project. Siska adalah gambaran ideal buat gua. Dia smart, penampilan menarik, wajah cantik dan tahu betul apa yang dia mau. Pokoknya di mata gua dia gambaran yang sempurna sebagai calon pendamping gua”,&lt;/em&gt; ujarnya. Kemudian dia terdiam. &lt;em&gt;“Terus kenapa elo nggak menikah sama dia?”&lt;/em&gt; desak saya. Sambil menghela nafas dia berkata pelan&lt;em&gt;,”Dia bilang bahwa gua bukanlah pilihan yang terbaik buat dirinya”.&lt;/em&gt; Kami berempat terdiam mendengar penuturan kalimat yang terakhir. Saya tidak tahu apakah harus sedih, prihatin, atau malah geli mendengar cerita pengalaman Andre tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya merasakan adanya sebuah keadilan yang terjadi pada diri Andre. Seringkali sadar atau tidak, kita bersikap atau memiliki prinsip seperti teman saya tadi, bisa dan biasa menentukan mana yang terbaik buat diri kita. Ketika kita menentukan bahwa ini yang cocok atau itu yang terbaik buat diri kita seolah kita telah menyamarkan keberadaan Yang Maha Tinggi sebagai Yang Maha Tahu apa dan mana yang terbaik buat setiap makhluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang seringkali kita lakukan adalah kita terlalu fokus pada apa yang kita idamkan untuk dapatkan dan bukan pada apa yang sudah ada dalam genggaman. Kita selalu melihat ke kejauhan padahal kita sudah memiliki dalam kedekatan. Pola ini mengerucut pada satu hal: kemiskinan dan kebutaan hati untuk bisa selalu bersyukur pada apapun yang kita dapatkan. Bila kita belum mendapatkan tujuan kita (target, posisi, kekayaan, pengakuan), kita akan terus memikirkannya. Tapi anehnya, setelah mendapatkan, kita hanya menikmati “kemenangan” itu sesaat saja karena pikiran kita kembali membuat “idaman-idaman” lain yang lebih dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola kehidupan seperti itu akan semakin menjauhkan diri kita dari rasa syukur dan kelimpahan kebahagiaan. Bathin kita akan lelah dan akan semakin payah karena kita tidak bisa merasakan kebahagiaan dengan apapun yang kita miliki sekarang. Sekali waktu, ambillah jeda dalam hidup anda untuk melihat pada apa-apa yang anda sudah miliki dan kenyataan kehidupan sekitar anda. Sobat saya di kantor selalu kesal apabila ada seseorang yang mengeluh melihat menu makanan yang disajikan setiap hari di kantor tidak cocok dengan seleranya. &lt;em&gt;“Mestinya elo bersyukur kita masih bisa makan dengan menu seperti ini. Kalau elo mengeluh itu sama saja elo gak pernah bisa belajar bersyukur!”,&lt;/em&gt; ungkapnya. Saya respect sekali dengan prinsip yang dia anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur untuk capai kebahagiaan juga bisa dicapai dengan melihat kehidupan dari sisi baiknya. Lihatlah pasangan anda, tetangga, atasan dan bawahan anda dari sisi baiknya. Niscaya hubungan anda dengan mereka akan didominasi dengan senyuman dan keringanan langkah. Sikap itulah yang tidak dilakukan oleh teman saya Andre. Kekurangan dianggap sebagai sebuah harga mati dan menutup kemungkinan bahwa manusia selalu memiliki peluang untuk menjadi lebih  baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat ketika saya akan menikah dulu. Sepucuk kartu ucapan saya terima dari sobat lama saya, dan didalamnya terdapat gambar (foto) sepasang manula yang sedang berjalan di pantai sambil berpegangan tangan. Yang membuat saya terenyuh adalah tulisan dibawahnya: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Arif, Menikahlah dengan orang yang kamu cintai, &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;em&gt;setelah itu cintailah orang yang kamu nikahi”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3651904503901275402?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3651904503901275402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3651904503901275402' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3651904503901275402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3651904503901275402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/09/syukur.html' title='Syukur'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-9137572839975834221</id><published>2007-09-05T01:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T18:54:50.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Layanan'/><title type='text'>Value added</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kehidupan saya banyak sekali terinspirasi oleh cerita, baik cerita yang saya baca di buku, saya lihat dalam film maupun saya dengar dari orang lain. Ada sebuah cerita yang pernah saya dengar belasan tahun lalu yang banyak menginspirasi perilaku saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah iring-iringan perahu kerjaan melintas di sungai dalam sebuah kota antah berantah. Dalam perahu itu terdapat beberapa orang: pengayuh perahu, hulubalang Raja, penasehat Raja (kaum cendikia) dan Raja sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi percakapan antar pengayuh perahu yang isinya adalah ketidak puasan akan pekerjaan yang mereka jalani saat itu. “&lt;em&gt;Sungguh keterlaluan Raja kita ini. Sudah lama saya bekerja di kerajaan ini tapi apa yang saya dapat? Saya tetap saja menjadi seorang pendayung perahu. Sedangkan kalian lihat sendiri seseorang yang menjadi penasehat raja mungkin usianya jauh dibawah saya. Tapi kenapa dia yang dipilih menjadi penasehat raja dan bukannya saya?”&lt;/em&gt; Gerutu salah seorang pendayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sang Raja mendengar keluh kesah itu. Dan sejenak dia meminta agar perahu berhenti. Kemudian sang Raja memanggil pendayung yang berkeluh kesah itu kehadapannya. &lt;em&gt;“Kamu mendengar suara binatang yang ada di pinggir sungai ini?”&lt;/em&gt; Tanya Raja. Pendayung mengangguk. &lt;em&gt;“Tolong cari tahu suara apa itu dan segera beritahu saya”.&lt;/em&gt; Si pendayung bergegas pergi ke tepian sungai dan segera kembali ke perahu. &lt;em&gt;“Raja, ternyata suara itu datang dari bebek liar yang sedang bermain dengan anak-anaknya”&lt;/em&gt;, Lapor si pendayung. Kemudian Raja menanyakan lagi berapa banyak anak bebek yang ada disana. Serta merta si pendayung kembali lagi ke tepian sungai untuk melihat bebek liar itu. &lt;em&gt;“Anak bebek-nya berjumlah 8 ekor Raja,”&lt;/em&gt; ujar si pendayung setelah kembali. Kembali raja menanyakan jumlah bebek dewasa yang ada di tepian sungai itu. Dengan tetap semangat si pendayung kembali ke tepian sungai dan setelah kembali, dia menjawab dengan tersenyum puas,”&lt;em&gt;Bebek dewasa disana ada 4 ekor Raja”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja mengucapkan terima kasih. Kemudian Raja meminta prajurit untuk memanggil salah seorang penasehatnya sedang bekerja dalam kabin kapal. Raja meminta si penasehat untuk mencari tahu suara binatang di tepian sungai. Si penasehat kemudian pergi dan setelah kembali dia menjelaskan kepada Raja. &lt;em&gt;“Rajaku, suara itu ternyata adalah suara sekawanan bebek liar. Ada 4 bebek dewasa yang saya rasa adalah induk dari 8 anak bebek yang terdapat disana. Dari kesemua bebek yang ada disana mereka memiliki warna bulu yang cenderung sama yaitu coklat dan hitam”&lt;/em&gt;. Raja tersenyum, mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan si penasehat untuk kembali bekerja dalam kabin kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Raja melihat kepada si pendayung yang sedari tadi duduk termangu melihat kejadian itu. &lt;em&gt;“Sekarang kamu tahu kenapa saya lebih memilih dia sebagai penasehat saya?”&lt;/em&gt; Tanya Raja dengan lembut. Si pendayung dengan takzim mengakui bahwa dia hanya melakukan apa yang diminta raja dan tidak membuka mata dan pikiran untuk bisa memberikan info lain selain tugas yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh si penasehat merupakan pengejawantahan dari prinsip Value-added (nilai tambah). Dalam melaksanakan perintah raja, dia tidak hanya menjawab pertanyaan raja saja namun juga memberikan informasi lain yang dapat memberi bobot lebih dari info yang diminta. Dalam bekerja setiap orang memiliki tugasnya masing-masing dan memang sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Dan hasil pekerjaan kita akan menjadi lebih berbobot kalau kita dapat memberikan nilai tambah. Nilai tambah bisa juga ditunjukkan hanya dengan kerapian pekerjaan, memberikan alternatif analisa lain selain yang diminta atau bekerja dengan penuh kegembiraan karena orang lain akan merasa senang dan nyaman selama bekerja dan berinteraksi dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita diatas juga mengingatkan saya untuk bisa selalu “sadar” sepenuhnya akan kehidupan dan mencermati setiap keadaan sekitar. Dengan selalu “sadar” akan kehidupan kita akan bisa lebih melihat bahwa sebuah kejadian tidaklah berdiri sendiri namun selalu berkaitan dengan yang sudah dan yang akan terjadi. Dengan mencermati keadaan, akan membawa kita untuk bisa selalu bersyukur bukan hanya pada limpahan kebaikan yang kita terima namun juga atas segala hal-hal kecil dan remeh yang kita dapatkan setiap hari.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-9137572839975834221?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/9137572839975834221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=9137572839975834221' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/9137572839975834221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/9137572839975834221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/09/value-added.html' title='Value added'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-2589307928163202697</id><published>2007-09-05T01:35:00.000-07:00</published><updated>2007-09-05T01:37:53.160-07:00</updated><title type='text'>Houdini</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kemarin malam saya menyaksikan sebuah acara yang menarik di sebuah televisi swasta. Acara tersebut mengungkapkan beberapa rahasia sulap kelas tinggi yang selama ini mungkin kita tidak pernah tahu. Bila berbicara tentang dunia sulap selalu tidak lepas dari seorang master dalam hal melarikan diri (escaping) yaitu Houdini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Houdini adalah seorang magician kenamaan sepanjang masa dan juga seorang master dalam membuka segala macam jenis kunci. Dia selalu mengatakan bahwa tidak ada kunci di dunia ini yang tidak dapat dia buka dalam waktu 30 menit. Pernyataan ini bisa dilihat sebagai ungkapan kesombongan atau pencerminan rasa percaya diri yang begitu besar. Memang banyak bukti yang menunjukkan bahwa dia memang mampu melepaskan diri dari segala macam jenis kunci yang membelenggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan kesombongan itu ternyata bersambut. Masyarakat disebuah kota kecil di London memiliki penjara yang kokoh. Mereka sangat bangga akan kekokohan pintu-pintu sel penjara yang mereka miliki dan mereka menyambut ucapan Houdini dengan menantang ahli sulap itu untuk keluar dari sel penjara dikota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diiringi oleh genderang dan wartawan dari berbagai publikasi di dunia, Houdini melangkah masuk kedalam salah satu sel dengan angkuhnya. Setelah pintu penjara ditutup, dari balik jubahnya dia mengeluarkan senjata andalannya yaitu sebuah logam yang tipis,lentur, dan kuat yang biasa dia gunakan dalam pertunjukannya, untuk membuka pintu penjara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lebih dari 30 menit (waktu yang dijanjikan) Houdini ternyata belum juga berhasil membuka pintu penjara, ekspresi kesombongan yang selama ini terpancar dari mukanya perlahan mulai hilang. Satu jam kemudian pintu penjara itu masih belum juga terbuka dan keringat dingin mulai bercucuran di kepalanya. Hingga akhirnya dalam waktu 2 jam pandangan matanya mulai gelap, sebab Houdini tidak tahan dengan tekanan dan ketegangan batin yang dialaminya. Ketegangan yang memuncak itu membuat Houdini akhirnya jatuh pingsan sebelum berhasil membuka pintu penjara tersebut dan tubuhnya jatuh menimpa pintu penjara ternyata yang langsung terbuka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, pintu penjara tersebut tidak pernah dikunci sama sekali! tapi hanya daun pintunya saja yang ditutup. Namun pikiran Houdini-lah yang merasa yakin dan percaya bahwa pintu penjara tersebut telah ditutup dengan menggunakan kunci yang paling mutakhir. Dan tugas dia untuk membuktikan bahwa segala kunci sanggup dia buka. Dalam pikiran Houdini tidak terpikir sama sekali untuk mencoba membuka pintu itu terlebih dahulu sebelum berusaha membuka kuncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian diatas memberikan pelajaran yang paling berharga bagi saya: bukti bahwa kekuatan pikiran sangat luar biasa. Houdini bisa saja (dan memang terbukti selama ini) sanggup membuka pintu terkokoh atau kunci yang paling mutakhir karena kekuatan pikiran dan ketrampilannya. Pikirannya selalu diliputi keyakinan yang meledak-ledak bahwa dia sanggup membuka apapun yang terkunci. Pikirannya begitu kuat sehingga mengesampingkan hal-hal yang sederhana dan ternyata hal yang sederhana itulah yang mengalahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau direfleksikan dalam kehidupan kita: segala halangan yang menghadang dalam mencapai tujuan hidup kita memang bisa memperlambat jalan namun keputusan akhir ada di tangan kita. Pikiran kitalah yang dominan dalam menentukan kegagalan atau keberhasilan kita. Penuhilah pikiran anda dengan rasa optimisme dan keyakinan yang tinggi untuk bisa sukses di masa depan. Keyakinan dan optimisme itu hendaklah juga diimbangi oleh penuhnya kesadaran akan keadaan, lingkungan sekitar agar kita bisa dengan bijaksana dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-2589307928163202697?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/2589307928163202697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=2589307928163202697' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2589307928163202697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2589307928163202697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/09/houdini.html' title='Houdini'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-2068826317249664533</id><published>2007-08-15T17:40:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:03:07.175-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Merdeka!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di komplek perumahan saya terasa ada yang berbeda dengan hari-hari lain. Terdapat keriuhan di lapangan olah raga, terutama pada saat sabtu dan minggu dimana beberapa pertandingan olah raga diadakan. Di depan setiap rumah, para tetangga sudah mulai memasang bendera pertanda ada perayaan yang akan dijelang: Kemerdekaan Negara kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan identik dengan kondisi yang bebas dan terlepas dari sebuah belenggu, keterikatan dan ketergantungan pada sesuatu dan mulai menentukan keinginan secara mandiri. Kemerdekaan paling mudah diperlihatkan dengan terlepasnya ketergantungan secara fisik. Padahal hakekat sebenarnya dari kemerdekaan adalah meliputi dimensi yang lain juga yaitu, secara mental dan emosional. Banyak artikel di Koran, majalah maupun jurnal-jurnal yang menuliskan bahwa sudah waktunya kita menjadi manusia yang Merdeka. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah anda sudah merasa Merdeka? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita telaah lebih lanjut tentang diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa kemerdekaan adalah lepasnya terhadap sebuah ketergantungan. Ketergantung yang paling terlihat adalah pada apa-apa yang kita miliki. Banyak orang yang meletakkan kebahagiaan hidup pada benda-benda yang mereka sudah dan akan miliki. Kita sering merasa bahagia karena memiliki mobil baru, rumah baru atau jabatan yang baru. Bahkan seorang teman pernah terucap bahwa dia dan keluarga akan bisa bahagia kalau sudah mampu beli mobil. Sejatinya, hal-hal tersebut adalah sekedar pelengkap dan sekali waktu kita bisa saja kehilangan. Kita akan menjadi kehilangan pegangan dan keriaan manakala segala milik kita tersebut tidak lagi kita miliki. Karena itu janganlah menggantungkan asa kita pada apa yang kita miliki. Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh mensyukuri dan mencintai apa yang sudah kita miliki, sama sekali tidak. Tetaplah berusaha mencari dan memiliki sesuatu namun janganlah kemudian meletakkan kebahagiaan kita disana. Intinya adalah boleh untuk “memiliki” namun jangan sampai “dimiliki” oleh hal-hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan secara mental dan emosional adalah hal yang tersulit. Masing-masing dari kita sebenarnya memiliki “remote control” kehidupan. Dimana pada saat kita menekan tombol “Happy” pada remote control tersebut kita akan serta merta merasa gembira dan sebaliknya. Namun disadari atau tidak, banyak dari kita yang “remote control” kehidupannya dikendalikan oleh orang lain. Orang berbuat tidak menyenangkan akan membuat kita emosi, marah dan bahkan mendendam. Meskipun orang yang berbuat tersebut tidak sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan namun pikiran kita telah teracuni oleh amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang memberikan pujian kepada kita akan membuat kita senang. Apabila pekerjaan kita dikritik, kita akan sedih dan atau malah kehilangan percaya diri. Orang membantah pendapat yang kita utarakan, kita marah dan sakit hati. Begitu banyak bukti bahwa banyak hal diluar kita yang mengendalikan sikap, perasaan dan pikiran kita. Ini juga berarti kita membiarkan orang lain untuk bisa sekehendak hati menekan-nekan tombol “remote control” kehidupan kita. Kita masih tergantung pada orang lain untuk menentukan apakah kita bahagia atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah tuan atas diri kita sendiri dan kita jugalah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Bukannya orang lain atau bahkan benda-benda yang kita miliki. Kemerdekaan juga berarti bahwa kita dapat mengendalikan perasaan kita, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MERDEKA !&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-2068826317249664533?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/2068826317249664533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=2068826317249664533' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2068826317249664533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2068826317249664533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/08/merdeka.html' title='Merdeka!'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6696379379588000182</id><published>2007-08-08T01:01:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T18:53:42.322-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Target</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Minggu lalu saya makan siang bareng dengan 2 orang rekan lama saya sewaktu kuliah dulu. Andre adalah seorang cerdas lulusan dari Fakultas Ekonomi UGM. Rupanya karirnya di sebuah bank swasta cukup mencorong dan sudah 3 tahun ini dia dipercaya sebagai kepala cabang. Agung, rekan saya yang satu lagi seorang insinyur sipil, masih setia berkutat dengan profesi konsultan-nya dengan jabatan senior konsultan di sebuah biro konsultan manajemen asing. Kami bertiga dulu berada dalam 1 kelas ketika mengambil program master sekitar 10 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu Andre banyak bercerita mengenai posisi dia sebagai orang yang berkuasa di cabang dan tantangan-tantangan pekerjaan yang dihadapi. Kebetulan cabangnya adalah cabang yang cukup baik dalam menghasilkan keuntungan. “&lt;em&gt;Wah, tahun ini gua bakal abis-abisan nyari duit nih. Target yang diberikan dari kantor pusat naik hampir 100% dari tahun lalu!”&lt;/em&gt; ujarnya. “&lt;em&gt;Gua kan baru di cabang ini dan gua mesti nyari bisnis baru sebanyak itu…puyeng dah!”&lt;/em&gt;. Kemudian dia menjelaskan betapa kerasnya persaingan dunia perbankan sekarang dan nasabah juga mulai banyak pilihan dalam mencari bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung yang sedari tadi diam akhirnya bicara,” &lt;em&gt;Sebenarnya yang jadi masalah bukan angka target yang besar yang perusahaan berikan, tapi lebih kepada bagaimana cara kamu melihat dan berpikir terhadap angka itu”.&lt;/em&gt; Andre tampaknya belum paham maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung kemudian melanjutkan;“&lt;em&gt;Begini Ndre, kalau kamu melihat angka totalnya pasti kelihatan gede banget dan kamu akan berpikir gak bakalan bisa elo capai. Coba lihat dengan lebih sistematis, misal target perusahaanmu Rp.10 triliun tahun ini. Bagikan nilai Rp.10 triliun itu dengan jumlah kantor bank kamu yang ada 231 cabang. Jadi totalnya kan sekitar Rp.43,290 milliar per tahun per kantor. Trus coba deh bagi angka Rp.43,290 milliar itu dengan jumlah hari kerja per tahun. Anggap aja hari kerja efektif pertahun hanya 250 hari, jadi angka terakhir yang elo dapet sekitar Rp.173,160 juta perhari untuk setiap cabang. Dan aku yakin setiap cabang tentu targetnya tidak sama karena sangat tergantung dari kondisi ekonomi dan bisnis di tiap-tiap cabang, ya kan?. Udah gitu, bagi lagi angka Rp.173,160 juta itu dengan jumlah staff sales di kantormu, dapatlah target per-orangnya.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Andre mulai melihat alasan logis dari penjelasan tersebut. Sambil tangannya memencet-mencet kalkulator, dia berseru; ”&lt;em&gt;Berarti kalau misalnya aja ada nasabah gua yang mau naruh duitnya di deposito Rp.2 M aja berarti gua udah penuhi untuk target selama 11 hari dong..!”.&lt;/em&gt; Kemudian Agung melanjutkan,” &lt;em&gt;Nah dengan begitu kamu bisa memanfaatkan waktu yang lebih 10 hari itu untuk cari bisnis baru atau untuk me-maintain nasabah-nasabahmu supaya jangan lari ke bank-nya si Arif ini”&lt;/em&gt;. Saya hanya tersenyum saja mendengar penjelasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah menjadi kepala cabang dan karena itu saya  tidak bisa merasakan bagaimana rasanya dibebani oleh target-target. Hanya saja saya melihat cara berpikir sederhana yang dijelaskan tadi sebenarnya merupakan salah satu cara untuk mempermudah kerja kita. Saya pikir banyak benarnya pola pikir yang dijelaskan oleh Agung. Salah seorang kenalan saya seorang sales coordinator dari sebuah produk farmasi juga sering mengatakan demikian kepada jajaran sales-nya. Buatlah perhitungan target menjadi lebih detail dan sistematis. Dengan begitu kalian bisa membuat action plan yang baik dan sekaligus juga tahu bagaimana dan kapan target itu bisa dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan artikel LPB minggu lalu tentang sebuah Jam yang menolak ketika diminta untuk berdetak 31 juta kali dan baru mau berdetak untuk 1 kali tiap 1 detik., padahal kalau dijumlah secara total sama dengan angka awal yang diminta. Dari ilustrasi Agung tersebut mungkin tidak sepenuhnya benar dan bisa diaplikasikan di lapangan tapi pesan tersirat dari penjabaran itu adalah kita diajak untuk cerdik dalam mensikapi sebuah tuntutan (target) dengan membuat sebuah perhitungan dan perencanaan yang detail. Target apapun yang kita buat butuh sebuah perencanaan yang matang. Kalau kita ingin kehidupan kita lebih baik di masa depan, kita perlu membuat perencanaan yang matang agar kita tahu apa yang harus kita lakukan dan berapa lama sebuah keinginan itu bisa terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir penjelasan, Agung menambahkan,”&lt;em&gt;Perencanaan yang baik dan detail tetap akan hanya menjadi sebuah perencanaan kalau dalam diri kita tidak ada niat untuk mewujudkannya&lt;/em&gt;”. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6696379379588000182?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6696379379588000182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6696379379588000182' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6696379379588000182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6696379379588000182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/08/target.html' title='Target'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-1620009793529620500</id><published>2007-08-08T01:00:00.001-07:00</published><updated>2007-09-24T18:53:42.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Transformasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang didunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40. Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal,sehingga sangat menyulitkan waktu terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau&lt;br /&gt;Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan --- suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang keatas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut&lt;br /&gt;terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan&lt;br /&gt;ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melenakan. Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri anda. Jangan biarkan masa lalu menumpulkan asa dan melayukan semangat kita.&lt;br /&gt;Anda adalah elang-elang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan pasti terjadi. Maka itu, kita harus berubah!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-1620009793529620500?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/1620009793529620500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=1620009793529620500' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1620009793529620500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1620009793529620500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/08/transformasi.html' title='Transformasi'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6054500260735199253</id><published>2007-08-08T00:57:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T18:56:28.270-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Hilangkan Kesedihan dengan Bekerja</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Beberapa waktu yang lalu saya menelepon teman kuliah saya di Yogya, yang beberapa bulan lalu mendapatkan cobaan dengan meninggalnya anak kedua yang baru dilahirkannya. Saat itu kami mengobrol panjang lebar dan dia sudah kembali dapat berbicara dengan suaranya yang selalu terdengar bersemangat, menceritakan bagaimana dia melalui hari-harinya pasca musibah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Awalnya berat sekali buat aku untuk bisa menerima kenyataan bahwa kami telah kehilangan anak kedua kami. Butuh kekuatan besar untuk bisa mengabarkan hal ini kepada teman-teman lain. Kesedihan dan besarnya rasa kehilangan membuat aku menjadi tidak tahu harus bertindak dan bersikap seperti apa. Aku jadi tidak produktif dan semakin lama semakin tenggelam dalam ketidak berdayaan. Banyak rekan dan saudara yang minta aku dan suamiku pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Aku coba lakukan itu namun sejauh apapun aku pergi, pikiran kesedihan itu ternyata tidak pernah juga bisa jauh dari pikira&lt;/em&gt;nku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia melanjutkan: ”&lt;em&gt;Akhirnya atas desakan suami, aku kuatkan diri untuk kembali ke kampus dan kembali aktif mengajar dan membimbing mahasiswa yang beberapa waktu telah aku telantarkan. Aku langsung menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda, kembali aktif mencari hal-hal baru yang bisa aku sumbangkan ke kampusku dan aku mulai ikuti beberapa sayembara arsitektur yang diadakan. Ajaib! Seiring dengan semakin sibuknya diriku, secara perlahan pula kesedihan dan pilu akan kehilangan berangsur beralih rupa menjadi keikhlasan untuk merelakan dan kembali menumbuhkan semangat yang selama beberapa waktu terkubur. Kepercayaan diriku bangkit dan akhirnya sekarang aku seperti terlahir kembali dengan seragam semangat yang baru dalam menata dan menatap kehidupan&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya takjub dengan proses perubahan yang dia alami dan lakukan. Saya pernah membaca dalam sebuah buku bahwa salah satu hukum yang paling mendasar yang pernah dikemukakan dalam ilmu psikologi adalah: bahwa pikiran manusia, betapapun cerdasnya, sama sekali tidak mungkin bisa memikirkan lebih dari satu hal dalam waktu bersamaan. Kita tidak bisa memikirkan secara bersamaan rencana liburan akhir pekan dan pekerjaan kantor yang masih belum selesai dikerjakan. Memang kita bisa memikirkan kedua hal itu namun secara bergantian dan tidak dalam waktu yang sama kita bisa konsentrasi akan kedua hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sama juga dengan keadaan emosi (baca: perasaan): kita tidak dapat merasa bersemangat dan begitu bergairah dalam mengerjakan sesuatu namun pada saat yang sama kita juga merasa sedih dan patah semangat. Alam pikiran hanya dapat menerima satu jenis perasaan dalam satu waktu. Perasaan (emosi) negatif seperti rasa benci, sedih, takut, cemburu dan iri hati ibarat angin dengan energi yang dinamis dan kekuatan yang besar yang dapat dengan mudah mengusir dan menghancurkan pikiran bahagia, kedamaian dan ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi negatif dengan kekuatannya dapat kapan saja merasuki pikiran kita terutama apabila pikiran kita “kosong” dan saat kita bebas dan bersantai-saat-saat yang seharusnya kita merasa bahagia. Pikiran itu seperti alam semesta, dimana “Alam tidak menyukai/ menerima adanya kehampaan”. Begitu kehampaan akan terjadi, saat itu pula akan ada zat yang mengisinya. Begitu juga pikiran, sekali pikiran anda “kosong”, emosi apapun akan bisa masuk untuk mengisi “kekosongan” itu. Sayangnya, emosi-emosi yang paling aktif untuk berusaha masuk kedalam pikiran kita adalah emosi negatif seperti: kenapa hidup saya seperti berjalan ditempat? Kenapa saya tidak punya banyak uang seperti rekan yang lain? Kenapa atasan saya memarahi saya hari ini? Akan seperti apa hidup saya kedepan? Dan macam-macam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Urip kuwi mung mampir ngombe&lt;/em&gt;” salah satu pepatah jawa yang sangat saya kenal, yang kalau ditilik artinya senada dengan “bahwa hidup itu singkat”. Nah kalau kita sudah tahu bahwa hidup itu sebenarnya singkat, apakah anda masih mau dan rela ke-“singkat”-an itu sepertiga, seperempat atau bahkan separuhnya anda isi dengan kesedihan, kekecewaan dan keterpurukan pikiran? Kalau anda sejalan dengan saya bahwa hidup itu harus bermakna, mari kita singsingkan lengan baju dan mulai untuk mengisi hidup ini dengan menyibukkan diri dan pikiran kita dengan sesuatu yang positif dan berguna bukan hanya buat diri sendiri tapi lebih baik lagi buat orang lain! &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6054500260735199253?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6054500260735199253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6054500260735199253' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6054500260735199253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6054500260735199253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/08/hilangkan-kesedihan-dengan-bekerja.html' title='Hilangkan Kesedihan dengan Bekerja'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-7477308430777527831</id><published>2007-08-08T00:54:00.001-07:00</published><updated>2007-09-24T18:53:42.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Kepiting</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting bahkan mungkin kita sering memakannya, tapi tidak banyak yang tahu sifat sebenarnya dari kepiting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah.&lt;br /&gt;Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah tanpa diikat. Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini adalah kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat mereka bergerak perlahan hendak keluar dari baskom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seorang penangkap kepiting yang handal tidak khawatir meskipun hasil buruannya selalu berusaha untuk meloloskan diri. Resepnya hanya satu, yaitu karena si pemburu tahu betul sifat kepiting. Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, kepiting-kepiting lainnya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi kepiting lain akan menariknya turun dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar. Keesokan harinya sang pemburu tinggal memasak mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam kehidupan ini, tanpa sadar kita juga terkadang menjadi dan berperilaku seperti kepiting-kepiting itu. Kita yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita bersikap malah mencurigai, dan berpikiran jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang tidak benar. Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sebenarnya secara perlahan membunuh diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu adalah proses yang kita lalui dan seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan. Namun setidaknya kita telah melangkah lebih maju dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’: (1). Selalu mengingat kesalahan orang lain (bisa orang lain atau situasi yang sudah lampau) dan menjadikannya sebagai suatu prinsip/pedoman dalam bertindak. (2). Banyak mengkritik orang lain dan situasi tapi tidak ada keinginan dirinya untuk ikut berubah dan memperbaiki diri. (3). Suka membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri. Orang-orang seperti ini akan menjadi penghambat dalam lingkungannya dan menghambat dirinya sendiri untuk maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak rekan saya yang ”diprogram” oleh orang tuanya untuk jadi pemenang dalam setiap hal yang dia lakukan. Namun sayangnya banyak juga orang tua yang lupa untuk menjelaskan apa dan siapa sebenarnya ”pemenang” sejati. Bagaimana sebenarnya seorang ”pemenang” dan bagaimana proses kemenangan sebaiknya diraih. Pemenang bukanlah semata menduduki peringkat teratas dan nilai terbaik, namun lebih kepada kemauan dan kemampuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, berorientasi pada kemajuan dan berguna bagi sekitarnya&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-7477308430777527831?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/7477308430777527831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=7477308430777527831' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7477308430777527831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7477308430777527831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/08/kepiting.html' title='Kepiting'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-4439986064511915037</id><published>2007-08-08T00:50:00.000-07:00</published><updated>2007-08-08T00:52:12.069-07:00</updated><title type='text'>Terima kasih</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saat makan siang bersama dengan seorang teman lama saya, dia kelihatannya sedang kesal karena terlihat dari air mukanya yang keruh. Begitu kami mulai duduk untuk memesan makanan, dia mulai mengungkapkan perasaan kesalnya terhgadap kelakuan saudara iparnya yang baru saja dibantu keluar dari permasalahan keuangan. “&lt;em&gt;Nggak tahu diri benar iparku itu. Udah ditolong dengan membantu membayarkan tagihan kartu kreditnya yang macet, masak nggak bilang terima kasih sama sekali!&lt;/em&gt;” ungkapnya. “&lt;em&gt;Bahkan menelepon kembali pun nggak. Apa dia nggak kerasa kalau sudah ditolong orang ya?..nyesel juga aku udah nolong dia, kalau aku tahu begini, aku nggak akan membantunya se-sen pun!”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa mendengarkan segala keluh kesah dan mencoba untuk menenangkan perasaan marahnya agar tidak semakin menjadi besar. Perasaan kesal seperti yang teman saya rasakan adalah wajar dan mungkin banyak diantara kita (bahkan saya sendiri) masih sering merasa kesal apabila orang yang kita beri pertolongan tidak mengucapkan terima kasih atas usaha kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Orang yang marah, hatinya penuh dengan racun&lt;/em&gt;” begitulah Konfusius pernah mengatakan. Dan saya merasa kasihan kepada teman saya tersebut karena saat itu (dan mungkin sampai kini) hatinya masih teracuni oleh sebab amarahnya. Perlu kita sadari bahwa manusia itu bermacam ragam tabiat-nya, itu sudah kodrat manusia. Tabiat untuk selalu berterima kasih terhadap setiap kebaikan tidaklah dimiliki oleh setiap manusia. Dalam sebuah buku pernah saya baca bahwa “&lt;em&gt;Tahu untuk berterima kasih kepada setiap kebaikan dan pemberian adalah buah dari pendidikan yang baik. Dan kita tidak bisa menemukan ini di setiap diri manusia&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebaiknya mengetahui dan memaklumi bahwa tidak semua manusia memiliki sifat “tahu berterima kasih” dan juga kadang manusia “lupa” untuk berterima kasih. Jadi kalau ada orang yang kita tolong kemudian ternyata dia tidak berucap terima kasih adalah hal yang wajar. Oleh karena itu, sebaiknya kita jangan selalu mengharap untuk mendapatkan ungkapan rasa terima kasih, sebab hal itu akan membuat hati kita jadi jengkel dan kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dipraktekkan oleh teman saya yang lain, seorang eksekutif muda yang bekerja di sebuah kedutaan besar asing. Setiap kali saudara-saudaranya membutuhkan bantuan dana (anak sekolah, masuk rumah sakit, bahkan untuk bayar hutang) mereka selalu datang ke teman saya ini. Sewaktu saya tanya apakah saudara-saudaranya berucap terima kasih dan kemudian datang untuk membayar kembali uang yang dipinjam, dia bilang tidak. Teman saya coba mensikapi hal tersebut dari sisi yang berbeda. Dia melihat bahwa apa yang dilakukannya semata-mata adalah ibadah karena Allah dan tidak mengharapkan balasan di dunia tapi nanti saat dirinya berpulang pada-Nya. Karena itulah dia selalu gembira dan iklhas saat memberikan bantuan dan tidak terpenjara dalam amarah dan kesal karena merasa perbuatan baik dan pemberiannya tidak berbalas langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya agaknya mendekati gambaran syarat-syarat Manusia Ideal yang dijabarkan oleh seorang filsuf: Aristoteles. “&lt;em&gt;Manusia Ideal&lt;/em&gt;,” kata Aristoteles,”&lt;em&gt;Adalah orang yang merasa gembira bila dapat berbuat baik kepada orang lain, dan merasa malu bila menerima kebaikan dari orang lain. Sebab memberikan kebaikan adalah menggambarkan keagungan budi seseorang&lt;/em&gt;.” Kalimat Aristoteles itu senada sepengertian dengan sebuah cerita dalam sebuah pelajaran agama yang saya dengar waktu SD dulu, sebuah kisah dimana seorang Nabi telah berhasil menyembuhkan 10 orang kusta. Dan dari 10 orang kusta yang sembuh itu hanya ada satu yang mengucapkan terima kasih! Namun sang Nabi tersebut tidak mempermasalahkan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabiat dapat berterima kasih tidak serta merta tumbuh sendiri, namun perlu dipupuk dan disiram laksana bunga yang terawat. Tidak heran, seringkali kita melihat (bahkan mungkin kita lakukan sendiri) kita selalu bilang kepada anak balita kita untuk jangan lupa bilang terima kasih ketika anak kita mendapatkan sesuatu dari orang lain. Namun pembelajaran itu akan sia-sia kalau kita hanya bisa meminta mereka untuk selalu berterima kasih tanpa kita juga selalu menunjukkan bagaimana caranya. Salah satu saudara saya yang mempunyai anak balita sering kesal melihat anaknya susah (atau lupa) untuk berterima kasih saat mendapatkan sesuatu dari orang lain. Saya seketika tahu sebabnya, ketika saudara saya menerima sesuatu dia juga ternyata tidak (atau lupa) untuk berucap terima kasih! Seorang anak kecil akan lebih cepat belajar dari apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, agar hidup kita dapat lebih bahagia: janganlah memikirkan dan mengharapkan ucapan terima kasih dari orang yang anda bantu, namun bergembiralah karena anda dapat memberi dan masih memiliki kesempatan untuk membantu orang lain.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-4439986064511915037?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/4439986064511915037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=4439986064511915037' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4439986064511915037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4439986064511915037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/08/terima-kasih.html' title='Terima kasih'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-2456156910899814784</id><published>2007-07-18T02:15:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:03:45.884-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><title type='text'>Hati</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada sebuah cerita, dikisahkan bahwa Tuhan ingin bersembunyi sementara dari umat-Nya yang tiada henti-hentinya memohon bantuan-Nya. Para malaikat banyak memberikan usul. Ada yang mengusulkan agar Tuhan bersembunyi di puncak gunung yang tertinggi, bersemayam sementara di lautan yang paling dalam dan tempat-tempat lain yang tiada mungkin dijamah dan didatangi oleh manusia. Namun Tuhan masih bimbang akan usulan-usulan tersebut, sampai akhirnya ada sebuah usulan yang sederhana: &lt;em&gt;“Tuhan, bersembunyilah di hati sanubari manusia karena tempat itulah yang paling jarang didatangi oleh manusia”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hati disini bukanlah bermakna harfiah berupa organ yang berada dalam tubuh manusia. Hati sanubari lebih bermakna spiritual yaitu pada jiwa seseorang termasuk juga pikiran. Hati adalah cerminan sekaligus penyimpan memory dari segala perilaku dan juga perlakukan orang terhadap kita. Hati kita akan menyimpan rasa sakit apabila kita dizalimi oleh orang lain, karena itu orang menyebutnya sakit hati. Hati juga sebagai ”penjaga” segala perilaku, perkataan dan perbuatan saat kita berkehidupan sehari-hari karena itu bila kita akan berpisah dengan seseorang kita seringkali mengatakan ”hati-hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita mulai mencintai seseorang akan disebut sebagai ”jatuh hati” dan apabila kita kemudian mencintainya dengan sungguh-sungguh kita akan menyebutnya dengan ”mencintai sepenuh hati”. Seorang anak yang dilahirkan dari dua orang yang saling mencintai akan disebut sebagai ”Buah hati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh kata-kata diatas menunjukkan betapa peran hati sanubari selalu menjadi pusat dari setiap laku dan pikir kita. Hati adalah cermin. Apa yang kita lakukan terus menerus akan berpengaruh dan berbekas pada hati. Laku dan pikir yang baik akan membuat hati kita selalu bersih dan cemerlang. Sementara hal-hal tercela akan membuat hati kita selalu diselubungi oleh kabut kelam yang semakin lama semakin membuat hati kita menjadi hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang hitam lambat-laun akan berkurang kepekaannya akan keindahan, kebenaran sejati dan kesucian. Dan hati yang hitam akan dengan sangat mudah dihinggapi oleh penyakit-penyakit hati. Penyakit-penyakit hati yang sering bersemayam dalam hati adalah Sombong, merasa lebih mulia, lebih pintar dan lebih baik dari orang lain. Serakah, keinginan untuk selalu menguasai dan mendapatkan lebih banyak dari orang lain serta ketiadaan keinginan untuk saling berbagi dengan orang lain. Iri dan dengki, yang selalu menyimpan rasa benci bila melihat orang lain lebih pandai, lebih baik, lebih kaya dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati adalah cermin sekaligus ”penyaring” dari apapun yang hendak kita lakukan. Bila kita terpancing untuk melakukan sesuatu kecurangan, bercermin dan bertanyalah pada hati kita. Bersih dan cemerlangnya sebuah hati sangat dipengaruhi oleh asupan ”makanan” yang kita konsumsi setiap waktu. ”Makanan” itu dapat berupa segala kejadian yang kita lihat, informasi yang kita baca, cerita yang kita dengar dan nilai-nilai spiritual yang kita yakini dan amalkan. Namun ”makanan” terbaik yang harus dikonsumsi oleh hati adalah dengan dengan sesering mungkin kita mendekatkan diri dengan mengunjungi Sang Pencipta yang selalu bersemayam di hati setiap insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali teringat salah satu lagu yang sangat saya sukai yang syairnya berbicara mengenai Hati:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Jagalah hati jangan kau kotori. Jagalah hati lentera hidup ini. Jagalah hati jangan kau nodai. Jagalah hati cahaya Illahi. Bila hati kian bersih. pikiranpun akan jernih. Semangat hidup nan gigih. Prestasi mudah diraih.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Selamat bekerja!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-2456156910899814784?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/2456156910899814784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=2456156910899814784' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2456156910899814784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2456156910899814784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/07/hati.html' title='Hati'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-7386076612131659480</id><published>2007-06-21T16:53:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T18:53:42.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Lempar dadu Anda Segera!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu siang pada hari Sabtu saya melihat beberapa anak kecil sedang berkumpul dan bermain sesuatu di teras rumah tetangga saya. Kelihatannya mereka asyik sekali dengan permainan itu. Ternyata mereka sedang bermain Ular Tangga, sebuahpermainan yang sudah lama tidak lagi saya lihat dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ular tangga adalah permainan yang sederhana. Ada banyak kotak-kotak yang harus dilewati dan beberapa terdapat gambar Tangga dimana kita bisa naik ke tingkat diatasnya dan gambar Ular yang mengakibatkan kita bisa turun dari tempat semula. Perjalanan si pemain akan berakhir di sebuah kotak Finish yang terletak di tempat paling atas dari permainan itu. Untuk menjalani kotak-kotak sampai ke tujuan akhir itu kita harus mengocok sebuah dadu. Angka yang ditunjukan oleh dadu itulah yang akan menentukan berapa kotak yang akan kita lalui dan apakah Tangga atau Ular yang akan kita temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dicermati lagi, permainan Ular Tangga sesungguhnya merupakan penggambaran yang baik mengenai kehidupan kita. Kotak-kotak yang harus kita lalui menggambarkan tahapan kehidupan yang harus kita lewati. Kehidupan harus selalu bergerak maju begitu juga kehidupan. Kotak-kotak yang kita jalani dalam permainan Ular-Tangga adalah gambaran dari tahapan kehidupan yang kita lalui: masa kanak-kanak, sekolah, bekerja, kehidupan dengan sanak saudara, perkembangan spiritual dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang dalam perjalanan kehidupan itu kita mengalami cobaan dan musibah yang menyebabkan kita harus “turun” dari posisi yang sudah kita miliki. Musibah atau cobaan dalam permainan Ular-Tangga ditunjukkan dengan gambar Ular. Penurunan ini bisa berasal dari dalam diri sendiri ataupun berasal dari sesuatu yang berada di luar kendali kita. Misal, kondisi ekonomi memburuk atau sebuah kondisi perusahaan sedang kesulitan finansial menyebabkan perusahaan terpaksa memberikan pesangon kepada karyawannya. Sedangkan rasa putus asa, pesimis, ingkar terhadap perubahan, depresi adalah penurunan yang lebih berasal dari dalam diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangga dapat diibaratkan dengan prestasi, reward dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kehidupan seseorang. Misal, seseorang mendapatkan promosi kenaikan jabatan dan pendapatan yang bertambah karena prestasi pekerjaannya yang meningkat secara signifikan. Seseorang yang mendapatkan reward yang besar karena membantu mendatangkan keuntungan kepada perusahaan atau seseorang yang berhasil menunaikan ibadah haji setelah menabung sekian lama. Peningkatan kualitas ini bisa saja yang terlihat oleh kasat mata (materi, jabatan) atau lebih bersifat pada kualitas bathin seseorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Kalau dalam permainan Ular Tangga anak-anak kita tahu dimana ujung perjalanan kita dan dimana saja letak Ular dan Tangga itu. Dalam Ular-Tangga kehidupan kita tidak tahu berapa banyak kotak yang harus kita lewati dan dimana saja kita akan menemui Ular ataupun Tangga. Suka atau tidak dengan permainan Ular Tangga Kehidupan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melempar dadu untuk bisa melangkah maju. Atau ia putuskan untuk terus saja ada di petak yang sekarang ditempati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Untuk melangkah maju, seorang pemain Ular Tangga harus melempar dadu. Melempar dadu ini menggambarkan usaha kita untuk maju. Namun jumlah angka yang keluar sebagai dasar kita bergerak adalah mutlak milik Yang Maha Tahu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah-lah yang mengatur. Kuasa kita hanyalah sebatas berusaha dengan ibarat lemparan dadu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadunya kembali dan menyangka bahwa di kotak itulah nasib terakhirnya. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah mau melempar dadu lagi dan kembali kedalam permainan Ular Tangga Kehidupan. Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.&lt;br /&gt;Karena itu, setiap kali menemui ”Ular”, segeralah lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian banyak lemparan (baca:usaha), kita pasti akan menemukan ”Tangga” yang akan mengangkat kita pada kehidupan yang lebih baik!&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-7386076612131659480?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/7386076612131659480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=7386076612131659480' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7386076612131659480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7386076612131659480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/06/lempar-dadu-anda-segera.html' title='Lempar dadu Anda Segera!'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5729415521169645003</id><published>2007-06-18T18:07:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:01:33.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self development'/><title type='text'>Berikan Maaf Dengan Segera!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu malam saya mendapat telepon dari saudara saya dari luar kota. Diawali dengan basa-basi menanyakan kabar dan keluarga kemudian sampai pada tujuan utama: curhat. Dia merasa kesal dengan perlakuan adik iparnya yang seolah-olah bertindak tidak adil terhadap bapak mertuanya (bapaknya saudara saya) yang tinggal satu rumah dengan si adik ipar itu. Dia kesal dengan perlakuan yang menurutnya tidak adil, lebih kesal lagi karena adiknya yang menjadi suami dari adik ipar tersebut ternyata tidak berbuat banyak untuk merubah sikap sang adik ipar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakit hati rasanya mas kalau dengar cerita dari saudara yang lain mengenai perlakuan adik iparku itu”, ujarnya dengan ketus. “Aku sepertinya susah untuk memaafkan perlakuan dia terhadap bapak selama ini”. Saya yang mendengar limpahan curhatnya hanya bisa merespon sewajarnya karena saya sendiri tidak tahu bagaimana permasalahan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak kejadian yang dengan mudah memancing emosi amarah kita. Kita bisa marah karena orang lain tidak berlaku seperti apa yang kita hendaki. Kita bisa marah karena dunia seolah berjalan tidak mengikuti apa mau kita. Kita marah pada tukang ojek yang dengan seenaknya mengambil jalan kita dll. Kadang kita juga marah karena orang lain yang berlaku apa adanya dan seolah (atau memang sebenarnya) tidak tahu bahwa kita benci kepadanya. Akibat kemarahan itu kita dengan sadar menimbun amarah dalam otak kita berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak ibarat tubuh itu sendiri, yang perlu dengan kontinu diberi asupan gizi yang sehat dan seimbang agar otak selalu bertumbuh dan bekerja dengan baik. Makanan bagi otak kita adalah apapun yang kita pikirkan: kebencian, amarah, syukur, positif, optimis dll. Benci, iri dan marah ibarat makanan “beracun” bagi pikiran kita karena dia sanggup mematikan rasa optimis, cinta kasih dan toleransi terhadap orang lain. Apabila “makanan beracun” ini selalu dikonsumsi dalam dosis yang tetap bahkan meningkat akan merusak dan mempengaruhi tubuh yang lain. Ia akan mempengaruhi peredaran darah, sistem immun, meningkatnya tekanan jantung dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan yang terpendam disinyalir merupakan penyebab dari pelbagai penyakit seperti pusing, migrain, sakit leher, pinggang, insomnia, ketakutan dan yang lebih ekstrem lagi adalah timbulnya depresi. Kemarahan ini akan menetap karena kita sebagai manusia punya kecenderungan untuk senantiasa melakukan satu hal: ‘Enggan untuk meMAAFkan orang lain!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kebahagiaan kehidupan kita perlu mengubah cara pandang kita karena sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan diluar. Jangan sampai sikap orang lain dapat mempengaruhi kebahagiaan kita. Untuk bisa melakukan ini kuncinya hanya satu yaitu berusaha untuk memaafkan. Memaafkan orang lain sebenarnya bukanlah untuk kebaikan orang tersebut, tetapi untuk kebaikan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempraktekkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Perbuatan memaafkan pasti menyembuhkan siapa saja yang rela memaafkan. Ia bagai melepaskan beban berat dari pundak kita. Memaafkan bukan hanya pada sikap orang lain tapi juga memaafkan pada masa lalu kita yang selama ini kita rasakan menghalangi perkembangan jiwa anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah selalu akan hukum keseimbangan alam, dimana berlaku: siapa yang menabur benih, suatu saat dia akan juga menuai. Kalau ada seseorang yang memperlakukan saya dengan tidak baik (menzalimi), saya malah merasa kasihan karena sebenarnya orang tersebut sebenarnya sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika dia akan juga dizalimi oleh orang lain, itulah hukum keseimbangan alam. Segeralah maafkan, Tuhan saja Maha Memaafkan dan Pengampun terhadap ciptaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahatma Gandhi pernah berujar: “Memaafkan bukan menunjukkan bahwa kita lemah, namun sebaliknya Memaafkan merupakan bukti bahwa kita adalah orang yang kuat”. Karena ternyata memaafkan orang lain dengan ikhlas dan tulus adalah suatu sikap yang sulit untuk dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5729415521169645003?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5729415521169645003/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5729415521169645003' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5729415521169645003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5729415521169645003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/06/berikan-maaf-dengan-segera.html' title='Berikan Maaf Dengan Segera!'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5678051020675812897</id><published>2007-06-05T22:41:00.000-07:00</published><updated>2007-06-05T22:42:46.511-07:00</updated><title type='text'>Tujuan Bekerja</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu hari saya menerima telepon dari sobat lama saya sewaktu bekerja di sebuah kantor konsultan. Dia mengabarkan bahwa dia sudah mengundurkan diri dari posisi barunya yang cukup baik di sebuah Bank Swasta besar. Saya kaget mendengar kabar itu karena setahu saya dia bahkan belum melewati 1 tahun bekerja di tempat barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu saya tanya apakah keputusan mengundurkan diri itu terkait dengan besaran gaji dan tunjangan yang tidak sesuai dengan yang dia harapkan atau posisi yang kurang tinggi, dia menjawab bukan. Keputusan ini diambil karena dia ingin bekerja sesuai dengan apa yang dia senangi dan cita-citakan sejak dulu: mengajar. Materi dan posisi yang tinggi tidaklah menarik lagi buat dia. Bagi dia kepuasan bekerja adalah dengan melakukan hobi sebagai sebuah pekerjaan, dan itu adalah mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda sekali dengan teman saya yang lain. Teman saya yang satu ini lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung. Otak cerdas, keinginan untuk selalu belajar akan hal baru dan semangat yang tinggi membuatnya dengan mudah mencapai posisi yang tinggi di sebuah perusahaan. Namun setiap kali dia bekerja tidaklah lebih dari 2 tahun. Beberapa kali saya dengar dia pindah tempat kerja yang berlainan industri dan terakhir saat kami bertemu dia bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi swasta besar. “&lt;em&gt;Gua belum tahu apa yang cocok buat gua, dan seringnya gua pindah kerja adalah untuk mencari yang cocok dan juga buat nyari duit lebih banyak&lt;/em&gt;,” ungkapnya suatu saat. Entah mana yang lebih utama: cari kecocokan dalam bekerja atau cari uang lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengamini bahwa bekerja adalah sebagian wujud dari ibadah kepada Tuhan. Dan sadari atau tidak saat kita memutuskan untuk bekerja (apapun pekerjaan itu), sejatinya kita juga sudah membuat “perjanjian” dengan Tuhan bahwa kita melakukan pekerjaan ini semata karena juga sebagai ibadah kepada-Nya. Jadi saat kita menandatangani perjanjian dengan kantor baru kita sebagai seorang pegawai baru, secara paralel imajiner kita juga sebenarnya sudah menandatangani “perjanjian” yang sama dengan Sang Pencipta. Kalau dengan kantor perjanjian itu lebih bermakna pada hal-hal fisik (kehadiran, prestasi, hasil dll), sedangkan perjanjian dengan Tuhan lebih bermakna spiritual-ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap beribadah kita selalu dituntut untuk bisa khusyuk, sepenuh hati dan menampilkan yang terbaik dari diri kita. Karena Bekerja itu juga adalah Ibadah, maka tuntutannya pun akan sama. Bekerja dengan lebih khusyuk (konsentrasi), sepenuh hati dan berusaha selalu memberikan yang terbaik dalam pekerjaan kita. Kalau kita berlaku sebaliknya; bekerja asal-asalan, menganggap bekerja sebagai beban, tidak sepenuh hati, berlaku curang berarti sama juga dengan tidak melakukan ibadah dengan baik. Berarti juga kita seperti tidak menghargai Tuhan sebagai Sang Pencipta kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bekerja dengan sungguh-sungguh, orientasi selalu pada hal-hal terbaik yang bisa kita berikan pada pekerjaan kita, akan memberikan manfaat pada banyak hal. Prestasi kita bagus di kantor, kita akan diganjar dengan penghargaan materi yang baik, kita akan menjadi lebih percaya diri dalam bekerja dan selain itu Yang Maha Adil juga akan melimpahi kita dengan pahala sebagai tabungan kebaikan untuk kehidupan kita nanti. Rekan saya dari Compliance pernah menulis sesuatu yang menarik: ‘&lt;em&gt;bekerja dengan sepenuh hati tidak saja akan membuat hidup kita menjadi lebih “hidup” tapi juga memberi kesempatan bagi jiwa untuk selalu tumbuh’&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali melihat ke dalam diri saya sendiri. Saya dulu berkeinginan untuk menjadi seniman lukis. Namun karena kurang direstui oleh orang tua akhirnya saya menjadi arsitek. Dan sekarang saya malah bekerja di perbankan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia arsitektur. Selama rentang 10 tahun masa bekerja saya banyak belajar mengenai hakekat bekerja. Saya tidak pernah tahu apa pekerjaan yang cocok dengan pribadi saya. Sesuatu yang saya tahu pasti adalah saya akan selalu berusaha menyukai dan melakukan apapun pekerjaan saya dengan sepenuh hati serta berusaha selalu memberikan yang terbaik. Karena apapun yang saya lakukan untuk hidup selama saya bekerja sejatinya saya juga sedang beribadah.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5678051020675812897?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5678051020675812897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5678051020675812897' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5678051020675812897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5678051020675812897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/06/tujuan-bekerja.html' title='Tujuan Bekerja'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-4901219225289110283</id><published>2007-06-05T22:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T18:53:42.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Asah Kapak Anda!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebuah artikel menarik masuk dalam email saya minggu lalu dari sobat saya di Kantor Pusat. Tulisannya bercerita mengenai seorang penebang kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak penebang kayu yang beranjak besar mengutarakan niatnya untuk membantu ayahnya dalam menebang kayu di hutan. Si Ayah menyambut gembira keinginan itu dan memberikan kapak kesayangannya kepada sang anak. Maka mulailah sang anak bangun pagi, pergi bekerja selama 10 jam dan berhasil menebang 10 pohon setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu dan musim berganti, sang anak tetap konsisten dengan pekerjaan dan kebiasaannya. Selalu bangun pagi kemudian pergi ke hutan selama 10 jam setiap hari. Namun anehnya seiring berjalannya waktu, pohon yang ditebangnya semakin berkurang dan berkurang dari waktu ke waktu. Awalnya dia dapat menebang 10 pohon dalam waktu 10 jam, tetapi jumlah tersebut semakin berkurang menjadi 9, 8, 7 dan saat ini dia hanya bisa menebang 5 pohon dalam waktu 10 jam. Ayahnya pun menjadi heran dengan keadaan ini dan menanyakan kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya mengatakan bahwa tidak ada yang berubah dari dirinya, dia tetap bangun pagi seperti biasa, bekerja selama 10 jam seperti hari-hari lainnya dan tetap bersemangat dalam bekerja. Saat ditanyakan apakah pernah sesekali mengasah kapak yang digunakan agar selalu tajam, barulah si anak mengerti. Selama ini dia bekerja dengan giat dan bersemangat namun dia lupa untuk mengasah kapak yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita diatas mengingatkan saya akan buku Stephen Covey yang terkenal ”7 Habits of Effective People” terutama Habit ke 7 ”Sharpen  the Saw” (asahlah gergaji anda). Dalam kalimat itu tersirat makna bahwa ada saatnya manusia perlu berhenti sejenak untuk instropeksi, belajar, berlatih, evaluasi, penyegaran, mengambil jarak dari lingkungan untuk ”mengisi baterai”-nya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih jelas dalam ingatan saya waktu ayah saya ikut kursus bahasa Inggris sewaktu beliau masih bekerja. Yang membuat saya kagum sekaligus geli adalah karena beliau mengambil kursus dari taraf basic yang rata-rata pesertanya adalah anak SD dan SMP sedangkan ayah saya waktu itu sudah berumur 50 tahun. Waktu saya tanyakan apa tidak merasa malu bergabung dengan anak-anak dalam satu kelas, beliau malah menasehati. ”Bagi Bapak belajar itu bisa kapan saja dan tidak perlu malu. Kita harus malu kalau kita melakukan kesalahan dan kecurangan. Lagipula bapak sekarang malah senang punya banyak teman walau mereka anak-anak”, jawab beliau saat itu. Akhirnya setelah 2 tahun beliau dapat menyelesaikan kursus itu sampai tingkat advance dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat belajar beliau yang tinggi itu saya praktekkan pada diri saya. Pada bulan Ramadhan sebelas tahun yang lalu, saya ingin sekali ikut pesantren Ramadhan yang diadakan oleh sebuah Pondok Pesantren di Yogya. Namun karena terlambat mendaftar ternyata kelas dewasa sudah penuh dan hanya tinggal kelas anak-anak yang masih bisa diikuti (SD dan SMP). Karena keinginan belajar sudah begitu kuat akhirnya saya setuju untuk ikut kelas anak-anak. Petugas yang saat itu melayani agaknya ragu dengan keinginan saya, sampai akhirnya saya yakinkan bahwa saya siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren Ramadhan itu dilaksanakan selama 3 minggu dan semua peserta menginap di pesantren tersebut. Hampir semua peserta adalah anak-anak SD dan SMP dan hanya saya yang kuliah S-2. Saat pertama kali masuk banyak yang menganggap bahwa saya adalah guru mereka dan mereka tidak percaya waktu saya katakan bahwa sayapun murid seperti mereka. Saya merasa tidak terganggu dengan usia teman-teman baru saya saat itu karena fokus saya adalah saya mau belajar dan mengasah pemahaman saya mengenai agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan, kita seringkali terlalu bersemangat dan larut dalam rutinitas kita sehari-hari dan lupa bahwa ada hal-hal penting yang harus terus kita asah agar kita tidak menjadi tumpul.&lt;br /&gt;Kita perlu memberi kesempatan kepada diri untuk dapat mengasah ”kapak” kita agar selalu tajam. Kita perlu mengasah diri dengan hal-hal baru agar kita dapat selalu siap akan tantangan yang akan kita jelang di depan. Asahlah diri anda dengan kemahiran dan pengetahuan baru agar anda dapat bekerja lebih baik, asahlah mata bathin dan jiwa anda agar anda bisa menjadi manusia yang lebih bijaksana. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-4901219225289110283?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/4901219225289110283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=4901219225289110283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4901219225289110283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4901219225289110283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/06/asah-kapak-anda.html' title='Asah Kapak Anda!'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5344879871271029945</id><published>2007-05-23T03:10:00.000-07:00</published><updated>2007-05-23T03:12:29.804-07:00</updated><title type='text'>Memberi - Menerima</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sekali waktu saya menerima email dari salah seorang rekan pembaca setia LPB dari Solo, yang menanyakan pendapat saya mengenai Karma. Mungkin anda sering mendengar kata-kata Hukum Kharma tapi bagaimana memaknainya bisa jadi kita mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Saya lebih suka menyebutnya sebagai &lt;strong&gt;Prinsip Memberi-Menerima&lt;/strong&gt; (dalam artikel lain disebut sebagai Prinsip Sebab-Akibat). Dari beberapa artikel yang saya baca, Prinsip Memberi - Menerima ini sejatinya adalah inti dari kehidupan itu sendiri. Banyak contoh-contoh dalam kehidupan saya maupun orang lain yang merupakan contoh baik dari prinsip ini. Seperti yang saya dengar dari pengalaman seorang sopir taksi yang saya temui suatu siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopir taksi Blue Bird yang saya temui ini berasal dari Pool Penggilingan dan sehari sebelumnya dia mengalami sebuah kejadian yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Dia membantu seorang ibu melahirkan di dalam taksinya. “&lt;em&gt;Siang itu saya lihat seorang ibu yang sedang hamil tua menyetop taksi yang ada di depan saya, tapi ternyata taksi itu tidak mau berhenti. Karena saya ada dibelakang taksi tersebut saya berhenti,”&lt;/em&gt; ujarnya memulai cerita. “&lt;em&gt;Ternyata belum sempat turun dari taksi, di depan Rumah Sakit Persahabatan ibu tersebut melahirkan dan saya ikut bantu semampu saya”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Waktu saya pulang ke Pool dan cerita kepada rekan sesama sopir mereka banyak yang bilang bahwa rejeki saya akan menjadi lebih baik nantinya. Mungkin ada hubungannya atau tidak, omongan teman-teman saya di Pool ternyata benar-benar saya alami hari ini. Nggak seperti biasanya, sejak dari saya keluar pool jam 9 pagi tadi rejeki saya tidak pernah terputus. Tadi sebelum bapak naik, saya baru menurunkan penumpang di depan Stasiun Kota. Sebelumnya di depan Pool saya sudah dapat penumpang ke arah Kelapa Gading. Apa ini ya bukti bahwa Tuhan itu pasti akan membalas amal kebaikan yang dilakukan umatnya dengan kebaikan yang berlipat?”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya takjub dengan pengalaman yang diceritakan oleh sopir taksi ini. Saya semakin mendapat pembuktian akan kebenaran Prinsip Memberi – Menerima dalam kehidupan. Apapun yang kita &lt;strong&gt;Berikan&lt;/strong&gt; kepada kehidupan, sekali waktu kita pasti akan &lt;strong&gt;Menerima&lt;/strong&gt;-nya kembali. Kalau kita banyak berikan kebaikan kepada orang lain, sekali waktu kita pasti akan menerima banyak kebaikan dari orang lain juga. Sebaliknya, apabila kita menyemai hal-hal negatif pada kehidupan maka bersiaplah sekali waktu kita akan menerima buah (akibat) dari tindakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti Prinsip Memberi – Menerima ini terpampang secara jelas dalam kehidupan sekitar kita. Petani akan menyemai benih padi dan memberi pupuk yang baik karena mereka yakin alam kelak akan memberi-kan butir-butir beras untuk dimakan. Hutan yang dengan rajin ditebangi hingga gundul, sekali waktu akan memberikan bencana banjir dan longsor kepada masyarakat disekitarnya. Bila kita mendidik anak dengan berlimpahan kasih dan cinta, maka tidak heran apabila saat si anak beranjak besar dia akan melimpahi orang tua dan orang-orang sekitarnya dengan penuh rasa cinta dan sayang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia layanan pun tidak lepas dari prinsip ini. Sebuah perusahaan yang dapat memberikan Layanan yang baik kepada pelanggannya akan mendapatkan lebih banyak lagi pelanggan dan pelanggan akan dengan senang hati melakukan bisnis dengan kita. Bagaimana dengan pribadi kita? Sederhana saja, kalau kita ingin menerima perlakuan baik dari orang lain, kita harus juga memperlakukan orang lain dengan baik. Jadi jangan buru-buru menyalahkan orang lain apabila mereka bersikap tidak menyenangkan terhadap anda karena siapa tahu anda sendiri yang menunjukkan sikap tidak menyenangkan pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip ini bekerja atas dasar kesadaran atau niat yang mendasari sebuah tindakan dan tidak bekerja atas dasar “ketidaksengajaan”, misal: tidur, jalan, tidak sengaja menginjak kaki orang,dll. Tidak ada seseorang pun yang menentukan ‘penghargaan maupun hukuman’ untuk apa yang kita lakukan. Kita menciptakan sebab-sebab dari tindakan kita, dan kita jualah yang akan mengalami akibatnya. Kitalah yang bertanggung jawab atas kehendak dan tindakan kita sendiri.&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisan disebutkan bahwa Buddha mengajarkan: “&lt;em&gt;Sesuai dengan yang ditanam. itulah yang akan dipetik, Begitu juga dengan buah yang terima. Pembuat kebajikan akan mendapatkan hasil yang menyenangkan, Pembuat kejahatan akan memetik hasil yang menyedihkan. Jika kau tanam benih-benih kebajikan dengan baik, Maka kau akan menikmati buah-buah kebahagiaan&lt;/em&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5344879871271029945?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5344879871271029945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5344879871271029945' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5344879871271029945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5344879871271029945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/05/memberi-menerima.html' title='Memberi - Menerima'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3786517100388507544</id><published>2007-05-23T03:04:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:01:33.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self development'/><title type='text'>Mengendalikan Tindakan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Setiap pulang kantor saya selalu melewati jalan depan Stasiun Bekasi yang sangat padat terutama pada sore hari. Kepadatan itu semakin bertambah parah karena banyak pengendara sepeda motor yang tidak mau mengalah dan cenderung mengambil badan jalan yang berlawanan. Malam itu kembali saya temui keadaan yang sama. Di depan mobil saya banyak motor yang berjalan berlawanan arah. Tanpa peduli mereka tetap melaju perlahan mengambil jalur yang salah.&lt;br /&gt;Ketika mobil saya jalankan perlahan tiba-tiba dari arah depan mendadak muncul sebuah sepeda motor yang berjalan kencang dengan mengambil jalur yang salah. Karena kaget, mobil saya rem mendadak sehingga motor tersebut dapat lewat disamping mobil saya dan serempetan tidak terjadi. Mobil lain dibelakang saya yang kebetulan melihat kejadian tersebut membunyikan klakson. Terus terang saat itu saya emosional sekali dan ingin rasanya turun dan memaki-maki pengendara motor tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Saat perjalanan saya lanjutkan kembali saya mencoba meredakan emosi yang tadinya muncul. Saya kemudian membayangkan kejadiannya apabila saat itu saya turun dan mendatangi pengendara motor tersebut untuk memberi pelajaran. Saya mungkin saja bisa puas dengan melakukan itu. Tapi apa manfaatnya buat saya? Apakah hidup saya bakal lebih bahagia? Istri saya bakal lebih cinta pada saya? Atau hanya kepuasan yang sifatnya hanya sementara saja?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat oleh sebuah artikel menarik yang dikirimkan oleh rekan saya di kantor mengenai prinsip 90/10. Stephen Covey sebagai penggagas prinsip ini mengatakan bahwa 10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi pada diri kita dan 90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi dan memberi respon. Kita tidak memiliki kontrol terhadap apa yang terjadi terhadap diri kita. Kita tidak dapat mencegah kemacetan di jalan, mobil yang tiba-tiba mogok, pesawat yang delay dan dalam kasus saya adalah motor yang mengambil arah yang berlawanan. Tapi yang 90% sungguh berbeda. Kita memiliki kemampuan untuk mengontrol yang 90%. Kita tidak dapat mengontrol motor yang berjalan berlawanan dan membahayakan, tapi kita dapat mengontrol bagaimana reaksi kita terhadap peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam kasus saya diatas saya berkeras untuk turun dan memberi pelajaran kepada pengendara motor diatas akan sangat berbeda akhir ceritanya. Berikut kemungkinan-kemungkinannya : saya tiba di rumah akan jauh lebih lama, saya akan jadi tontonan banyak orang, lalu lintas bakal tambah macet karena saya berhenti, banyak orang yang jadi marah ke saya karena berhenti sembarangan, darah tinggi saya bisa kumat dll. Dan semua itu sebabnya hanya sederhana: karena reaksi saya terhadap sebuah kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sungguh tidak memiliki kuasa terhadap kejadian-kejadian yang menimpa kita tapi kita punya kekuasaan besar untuk menentukan reaksi kita terhadapnya. Reaksi dipicu dari pikiran kita dan sekali keputusan diambil dan dilaksanakan tidak dapat kita tarik kembali. Dan apabila ternyata hasilnya tidak menyenangkan, hanya penyesalan yang akan terucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stephen Covey menyebutkan beberapa cara bagaimana menerapkan prinsip 90/10 ini. Bila ada komentar negatif tentang anda, janganlah mudah terpengaruh dan langsung bereaksi. Biarkan komentar itu berhenti karena benar tidaknya komentar itu anda yang menentukan. Bila ada kejadian tidak enak menimpa anda, janganlah mengumbar emosi dengan langsung bereaksi. Pikirkan dampaknya apabila anda hendak melakukan sesuatu. Keputusan reaksi yang salah dapat menyebabkan banyak hal: anda tambah stress, kehilangan teman, anda dipersepsikan negatif oleh orang lain, sampai kehilangan pekerjaan dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep 90/10 ini sangatlah sederhana namun kita sering alpa untuk menerapkannya dalam kehidupan kita. Bila anda ingin hidup anda lebih baik dan menyenangkan, tidak ada salahnya mulai hari ini mari kita sama-sama menerapkan prinsip 90/10 ini dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan kita!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3786517100388507544?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3786517100388507544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3786517100388507544' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3786517100388507544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3786517100388507544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/05/mengendalikan-tindakan.html' title='Mengendalikan Tindakan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-4413685353245191391</id><published>2007-05-14T18:43:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:01:33.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self development'/><title type='text'>Pak Turyadi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu malam beberapa bulan yang lalu, istri saya yang saat itu tengah hamil tua pulang menggunakan taksi Blue Bird dari kantornya di Pluit. Selama perjalanan Pak Turyadi sopir Blue Bird tersebut sangat sopan dalam berbicara dan sangat mengerti bahwa penumpangnya kali ini adalah seorang ibu hamil sehingga dia berhati-hati dalam mengemudi. Sesampainya di rumah, istri saya memberikan ongkos ditambah dengan tip sebesar Rp.90,000. Saya kebetulan yang menjemputnya di pintu pagar melihat Pak Turyadi membantu membukakan pintu agar istri saya tidak repot untuk keluar. Saya surprise dengan tindakan bapak tersebut dan saya mengucapkan banyak terima kasih karena telah mengantarkan istri saya. Pak Turyadi tersenyum kemudian kembali masuk ke mobil dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 menit kemudian saya dengar ada seseorang memencet bel pintu rumah dan saya lihat kembali Pak Turyadi tapi kali ini disertai dengan pembantu rumah sebelah. Karena bingung saya bertanya ada apa dan saya kira istri saya kurang dalam memberikan ongkos. Ternyata sebaliknya, Pak Turyadi berkata,” &lt;em&gt;Maaf Pak saya mengganggu, saya mau mengembalikan uang ibu karena tadi ibu memberikan uang ongkos taksi kelebihan&lt;/em&gt;”. Kemudian saya tanyakan berapa istri saya membayar kepada sopir tersebut dan berapa kelebihannya.”&lt;em&gt;Tadi ibu memberi ke saya Rp.450,000 sedangkan ongkosnya sekitar Rp.86,300, jadi pembayaran ibu kelebihan Rp.363,700 dan saya mau mengembalikan kelebihan uang tersebut&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seakan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Seseorang datang hendak mengembalikan uang yang kita sendiri tidak tahu bahwa uang yang kita berikan ternyata kelebihan. Ternyata istri saya keliru memberikan uang, pecahan Rp.10,000 dan Rp.100,000an akan kelihatan serupa dalam kegelapan dan saat itu istri saya memberikan 1 lembar Rp.50,000 dan 4 lembar Rp.100,000. Kemudian saya ajak pak Turyadi masuk untuk sekedar mengobrol. Dia bercerita sehabis mengantarkan istri saya dia berniat untuk langsung pulang ke pool di Kramat djati karena hari sudah cukup malam dan diperkirakan sudah cukup uang yang didapat malam itu. Kemudian dia menceritakan apa yang terjadi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Sambil beristirahat saya menghitung uang yang sudah saya dapat pada satu hari ini. Pada saat saya mengambil uang yang ada di saku baju (ongkos penumpang terakhir-istri saya) saya kaget kenapa bisa ada uang segini banyak dikantong (Rp.450,000). Kemudian saya ingat uang disaku baju itu adalah ongkos pemberian dari ibu. Saat itu juga langsung saya berniat untuk mengembalikan mumpung hari belum larut malam. Tapi masalahnya saya lupa arah rumah ibu, saya hanya ingat dibelokan saya lihat ada sekolah TK. Saat saya mondar-mandir itulah saya ditanya oleh pembantu rumah sebelah yang mungkin melihat saya mondar-mandir terus. Saat saya bilang saya mau cari rumah penumpang saya ibu hamil yang rumahnya sekitar sini dia langsung tahu dan membantu saya untuk sampai disini. Dan ternyata benar&lt;/em&gt;..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus terang terharu dengan kejujuran dan ketulusan Pak Turyadi ini. Kemudian saya tanya kenapa bapak tidak ambil saja uang itu, karena toh kami juga tidak tahu kalau kami kebanyakan dalam membayar. Jawabnya,” &lt;em&gt;Pak, saya yakin bahwa itu bukanlah rejeki saya. Hari ini rejeki saya sudah dicukupkan oleh Tuhan dan saya tidak mau mengambil yang bukan hak saya karena kalau saya ambil akan membebani saya dan pasti tidak membawa kebaikan&lt;/em&gt;”. Istri saya yang sedari tadi termangu mendengarkan mulai menitikkan airmata, sayapun terharu mendengar penjelasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terharu sekaligus berterima kasih karena kami sedang ditunjukkan oleh yang Maha Tinggi bukti nyata bahwa kejujuran masihlah menjadi hal yang terbaik dan terindah yang dapat menjadikan hidup kita lebih bermakna. Pembelajaran yang langsung menghujam kedalam benak kami. Dalam kehidupan kota besar yang serba cepat, sibuk dan individualistis akan dapat membuat rohani kita menjadi kering dan kejadian seperti ini selaksa siraman rohani yang menyejukkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Turyadi, lelaki kurus dengan sebagian besar rambut yang mulai memutih seolah dikirimkan oleh Yang Maha Agung untuk memberikan dan menunjukkan pelajaran yang sangat berharga tentang kejujuran. Kejujuran yang selayaknya menjadi prioritas utama untuk diterapkan dalam hidup dan pekerjaan kita.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-4413685353245191391?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/4413685353245191391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=4413685353245191391' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4413685353245191391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4413685353245191391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/05/pak-turyadi.html' title='Pak Turyadi'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5444622534684578021</id><published>2007-05-14T18:36:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:01:33.283-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self development'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Layanan'/><title type='text'>Banyak Senyum Banyak Rejeki!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/RkkPe8YUG1I/AAAAAAAAATk/WuX4sWF_b98/s1600-h/DSCF2059.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064596280233433938" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/RkkPe8YUG1I/AAAAAAAAATk/WuX4sWF_b98/s320/DSCF2059.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Senyum mempunyai segudang manfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Diantara manfaat senyum adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;1. &lt;strong&gt;Dari segi penampilan&lt;/strong&gt;, Senyum dapat memperbaiki penampilan dan menambah daya tarik. Dengan senyuman, kita akan lebih dihargai dan disegani.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2. &lt;strong&gt;Dari segi kesehatan&lt;/strong&gt;, orang yang murah senyum biasanya terjaga dari penyakit yang bernama stress. Jantungnya akan berdetak secara normal, sehingga terhindar dari berbagai macam penyakit ketegangan. Menurut pendapat para dokter, untuk menghasilkan sebuah senyuman hanya dibutuhkan 17 otot wajah. Berbeda dengan orang yang suka marah, hobinya cemberut, atau suka mengomel, biasanya kelihatan lebih tua. Memang tiga aktivitas terakhir membutuhkan 32 otot wajah inilah yang menjadi penyebabnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;3. &lt;strong&gt;Dari segi sosial&lt;/strong&gt;, senyuman merupakan suatu bentuk keakraban dalam pergaulan masyarakat. Karena memang ketika melihat seseorang yang murah senyum, akan terasa menyenangkan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Senyuman memang sesuatu yang hebat dan dahsyat. Senyuman yang penuh dengan ketenangan akan mampu meluluhkan kemarahan seseorang. Banyak orang bilang bahwa senyum dapat memunculkan &lt;em&gt;inner beauty&lt;/em&gt; seseorang , tentu apabila senyum itu dilakukan dengan tulus dari hati. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dunia akan menjadi indah dengan senyuman dan apa jadinya bila semua orang bermuka masam, dan selalu cemberut...?! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Maka tersenyumlah... niscaya dunia akan tersenyum bersama kita...! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Apabila anda ingin:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1) Tampil lebih menarik dan cantik,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2) Dihargai dan disegani oleh orang lain,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3) menjadi lebih sehat setiap hari, &lt;/div&gt;&lt;div&gt;4) menjadi orang yang menyenangkan bagi lingkungannya; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;caranya mudah: &lt;strong&gt;SENYUMLAH!&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5444622534684578021?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5444622534684578021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5444622534684578021' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5444622534684578021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5444622534684578021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/05/banyak-senyum-banyak-rejeki.html' title='Banyak Senyum Banyak Rejeki!'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/RkkPe8YUG1I/AAAAAAAAATk/WuX4sWF_b98/s72-c/DSCF2059.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-7262892894464223518</id><published>2007-05-09T20:05:00.000-07:00</published><updated>2007-05-09T20:06:40.980-07:00</updated><title type='text'>Perubahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sejak beberapa hari ini saya melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya, mengendarai motor ke Stasiun Bekasi untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta api PATAS AC Bekasi-Kota yang sangat saya andalkan. Terakhir kali saya naik motor adalah waktu kuliah dulu dan ini berarti sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Hari pertama saat hendak menggunakan motor saya canggung, rasanya tidak nyaman dan sedikit tidak stabil. Bahkan kecanggungan semakin memuncak saat saya sudah berada di jalan. Berkali-kali suara klakson saya dengar dari mobil atau motor di belakang saya. Setelah saya sadari, ternyata saya memang berkendara agak ke tengah jalan sehingga menghalangi kendaraan lain yang akan melewati saya! Mungkin karena terbiasa mengendarai mobil sehingga saya cenderung berkendara agak ke tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang disadari atau tidak, kita selalu butuh waktu untuk bisa menyesuaikan dengan perubahan. Meskipun itu perubahan yang sifatnya tidak radikal tetap kita butuh waktu untuk bisa mencerna perubahan tersebut dan akhirnya larut dalam bentuk dan laku yang baru. Saya sering mendengar bahwa orang cenderung alergi atau takut terhadap perubahan. Namun berdasar pengalaman dan pengamatan saya, orang sebenarnya tidak takut akan perubahan bahkan manusia suka akan perubahan. Kita melakukan perubahan setiap hari misalnya, kita berganti baju, mengganti menu makanan dll. Saat berdiskusi dengan sobat saya dari Cabang Denpasar, kami menyepakati bahwa bukan perubahan itu yang ditakuti namun akibat dari perubahan itu yang kadang kita belum siap untuk menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan takut akan perubahan karena kita merasa tidak pasti dengan akibat dari perubahan tersebut. Salah seorang sepupu perempuan saya yang hendak masuk dunia kerja merasa takut setiap kali harus ke kantor. Bukan karena dia tidak kompeten dengan tugasnya melainkan karena dia harus berdandan ala pegawai perempuan yang lain. Bukan masalah dandannya yang membuat dia gerah tapi kekhawatiran kalau-kalau dandanan yang dia buat malah membuat wajahnya yang tidak putih menjadi tambah nggak karuan. Walaupun saudara-saudaranya yang lain mengatakan bahwa riasan wajahnya cukup baik dan menarik, tetap saja dia merasa tidak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita yang saya dengar saat implementasi ICBS dulu banyak juga yang menganggap bahwa system yang baru tersebut malah merepotkan dan ketakutan akan salah melakukan input atau salah pencet. Bahkan ICBS diplesetkan sebagai “Ini Cara Bikin Susah”. Namun setelah diperlihatkan bahwa kedepannya akan banyak pekerjaan yang menjadi lebih mudah dan cepat, perlahan ketakutan mulai hilang dan berganti dengan semangat. Akhirnya ICBSpun berubah menjadi “Ini Cara Bikin Senang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan harus dilalui, itu pasti. Kita sebenarnya tidak perlu takut akan perubahan apabila kita mengerti benar apa tujuan perubahan itu dan lebih penting lagi kita mau ikut dalam perubahan itu. Dalam dunia kerja, ketakutan biasanya dikaitkan dengan beberapa hal seperti: berkurangnya pengaruh, hilangnya jabatan, dan kompetensi yang dimiliki dirasakan tidak mencukupi dll. Atasan saya suatu pagi berkata; ada 3 tipe orang menyikapi perubahan. Pertama, dia sadar kan adanya perubahan dan langsung ikut berubah. Kedua, dia tahu adanya perubahan namun dia tidak mau berubah dan, Ketiga, dia bahkan tidak tahu bahwa perubahan sedang terjadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya perlu membuka mata kita lebih lebar, mengamati segala hal di sekitar kita dan menyadari akan perubahan yang telah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan kita. Kesadaran ini yang saya lupakan saat pulang kantor di hari pertama saya menggunakan sepeda motor. Begitu turun dari kereta api saya langsung menuju parkir mobil tempat biasa saya memarkirkan mobil saya setiap hari. Beberapa saat saya mulai cemas karena saya tetap tidak dapat menemukan mobil saya. Sampai akhirnya, petugas parkir yang sudah saya kenal dan sedari tadi memperhatikan saya bertanya,” &lt;em&gt;Nyariin apa sih Pak&lt;/em&gt;?’. Waktu saya bilang sedang cari mobil saya dia sambil tersenyum geli menjawab,”&lt;em&gt;Hari ini saya lihat bapak datang naik motor, walau dicariin terus sampai Lebaran juga mobilnya nggak bakal ketemu Pak!”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-7262892894464223518?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/7262892894464223518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=7262892894464223518' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7262892894464223518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7262892894464223518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/05/perubahan.html' title='Perubahan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8427539377758160787</id><published>2007-04-26T01:53:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T18:54:50.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Layanan'/><title type='text'>Ramayana Dept. Store: Beyond Expectation</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Siapa diantara anda yang tidak pernah mendengar dan melihat Ramayana Department Store? Banyak orang bilang bahwa target pasar mereka adalah konsumen dengan golongan menengah ke bawah atau golongan masyarakat kebanyakan. Seringkali dalam persepsi orang, layanan tidak begitu diperhatikan dalam operasional Ramayana dan ini selalu dikaitkan dengan golongan pelanggan mereka. Pengalaman saya dengan Ramayana ternyata berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor saya yang dulu, setiap hari jumat karyawan dibolehkan untuk menggunakan pakaian casual. Hari itu saya menggunakan kaos kerah dan celana jeans. Mendadak ada permintaan dari klien untuk melakukan presentasi pada jam 15.00 mengenai progress project yang sedang saya tangani. Jelas tidak mungkin bagi saya untuk pergi ke klien dengan pakaian santai seperti itu. Kebetulan di seberang kantor kami ada &lt;strong&gt;Ramayana Departemen Store&lt;/strong&gt; yang tidak terlalu besar dan saya yakin mereka pasti menjual pakaian yang saya butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya disana saya mulai mencari kemeja putih dan celana panjang hitam. Saat itu pramuniaga menanyakan kebutuhan saya dan memberikan kepada saya beberapa pilihan kemeja dan celana serta dasi (padahal saya tidak minta untuk ini). Setelah beberapa kali memilih dan mencoba akhirnya saya memutuskan untuk membeli kemeja, celana dan dasi. Kecenderungan kondisi pakaian baru adalah terlihat kusut karena selalu disimpan dalam posisi terlipat. Saya katakan kepada pramuniaga bahwa saya akan langsung memakainya dan membungkus pakaian yang saya kenakan saat itu, tapi (kalau bisa) saya minta pakaian yang kondisinya tidak kusut seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pramuniaga kemudian mencari dalam tumpukan dan membuka beberapa pakaian untuk melihat kondisinya…dan bisa dipastikan bahwa semua kondisinya sama. Kemudian si pramuniaga mengatakan, “&lt;em&gt;kalau memang bapak mau memakainya langsung, saya bisa menyetrika baju ini sekarang agar tidak terlihat kusut&lt;/em&gt;”. Saya seolah tidak percaya dengan tawaran itu dan ketika si pramuniaga sambil tersenyum mengatakan “&lt;em&gt;beri saya waktu 5 menit dan bapak akan mendapatkan kemeja baru yang sudah rapi…, dan selama saya merapikan bapak bisa mengurus pembayaran di kasir D yang letaknya disebelah konter Jeans&lt;/em&gt;”. Tanpa pikir panjang saya langsung menyetujui usulnya dan mengantri untuk melakukan pembayaran. Saat kembali dari membayar, saya melihat pramuniaga sudah memegang dengan hati-hati baju baru saya yang sudah rapi!…..luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya keluar dari Ramayana tersebut dengan senyum mengembang bukan hanya karena baju baru saya bersih dan rapi tapi lebih pada layanan pramuniaga yang telah melebihi harapan saya……..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak yakin bahwa dalam &lt;em&gt;job description&lt;/em&gt; pramuniaga tersebut tertulis bahwa dia harus menyetrika baju yang akan dibeli oleh pelanggan. Tapi saya yakin bahwa dalam dirinya selalu ada keinginan untuk membantu dan membahagiakan orang lain, membuat hari pelanggan menjadi lebih menyenangkan dengan memberikan usaha ekstra dalam layanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara dan kesempatan untuk bisa membahagiakan dan memuaskan pelanggan, yang dibutuhkan hanyalah keinginan yang kuat untuk memberikan yang terbaik dan kreatifitas !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8427539377758160787?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8427539377758160787/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8427539377758160787' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8427539377758160787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8427539377758160787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/ramayana-dept-store-beyond-expectation.html' title='Ramayana Dept. Store: Beyond Expectation'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-905584813335054140</id><published>2007-04-26T01:49:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:01:33.283-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Self development'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Layanan'/><title type='text'>Basri</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akhir-akhir ini saya menemukan sesuatu yang menarik yang terjadi di komplek perumahan saya di Bekasi. Kebiasaan para ibu-ibu (yang tidak bekerja) dan sebagian besar pembantu rumah tangga setiap pagi sekitar jam 7 pagi adalah membeli sayur mayur. Saya sebut menarik karena sebagian besar para ibu dan pembantu tersebut hanya membeli pada satu tukang sayur saja yang bernama Basri, padahal tukang sayur yang beredar dalam komplek itu tidak hanya dia saja tapi ada 5 orang tukang sayur lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali syaraf keingintahuan saya tergelitik, ada apa dengan si Basri ini dan kenapa dia lebih banyak dipilih daripada tukang sayur lain. Harga yang ditawarkan ternyata tidak lebih murah dari tukang sayur lain dan variasi sayurnya pun tidak lebih lengkap. Lalu apa yang membuat satu tukang sayur ini berbeda? Setelah saya amati ternyata memang ada yang membedakan Basri ini dengan yang lain yaitu &lt;em&gt;cara dia berjualan&lt;/em&gt;. Wajahnya selalu tersenyum pada saat berinteraksi dengan para pelanggannya dan percakapan yang terjadi tidak melulu masalah sayuran yang dibawanya tapi juga berkisar masalah lain. Dia hapal nama dari setiap pelanggannya dan selalu menyebutkan nama pada saat berinteraksi. Dengan begitu para pelanggannya setiap pagi itu merasa nyaman saat berbelanja dan akan terus berbelanja kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah studi yang mengatakan bahwa keputusan pembelian lebih banyak didasarkan pada faktor emosional ketimbang rasional. Terutama untuk produk dan jasa yang memiliki banyak pilihan (consumer goods, banking dll). Kalau saya akan membeli spare part untuk mobil Toyota saya, saya selalu pergi ke sebuah toko langganan saya di Atrium Senen. Kali pertama saya mencoba untuk pergi ke beberapa toko tapi saya akhirnya selalu memilih toko di sudut tersebut sebagai tujuan tetap saya. Pilihan itu bukan didasarkan pada faktor harga tapi lebih didasarkan pada bagaimana si penjual memperlakukan saya selama transaksi. Selain mendapatkan spare part yang saya mau, disana saya juga dapat belajar seluk beluk mesin karena mereka akan dengan senang hati menjawab dan menjelaskan setiap pertanyaan saya mengenai mesin mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pelanggan diberi pilihan beberapa perusahaan,”perasaan nyaman” menjadi efektif dalam mempengaruhi mereka dalam memutuskan pembelian dari perusahaan tertentu. Rasa nyaman ini didapatkan dari beberapa elemen seperti fasilitas fisik yang tersedia (banking hall, toko yang nyaman dll), produk yang baik dan terutama sekali adalah perlakuan dari staf yang melayani pelanggan. Pengaruh rasa nyaman terhadap sebuah perusahaan “sangat ampuh”, menurut &lt;strong&gt;Jan Carlzon&lt;/strong&gt;, mantan presiden Scandinavian Airlines (SAS). “&lt;em&gt;Inilah kekuatan yang mendatangkan profit yang konsisten&lt;/em&gt;”. Mengherankan bahwa banyak perusahaan tidak melihat adanya hubungan antara penjualan dan Layanan. Mereka percaya bahwa perusahaan telah memenuhi kewajibannya saat pelanggan mendapatkan barangnya. Layanan hanya dilihat sebagai “bonus” yang tidak menghasilkan apa-apa dalam bisnis mereka dan karena itu Layanan dirasa tidak diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari survey yang saya lakukan pada nasabah bank kita, sebagian besar mereka mengatakan bahwa mereka merasa nyaman saat mereka bertransaksi dan berinteraksi dengan para karyawan di cabang. Nyaman itu diterjemahkan dalam bentuk perlakuan yang bersifat kekeluargaan bukan pada kenyamanan dalam konteks tempat ataupun fasilitas. Dan menurut saya ini adalah hal penting yang kita miliki yang dapat membuat ikatan dengan nasabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berdiskusi dengan salah seorang GM senior dari sebuah bank swasta, beliau mengatakan bahwa nasabah mereka punya semacam ungkapan untuk bank tersebut:”I NEED YOU BUT I DON’T LOVE YOU”. Ini dibuktikan pada saat bank tersebut terkena isu negative, begitu banyak nasabahnya yang langsung menarik dananya untuk kemudian dipindah ke bank lain disebelah bank tersebut. Tapi begitu krisis (isu) itu selesai, berbondong-bondong pula nasabah yang pindah tersebut kembali menyimpan dananya ke bank tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan ini disebabkan karena para nasabah sudah punya “ikatan emosional” dengan bank tersebut. Nilai positifnya adalah sudah terbentuk NEED (ikatan) dalam benak nasabahnya dan belum LOVE karena kalau ungkapan itu sudah berubah menjadi “I NEED YOU AND I LOVE YOU”, dengan begitu isu apapun tidak akan membuat nasabah dengan mudahnya berpindah ke bank lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat ikatan emosional pada pelanggan bukanlah pekerjaan yang mudah dan cepat. “&lt;em&gt;Bank kami&lt;/em&gt;, lanjutnya, “&lt;em&gt;memulainya sudah belasan tahun dan kami sangat focus pada hal itu dan apapun yang kami lakukan tujuan kami hanya satu: menciptakan “ketergantungan” pada nasabah kepada kami and you see, it works!”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita memang hidup di era dimana terdapat sekian banyak produk dan jasa yang serupa. Produk bank tidak jauh dari tabungan, deposito dan kredit; asuransi tidak jauh dari asuransi jiwa, pendidikan, dan investasi. Yang membedakan dari segala persamaan tersebut adalah seberapa nyaman pelanggan berinteraksi dengan perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pepatah kuno yang mengatakan, “&lt;em&gt;apabila anda ingin orang lain menyukai anda, sentuhlah hatinya&lt;/em&gt;”. Menyentuh hati dalam Layanan adalah memberikan atmosfir yang nyaman dan menyenangkan pada saat kita betransaksi dan berinteraksi dengan pelanggan.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-905584813335054140?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/905584813335054140/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=905584813335054140' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/905584813335054140'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/905584813335054140'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/basri.html' title='Basri'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8564264371855296622</id><published>2007-04-26T01:45:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:03:45.884-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><title type='text'>Pesan Tuhan pada Tubuh</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pernahkah sesekali anda berdiam dan merenung tentang apa yang Tuhan sudah berikan dan ciptakan untuk kita? Sejatinya Yang Maha Pemberi tidak semata-mata menciptakan dan meletakkan sesuatu tanpa ada maksudnya. Tidak perlu melihat yang jauh-jauh, lihatlah apa yang telah Allah ciptakan dan letakkan sesuatu di tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menciptakan kita dengan dua mata yang diletakkan di depan wajah kita, karena kita diminta untuk tidak selalu melihat ke belakang. Memandang kebelakang serupa dengan selalu memandang masa lalu kita, berandai-andai bahwa sesuatu tetap seperti adanya dulu tanpa mengikhlaskan adanya perubahan. Mata diletakkan di depan sebagai ajakan untuk kita agar selalu memandang semua itu kedepan, pandanglah masa depan kita. Kita memang tidak hidup di masa depan, juga tidak hidup dalam keagungan masa lalu. Kita hidup hari ini, sekarang, dan saat kinilah sebagai persiapan untuk menuju ke masa depan karena waktu tiada dapat berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga yang diletakkan di kanan dan kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua sisi. Mendengar dari dua sisi juga berarti bahwa apa yang kita dengar haruslah seimbang atau bisa juga apabila ada seuatu permasalahan janganlah hanya mendengar dari satu pihak tapi coba dengar dari 2 sisi yang berbeda agar keputusan yang akan kita berikan juga diharapkan dapat lebih adil. 2 telinga ini juga merupakan simbol bahwa kita harus bisa menerima tidak hanya pujian tapi juga kritikan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita terlahir dengan 1 otak yang terletak didalam tengkorak kepala kita. Otak yang lembut dan sangat sensitive dilindungi oleh sebuah tempurung yang kuat. Sehingga tidak peduli semiskin apapun kita secara materi, kita tetaplah “kaya” sebagai manusia. Orang dapat saja mengambil kekayaan materi kita namun tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri pikiran, keyakinan, ide dan bahkan mimpi kita. Dan apa yang kita miliki dalam pikiran kita jauh lebih berharga dari pada kekayaan materi yang kita miliki. Otak yang dipenuhi dengan pikiran positif, rasa cinta kasih dan keinginan untuk selalu memberi dapat memberi kedamaian bagi orang-orang disekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bagaimana dengan mulut? Kita memiliki 2 mata, 2 telinga tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena Sang Maha kasih menginginkan kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kemahiran mendengar dengan baik tidak lebih mudah dari kepintaran berbicara. Butuh banyak ruang kesabaran dalam hati kita untuk bisa menjadi pendengar yang baik. Selain itu mulut cukup satu saja karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Ungkapan lidah lebih tajam dari pedang ada benarnya karena luka pedang akan terlihat dan mudah dihilangkan. Tapi luka karena ucapan tak terlihat dan butuh waktu dan usaha untuk menyembuhkan. Sehingga bila kita hendak mengatakan sesuatu yang menyakitkan berpikirlah seribu kali. Ingatlah untuk mencoba berbicara sesedikit mungkin namun lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita lahir hanya dengan 1 hati yang letaknya jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari tempat dalam tubuh kita yang paling dalam: Hati. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Harmonisasi antara mata, telinga dan mulut sangat ditentukan oleh bagaimana hati dan pikiran kita bekerja. Kita akan memandang dengan penuh kasih, tersenyum dengan segenap ketulusan dan mendengar dengan lebih sabar apabila pikiran kita dilingkupi oleh kejernihan, kesabaran dan pasokan cinta kasih. Bila harmonisasi ini selalu kita tunjukkan niscaya akan banyak memberi kedamaian pada sekitar. Permasalahan akan dapat diselesaikan apabila dituntun oleh semangat saling kasih dan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8564264371855296622?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8564264371855296622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8564264371855296622' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8564264371855296622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8564264371855296622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/pernahkah-sesekali-anda-berdiam-dan.html' title='Pesan Tuhan pada Tubuh'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-4763630158413145786</id><published>2007-04-17T20:07:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T19:03:45.884-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spiritual'/><title type='text'>Rejeki</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu siang saya naik sebuah taksi blue bird dari daerah Senen. Pengemudinya seorang bapak dengan usia sekitar 40 tahun, berkulit gelap dan badan sedikit gemuk. Setiap kali naik taksi saya selalu sempatkan ngobrol dengan pengemudinya, dari mulai obrolan ringan sampai dengan yang “sedikit seirius”. Pertanyaan awal yang sering saya tanyakan kepada pengemudi taksi adalah menanyakan pendapatannya sampai jam saat saya naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga siang itu saya menanyakan pertanyaan “pembukaan” tersebut. Tapi alih-alih menjawab pertanyaan saya, dia malah balik mengajukan pertanyaan kepada saya.”&lt;em&gt;Pak, maaf ya saya mau tanya, bapak percaya nggak kalau rejeki kita itu sudah diatur dan ditentukan banyaknya, dan kita manusia hanya diminta untuk berusaha dengan tanpa sedikitpun mempertanyakan rejeki tersebut?&lt;/em&gt;”. Saya mengiyakan pertanyaan tersebut dan mempertanyakan alasan pertanyaan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Saya memang percaya dengan pernyataan saya tadi dan hari ini saya ditunjukkan bukti bahwa apa yang saya yakini itu benar bahwa rejeki masing-masing orang sudah ada yang mengatur dan kadang rejeki itu datangnya juga bisa datang dari sumber yang tidak pernah kita duga arahnya&lt;/em&gt;”, jelas sopir taksi tersebut. Saya makin penasaran dengan penjelasan tersebut dan menanyakan hal apa yang mendasari keyakinan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Hari ini saya hampir putus asa dan nyaris berprasangka buruk terhadap Tuhan karena sudah lebih dari 5 jam saya muter-muter tapi belum juga dapat penumpang. Saya heran juga kok hari ini saya merasa sulit sekali dapat penglaris&lt;/em&gt;”. Kemudian dia melanjutkan,”&lt;em&gt;Akhirnya saya berdoa dalam hati untuk minta ditunjukkan jalan rejeki untuk hari ini. Dan biasanya setiap kali melalui jalan ini saya selalu belok kiri ke arah stasiun gambir dan tidak pernah mau melewati fly over tadi karena saya merasa jarang ada orang yang mau naik taksi di daerah ini. Tapi saya merasa seperti ada bisikan yang menyuruh saya untuk jangan belok kiri melainkan jalan terus dan naik fly over. Dan ternyata bisikan itu benar karena saya bertemu bapak sebagai penumpang pertama saya dan saya yakin sebagai pembuka rejeki bagi saya hari ini. Saya masih merinding nih pak kalau mengingat betapa Yang Diatas itu Maha Kuasa dan sayang pada umatnya yang mau berusaha&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia melanjutkan, “&lt;em&gt;Saya kadang heran dengan tingkah laku banyak dari penumpang saya yang selalu mengeluh tentang pekerjaan mereka, yang suasana kantornya nggak enaklah, pemimpin yang nggak pengertian dan yang lebih membuat saya ngelus dodo itu kalau mereka ngeluh soal kecilnya gaji yang mereka terima. Padahal kalau dipikir-pikir ya pak, mereka itu nasibnya jauh-jauh-jauh lebih baik dari saya lho. Mereka kan sudah pasti mendapatkan gaji setiap bulan, pekerjaan juga sudah tetap, bonus kalau tiap tahun dikasih, THR dapet, kenaikan gaji juga ada. Lha kalau saya, untuk dapat kelebihan uang supaya bisa dipakai makan buat besok aja saya mesti banting tulang nahan capek, ngantuk dan pegal selama lebih dari 12 jam sehari! Apa ya mereka nggak lihat kalau masih buanyak orang yang nasibnya tidak seberuntung mereka, orang yang nyari kerja aja susahnya minta ampun, eh ini yang udah dapet kerja enak malah mengeluh!”,&lt;/em&gt; jelasnya lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang sedari tadi mendengarkan di belakang dapat memahami jalan pikiran dan perasaan sopir taksi tersebut. Saya jadi teringat kembali Mbok Wariyah di pasar Beringhardjo Yogya yang telah memberikan pembelajaran mengenai makna kata “Cukup” kepada saya bertahun-tahun yang lalu (lihat LPB 072). Pesan bapak saya di Yogya juga masih saya ingat baik-baik, "&lt;em&gt;Rif, bekerjalah bersungguh-sungguh, kalau kamu tidak suka atau kurang puas, silahkan keluar secara baik-baik. Itu sikap yang gentleman daripada kamu berbuat atau berbicara hal-hal yang tidak baik di tempat kerja. Banyak bersyukur karena tidak banyak orang yang bisa bekerja saat ini.&lt;/em&gt;" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan siang itu yang hanya 25 menit ternyata memberi banyak pembelajaran baru bagi saya terutama dalam hal mensyukuri apa yang saya dapat dan miliki saat ini. Dalam sebuah buku agama saya pernah membaca sebuah firman Allah: "&lt;em&gt;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-4763630158413145786?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/4763630158413145786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=4763630158413145786' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4763630158413145786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4763630158413145786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/rejeki.html' title='Rejeki'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3165873678221011135</id><published>2007-04-11T23:58:00.000-07:00</published><updated>2007-04-12T00:00:01.325-07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Tubuh Kita</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada sebuah kesempatan mengunjungi Cabang Balikpapan beberapa bulan lalu, saya terlibat diskusi yang menarik dengan salah seorang rekan disana. Dalam diskusi tersebut saya seperti “ditegur” karena saya belum banyak mengupas salah satu bentuk Layanan yang juga sangat penting yaitu: Layanan Internal. Rekan saya tersebut kemudian menceritakan bentuk-bentuk Layanan internal yang dia dapat baik dari dalam cabang sendiri maupun dari kantor pusat. Dan semua pengalaman yang diceritakan adalah pengalaman yang tidak menyenangkan. “&lt;em&gt;Saya saja sebagai karyawan merasa tidak nyaman dengan Layanan seperti itu, bagaimana dengan nasabah-nasabah kita yang mengalami hal yang sama, Pak Arif?”&lt;/em&gt; ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang berpendapat bahwa Layanan adalah hanya untuk pelanggan eksternal (baca: nasabah) saja. Segala kebaikan, kecepatan dan keramahan kita tunjukkan kepada pelanggan yang datang tapi kita lupa bahwa ada banyak pihak di belakang kita yang secara langsung atau tidak akan turut berpengaruh terhadap seberapa baiknya Layanan yang kita berikan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa hasil analisa project dalam pekerjaan saya sebelumnya, saya mendapatkan bahwa kelemahan sebuah Layanan justru karena tidak baiknya Layanan untuk internal proses. Bagian frontliner yang tidak bisa sehati dengan bagian back office, cabang-cabang yang kesulitan untuk menghubungi kantor pusat, bagian marketing yang tidak sejalan dengan bagian after sales dan masih banyak lagi. Ketidak sinkronan hubungan internal tersebut ternyata memberi dampak yang merugikan bagi pelanggan. Pelanggan yang hilang kesabarannya karena untuk mendapatkan sebuah informasi ternyata membutuhkan waktu yang lama, pelanggan yang mendapati kenyataan bahwa untuk claim tidak semudah seperti yang dijanjikan pada saat bagian sales menawarkan produk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bicara masalah Layanan internal, hampir dipastikan bahwa kita akan membicarakan masalah kerjasama (teamwork), koordinasi, empathy, komunikasi dan yang berperan sangat besar adalah peran pemimpinnya. Karena keempat hal itulah yang merupakan “perekat” bagi perbedaan fungsi dalam perusahaan dan peran pemimpin sebagai pihak yang memungkinkan semua itu terjadi dalam wilayah kewenangannya. Untuk bisa belajar bagaimana keempat hal tersebut bekerja, kita bisa melihat bukti empiris, dari tubuh kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu pernah mengalami dan merasakan sakit perut atau luka karena terjatuh, bukan? Tapi pernahkah anda mengamati apa yang biasanya tubuh kita perbuat pada saat kita mengalami hal tersebut? Pada saat kita merasakan sakit itu, tangan kita otomatis memegang-megang daerah yang sakit, bila yang sakit di perut badan kita akan membungkuk, tangan memegang perut, mata terpejam dan mulut meringis menahan sakit. Bila anda terluka karena jatuh, otomatis tangan anda akan memijit-mijit daerah yang dekat dengan luka tersebut, mulut anda meniup-niup luka itu agar berkurang rasa perihnya dan kadang mata anda akan terpejam menahan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat salah satu anggota tubuh kita ada yang sakit, serta merta anggota tubuh yang lain ikut bereaksi terhadap sakit itu. Kalau kita perhatikan anggota tubuh yang ikut beraksi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sakit itu. Tangan yang memegang perut tidak ada hubungannya dengan sakit yang dirasakan oleh perut, kaki yang menekuk sehingga badan kita meringkuk juga tidak berhubungan langsung dengan derita yang dialami oleh perut. Mereka merespon dan bereaksi sebagai bentuk nyata dari rasa empathy, solidaritas, dan kerja sama. Mulut yang meniup-niup luka tersebut sebagai upaya untuk meringankan penderitaan dan mengurangi rasa sakit.  Dan semua itu dilakukan atas perintah sesuatu yang mendasari semua gerakan tubuh yaitu: pikiran kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran laksana pemimpin yang memungkinkan semua bereaksi seperti seharusnya. Pemimpin yang baik akan dapat mengkoordinasikan fungsi-fungsi dibawahnya dengan baik laksana seorang composer dalam memainkan sebuah lagu dalam harmoni yang indah dan memikat. Tangan, mulut, mata, kaki dan anggota tubuh lain ibarat fungsi-fungsi instrumental yang berbeda dalam sebuah orkestra yang akan bermain sesuai arahan dan komando dari composer. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan apabila dalam perusahaan (atau cabang) anda, semua orang, semua fungsi saling menunjukkan empathy, solidaritas tinggi dan kerjasama yang baik, betapa akan menjadi menyenangkannya tempat anda bekerja. Anda akan merasa nyaman dan aman karena anda yakin bahwa akan ada orang lain yang dengan senang hati mengulurkan tangan untuk membantu anda selagi masalah datang. Akan ada orang lain yang akan mengingatkan anda apabila jalan anda sedikit melenceng dari jalur. Anda percaya bahwa orang lain akan membantu anda dan mereka juga percaya bahwa andapun akan melakukan hal yang sama terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekan kantor adalah keluarga kedua kita dan bersama merekalah kita habiskan 8 jam waktu kita dalam sehari. Karena itulah buatlah 8 jam itu menjadi 8 jam yang menyenangkan untuk dilewati.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3165873678221011135?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3165873678221011135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3165873678221011135' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3165873678221011135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3165873678221011135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/belajar-dari-tubuh-kita.html' title='Belajar dari Tubuh Kita'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5023781995261419615</id><published>2007-04-11T23:56:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T23:57:46.604-07:00</updated><title type='text'>Taksi Ekspres</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menggunakan taksi adalah salah satu angkutan paling mewah untuk tujuan dalam kota. Dengan harga yang lebih mahal dari moda transportasi lain (bis, mikrolet dll) wajar kalau kita juga mengharapkan kenyamanan dan keamanan yang lebih selama kita menaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu saya dan istri hendak pulang dari sebuah pertokoan di daerah Kebayoran baru kembali ke rumah saya di Bekasi. Saat itu saya memanggil sebuah taksi Ekspress yang sedang menunggu. Pengemudinya seorang anak muda yang berpakaian bersih dan rapih.Dia tersenyum begitu saya dan istri memasuki taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum, pengemudi tersebut melihat kepada kami dan berkata:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Selamat siang, saya senang menjadi sopir taksi untuk bapak dan ibu. Maaf, bapak dan ibu mau saya antar kemana?&lt;/em&gt;” Saya kaget dengan sambutan yang tidak biasa seperti ini. Setelah saya sebutkan tujuan saya kembali dia menanyakan:&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Maaf, mungkin bapak punya keinginan mau lewat mana menuju Bekasi?”&lt;/em&gt; saya jawab lewat jalan tol dalam kota saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dalam perjalanan saya amati kondisi interior taksi. Interiornya begitu bersih dan kain putih pembungkus kursi juga seperti baru diganti. Bau harum menyebar dari 2 pengharum mobil yang ditaruh di depan dan dibelakang tempat duduk. Kemudian si pengemudi bertanya lagi: &lt;em&gt;“Maaf, bapak dan ibu mungkin ingin mendengarkan musik atau radio tertentu? Untuk kaset saya punya Koes plus, Beatles, Westlife, Julio Iglesias dll”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sambil berkata, dia membuka laci dashboard dan saya lihat koleksi kasetnya yang tersusun rapi.&lt;br /&gt;”&lt;em&gt;Atau mungkin bapak ingin mendengarkan radio juga bisa&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;Dan akhirnya saya memutuskan untuk mendengarkan The Beatles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat dalam kantong di tempat duduk depan yang ada dihadapan saya ada 2 jenis Koran dan tabloid yang berbeda dan sebuah majalah. Karena penasaran, saya tanyakan mengapa sampai disediakan beberapa Koran dan majalah. Jawabannya membuat saya terheran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Penumpang saya tiap hari itu macam-macam pak, dari anak sekolah, Ibu rumah tangga sampai orang kantoran. Makanya kaset dan Koran saya sediakan beberapa jenis yang berbeda agar penumpang saya bisa memilih yang menjadi kesenangannya. Kalau selama perjalanan macet, setidaknya penumpang punya alternatif untuk mengisi waktu dan agar tidak tambah stress dan perjalanan juga mudah-mudahan jadi menyenangkan. Penumpang senang saya pun ikut senang Pak”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya tanyakan apakah ini standar dari Taksi Ekspress dia menjawab bukan dan itu murni inisiatif pribadi dan uang yang dikeluarkan dari kantongnya sendiri. Prinsip hidupnya adalah sebisa mungkin membuat siapapun yang bertemu dengannya menjadi nyaman, bahagia dan keluar dari taksinya dengan senyum. Luar Biasa!…..dia sudah mempraktekkan prinsip dasar dari Layanan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati sisa perjalanan yang nyaman itu saya membayangkan, alangkah indahnya hidup ini kalau semua orang memiliki dan menjalankan prinsip Layanan dalam hidupnya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa membahagiakan pelanggan bisa lewat banyak cara apapun pekerjaan anda. Anda hanya perlu mencoba berpikir dari sisi pelanggan. Nyamankah pelanggan bila saya melakukan ini dan itu terhadap mereka?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah berpikir dan bertindak dengan selalu mengutamakan pelanggan dalam pikiran anda….&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5023781995261419615?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5023781995261419615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5023781995261419615' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5023781995261419615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5023781995261419615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/taksi-ekspres.html' title='Taksi Ekspres'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8271280486575089087</id><published>2007-04-11T23:43:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T23:44:27.779-07:00</updated><title type='text'>Antusiasme</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Minggu-minggu ini saya disibukkan dengan kegiatan interview untuk mengisi beberapa posisi dalam team SQUAD. Secara pribadi saya menyukai kegiatan interview ini karena kita bisa melihat dan mengetahui beberapa jenis karakter manusia dan pola pikirnya. Satu hal yang selalu saya lihat pertama kali dalam setiap interview adalah antusiasme dari kandidat. Interview akan berlangsung cepat apabila saya lihat kandidat tidak menunjukkan antusiasme, baik antusiasme untuk pekerjaan yang ditawarkan maupun antusiasme sebagai individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa perlu menunjukkan antusiasme dalam bekerja? Saya melihat perilaku antusias merupakan refleksi terhadap bagaimana anda memandang pekerjaan anda, seberapa puas anda dengan pekerjaan dan penghargaan anda terhadap pekerjaan itu sendiri. Dalam sebuah interview dengan seorang direktur sebuah perusahaan financial, saya mendapatkan pembenaran akan hal ini.”Jika anda mencintai pekerjaan anda, hal itu akan terlihat dalam perilaku anda saat bekerja….anda akan bekerja lebih antusias!”, ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang menghargai sebuah pekerjaan dilihat dari “Sebutan” atau level/jabatan, misal petugas admin, Teller, Auditor dll. Saat saya melakukan ibadah disebuah masjid kecil yang asri dan bersih di Yogya, saya berkesempatan untuk ngobrol dengan seorang petugas kebersihan masjid. Saat saya tanyakan apa tugas utamanya di masjid itu, jawabannya sungguh mengherankan saya.”Tugas utama saya adalah memastikan bahwa setiap orang dapat beribadah dengan lebih khusuk (tenang dan konsentrasi) di masjid ini”. Saat saya tanyakan maksudnya, beliau melanjutkan,”Coba kalau mas shallat disini dengan terganggu bau tidak sedap dari sampah dan toilet, kan pasti ndak bisa tenang dan konsentrasi tho?”. Dengan cara pandang terhadap pekerjaan seperti diatas, tidak heran bila bapak tersebut melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati dan antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang berbeda saya dapatkan dari salah seorang peserta training saya seorang Teller yang menceritakan kepada saya bagaimana dia memandang pekerjaannya. Setiap kali bangun pagi dia melihat ke kaca dan mengucapkan “Terima kasih Tuhan karena hari ini saya masih dipercaya untuk bisa membahagiakan orang lain”. Setelah itu baru dia membersihkan diri dan berangkat ke kantor. Sesampainya dikantor dia akan mempersiapkan segalanya dengan baik sebelum membuka konter untuk memulai layanan. Apabila antrian nasabah pada saat itu banyak dia akan berucap “Terima kasih Tuhan karena begitu banyak orang yang Kau kirimkan hari ini untuk dapat saya bahagiakan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teller tersebut memaknai tugasnya bukan hanya sekedar membantu nasabah untuk menyetor ataupun menarik uang tapi jauh lebih besar dari itu, yaitu tugas untuk membahagiakan siapapun pelanggan yang bertransaksi didepannya. Karena fungsinya sebagai Teller, membahagiakan pelanggan dilakukan dengan cara melakukan transaksi dengan cepat, benar dan tidak lupa Layanan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satupun pekerjaan yang menarik. Orang yang senang berinteraksi dengan orang lain akan menganggap marketing adalah pekerjaan yang menarik tapi tidak bagi orang yang senang berkutat dengan angka dan data, begitu sebaliknya. Pekerjaan adalah pekerjaan, itu saja…yang membuatnya menjadi menarik atau tidak adalah bagaimana anda memandang dan menaruh minat pada pekerjaan tersebut. Minat terbentuk di dalam diri anda sendiri, dan ini sifatnya amat pribadi sekali! Rekan saya seorang sekretaris begitu menikmati dan mencintai pekerjaannya dan memperlakukan pekerjaannya sebagai salah satu hobinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perjalanan pekerjaan saya selama ini saya menyadari bahwa saya tidak selalu bisa menjadi dan mendapatkan apa yang saya mau (cita-citakan), yang bisa saya lakukan adalah menikmati apapun pekerjaan saya saat ini dan selalu berusaha menjadi yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, jika anda menaruh minat pada pekerjaan anda, bukankah pekerjaan itu akan menjadi lebih menarik?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8271280486575089087?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8271280486575089087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8271280486575089087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8271280486575089087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8271280486575089087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/antusiasme.html' title='Antusiasme'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3762705302833276607</id><published>2007-04-11T18:37:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T18:39:50.767-07:00</updated><title type='text'>Stimulus - Respon</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;4 hari yang lalu pada pukul 21.30 malam listrik di rumah saya mati dan setelah saya cek ternyata seluruh perumahan di daerah saya di Bekasi juga mengalami pemadaman. Sesuatu yang menyebalkan apabila listrik mati apalagi pada malam hari. Kebetulan saya punya bayi dan kejadian ini membuat saya harus siap berjaga semalaman untuk mengipasi dia agar bisa tidur. Sesekali istri saya menggerutu dengan mengatakan PLN keterlaluan karena melakukan pemadaman di malam hari, sampai akhirnya kemudian dia tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sikap anda apabila mengalami hal yang sama? Saya kira wajar kalau seandainya anda juga menggerutu dan menyalahkan PLN karena kejadian ini. Coba saja anda bayangkan situasinya: kondisi gelap hanya dengan penerangan lilin, udara panas dan banyak nyamuk sehingga membuat anda susah tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba merespon dengan cara yang berbeda. Seperti yang pernah saya tulis dalam artikel sebelumnya bahwa tumbuhkanlah kesadaran setiap saat dan nikmatilah apa yang anda hadapi saat ini, detik ini. Dalam keremangan cahaya lilin saya berusaha menikmati kondisi yang saat itu saya hadapi. Saya baru sadari bahwa ternyata kesunyian itu bisa juga mengasyikkan. Saya jadi ingat sebuah kalimat bijak “&lt;em&gt;Sesungguhnya dalam kegelapan kau akan dapat melihat lebih banyak hal”.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ada konsep yang ditulis oleh &lt;strong&gt;Stephen Covey&lt;/strong&gt; bahwa kita sebenarnya mempunyai pilihan dalam memberikan respon terhadap stimulus yang datang kepada kita. Stimulus adalah apapun yang berada di luar anda. Ia bisa berupa kejadian, peristiwa ataupun hanya sebuah objek biasa. Sedangkan respon adalah tanggapan anda terhadap stimulus tersebut. Untuk jelasnya, proses yang terjadi bisa digambarkan sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;strong&gt; STIMULUS                               RESPON&lt;/strong&gt;          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah setiap stimulus langsung menghasilkan sebuah respon? Dalam kejadian saya diatas stimulusnya adalah padamnya listrik dan suasana yang tidak nyaman (panas dan banyak nyamuk). Respon yang bisa saya ambil bisa macam-macam; menggerutu berkepanjangan, berkeluh kesah, menelepon PLN dan komplain atau menikmati kegelapan dan kesunyian yang ada. Dan saat itu saya memilih respon yang terakhir karena saya sadari dengan berkeluh kesah atau marah-marah berkepanjangan tidak akan membuat listrik hidup kembali dan hal itu juga diluar control kita. Bahkan dengan bersungut-sungut dan kesal energi kita akan lebih banyak keluar dan membuat kita tambah stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba melihatnya dari pola pikir yang lain, Dengan padamnya listrik malam itu, Sang Pencipta seolah memberi saya waktu untuk menikmati indahnya sunyi dan melakukan kontemplasi terhadap diri sendiri. Saat itu saya jadi punya banyak waktu untuk mengamati Anindya putri kecil kami dan istri saya yang sedang tidur. Sambil terus mengipasi mereka, pikiran saya seolah melakukan evaluasi terhadap segala yang sudah terjadi dan akhirnya saya semakin menyadari betapa beruntungnya saya dengan segala yang saya miliki saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ilustrasi diatas ada satu hal yang harus kita pahami sebelum memberikan respon terhadap stimulus yang timbul yaitu &lt;strong&gt;PARADIGMA&lt;/strong&gt;. Dengan paradigma, anda sebenarnya memiliki beberapa pilihan dalam merespon. Hal itu dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;strong&gt;                                                                            Pilihan A&lt;br /&gt;              STIMULUS             PARADIGMA            Pilihan B                 RESPON&lt;br /&gt;                                                                                    Pilihan C&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebuah stimulus dapat diartikan negative atau positif sangat tergantung pada paradigma berpikir yang kita gunakan sebelum menentukan pilihan respon dan bukan pada stimulus itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lebih kurang 4 jam mengipasi akhirnya pukul 01.30 dinihari listrik hidup kembali. Sebelum saya rebahkan diri untuk istirahat saya cium kening kedua orang yang saya cintai itu sambil mengucapkan syukur kepada Yang Maha Tinggi karena sudah memberikan saya 4 jam yang berharga malam itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3762705302833276607?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3762705302833276607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3762705302833276607' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3762705302833276607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3762705302833276607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/stimulus-respon.html' title='Stimulus - Respon'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-1081992976748079105</id><published>2007-04-11T18:34:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T18:35:34.030-07:00</updated><title type='text'>KLIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saat mengunjungi Kuala Lumpur, yang pertama kali saya kagumi adalah desain dan sosok bandara KLIA (Kuala Lumpur International Airport) yang megah sekaligus unik. Sebagai seorang arsitek, saya selalu melihat bangunan yang saya datangi/masuki secara detail. Konsep desain yang modern dengan bentuk yang tidak biasa membuat KLIA pantas dijuluki sebagai salah satu bandara tercantik di asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah turun dari pesawat, ternyata penumpang harus berjalan cukup jauh ditambah menggunakan kereta untuk dapat mengambil bagasi yang letaknya di gedung berbeda. Setelah menunggu dan akhirnya mendapatkan bagasi, selanjutnya adalah menuju ke sebuah konter untuk memesan taksi ke hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan konter, saya lihat ada 3 loket yang panjang antriannya berbeda. Baris pertama ada 5 orang mengantri, baris kedua ada 6 orang sedangkan baris ketiga hanya 3 orang. Saya memutuskan untuk mengantri di baris ketiga. Sembari mengantri saya lihat petugas di 2 konter sebelahnya, pertama seorang wanita muda berwajah oriental dan sebelahnya wanita muda berwajah India. Mereka terlihat cekatan, ramah dan bersemangat dalam melayani pelanggan didepannya. Sapaan selamat datang dan senyuman selalu terlihat diwajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat giliran saya, petugas konter ketiga seorang wanita muda berwajah melayu dengan mengenakan kerudung. Dengan terus melihat ke layar computer didepannya, dia berkata (dalam Bahasa Inggris) tanpa senyum,”&lt;em&gt;Ya, tujuan kemana&lt;/em&gt;?”. Sembari terheran melihat sikap yang dia tunjukkan, saya menyebutkan tujuan saya. Kemudian dengan tetap tidak melihat pada saya,” &lt;em&gt;VIP atau biasa&lt;/em&gt;?”. Karena saya tidak paham dengan maksudnya, saya tanyakan kembali apa maksudnya VIP dan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas tersebut akhirnya memandang saya sambil menghela napas kemudian menerangkan dengan ekspresi yang kelihatan malas (atau jengkel?). Petugas tersebut menerangkan dengan cepat dengan pengucapan yang (bagi saya) kurang jelas. Setelah mengerti (walaupun tidak sepenuhnya) saya akhirnya menentukan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali petugas memandangi komputernya dan mencetak resi taksi yang saya minta sambil menyebutkan jumlah yang harus saya bayar (tetap tanpa memandang ke pelanggan). Setelah menerima pembayaran, petugas menghitung ulang dan memberikan tiket taksi kepada saya sambil berkata,”&lt;em&gt;Next&lt;/em&gt;!”. Tanpa ada ucapan salam apalagi Terima Kasih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengatur kertas dokumen dalam tas, saya perhatikan petugas di konter ketiga tadi dan membandingkannya dengan petugas di sebelahnya yang sikapnya sangat bertolak belakang! Well..pantas saja antrian di baris pertama dan kedua selalu lebih panjang dari baris ketiga! Karena selain mendapatkan tiket taksi, pelanggan juga akan mendapatkan ucapan salam dan senyuman yang menyenangkan dari petugas konter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman saya akan keindahan dan kemegahan bangunan KLIA seolah terhapus sebagian karena sikap dari seorang karyawannya yang tidak simpatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pelanggan akan selalu memilih orang/perusahaan yang dapat memberikan kenyamanan dalam berinteraksi dan bertransaksi. Dan pelanggan akan dengan senang hati kembali dan kembali lagi untuk bertransaksi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;2. Betapapun besar dan mewahnya sebuah tempat (gedung, perusahaan, kantor) yang menentukan nyaman tidaknya tetaplah ditentukan oleh sikap orang-orang yang berada didalamnya terhadap pelanggan yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-1081992976748079105?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/1081992976748079105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=1081992976748079105' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1081992976748079105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1081992976748079105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/klia.html' title='KLIA'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-438986689698342644</id><published>2007-04-11T18:07:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T18:10:56.180-07:00</updated><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Malam ini saya dan beberapa teman menyempatkan untuk makan malam bersama di Kelapa Gading, kami memilih rumah makan yang cukup bersih dan ramai pengunjung, serta letaknya mudah dijangkau karena letaknya di pinggir jalan utama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sewaktu kami makan ternyata pesanan kami ada yang kurang memuaskan yaitu ikan bakar yang masih berbau "amis" dan sepertinya kurang matang maka saya dan teman-teman tidak memakan masakan itu dan hanya mencicipinya sedikit saja.Setelah selesai makan, teman saya meminta bon pembayaran dan ternyata keadaaan ikan yang masih "utuh" itu menarik perhatian pelayan rumah makan. Pelayanan tersebut dengan ramah bertanya," &lt;em&gt;Apakah ikan bakar ini akan dibungkus ?&lt;/em&gt;" Teman saya sambil membayar bon menjawab," &lt;em&gt;Tidak usah mas, karena ikan bakarnya masih amis&lt;/em&gt;".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tak disangka ternyata jawaban teman saya itu disampaikan kepada pemimpin rumah makan dan kemudian dia mendekati kami sambil membawa uang kembalian pembayaran. Sewaktu pemimpin rumah makan itu mengembalikan uang kembalian, beliau menjelaskan proses memasak ikan bakar tersebut dan beliau meminta maaf karena ikannya ternyata masih berbau amis. Diluar dugaan pemimpin rumah makan itu mengembalikan uang pembayaran untuk ikan bakar itu. Jelas hal ini menjadikan kami kaget dan teman saya bilang," &lt;em&gt;Tidak apa-apa pak, kami akan tetap membayar harga ikan itu&lt;/em&gt;". Namun pemimpin rumah makan tetap tidak mau menerima dan sekali lagi meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan karena pesanan kami tidak disajikan seperti seharusnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;"&lt;em&gt;Sungguh sikap yang luar biasa, dimana pemimpin tersebut berani mengakui kesalahan dan mengambil resiko dengan membebaskan biaya pemesanan serta meminta maaf secara terbuka&lt;/em&gt;,” pikir saya. Dan teman saya yang lain ternyata juga berpendapat sama dengan saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Perasaaan kagum masih menggayuti pikiran saya ketika kami meninggalkan rumah makan tersebut. Inilah pengalaman sederhana penuh makna. Seringkali seseorang sulit sekali mengakui kesalahan dan apalagi mengambil resiko dari kesalahan tersebut. Sikap yang sering ditunjukkan biasanya seseorang akan memberi bantahan jika mendapatkan kritikan dari orang lain dan kemudian membandingkan dirinya yang dikritik itu dengan orang lain pula.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kekaguman, simpati, empati terjadi karena pemimpin rumah makan itu berani memberikan penjelasan dan dengan kerendahan menerima kritikan bahkan mengambil resiko akan "kesalahan" yang telah dilakukan. Penjelasan yang diberikan memberikan keterangan kalau pada dasarnya tidak ada kesalahan dalam proses pemasakan namun kalau ada ketidaknyamanan yang ditimbulkan  maka mereka berani meminta maaf dan mengambil resiko dari kekeliruan ini, dengan demikian hidup menjadi lebih maju dan mengembirakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hidup selalu penuh dengan penerimaan dan penghormatan dan dengan hal ini maka terjadi jalinan persaudaraan sehingga kepuasan dalam kebersamaan semakin dapat dirasakan. Hidup akan maju hanya dengan kerendahan hati dan keberanian mengakui kesalahan serta memperbaiki kesalahan itu.Semoga keteladanan dari pemimpin rumah makan itu ada dalam diri kita sehingga kita boleh selalu berdamai dengan apapun yang terjadi, baik pujian maupun kritikan orang lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pelayanan yang baik akan memberikan kesan yang baik pula karena dalam pelayanan yang baik ada ikatan kasih yang mampu melahirkan kegembiraan dalam hidup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sumber tulisan: Irene, Divisi ITG Kantor Pusat&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-438986689698342644?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/438986689698342644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=438986689698342644' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/438986689698342644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/438986689698342644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-7983984673863558794</id><published>2007-04-09T17:53:00.000-07:00</published><updated>2007-04-09T17:55:55.321-07:00</updated><title type='text'>Boss atau Leader?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dari pengalaman saya selama menjadi konsultan banyak menemui hal-hal yang kontradiktif yang kadang membuat saya geli sendiri. Sekali waktu saya pernah bertemu dengan seorang manajer bagian HRD dari sebuah bank pemerintah. Kebetulan manajer ini adalah juga seorang trainer yang salah satu tugasnya adalah mensosialisasikan standar-standar layanan bank tersebut ke seluruh cabang di Indonesia. Dia menjelaskan dengan antusias betapa dia dan tim-nya sudah bersusah payah memaksa para karyawan gugus depan untuk menerapkan standar layanan dalam menerima telepon. Tapi hasilnya selalu tidak seperti yang diharapkan, jawabannya selalu tidak lengkap dan sering dengan intonasi yang tidak professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberi contoh standar saat menerima telepon,”&lt;em&gt;Selamat pagi Bank ABC dengan Fulan, ada yang bisa dibantu?&lt;/em&gt;”. &lt;em&gt;Berulang kali saya cek dengan coba telepon langsung ke cabang tapi selalu tidak standar, saya jadi pusing kenapa sebabnya&lt;/em&gt;?”. Saat kami berbincang, tiba-tiba telepon di mejanya berbunyi dan saat dering kedua telepon diangkat sambil mengucapkan dengan tegas sang manajer menjawab,”&lt;em&gt;Halo!, hmm…siapa nih!..ya..ya..nanti aja, lagi ada tamu&lt;/em&gt;” . Seketika itu juga saya sudah tahu jawaban dari sumber permasalahan yang dihadapi manajer tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya iseng minta si manajer untuk telepon salah satu bos-nya (kepala divisi) untuk sekedar ingin tahu respon jawabannya. Dalam deringan keempat terdengar telepon diangkat dan terdengar suara,”&lt;em&gt;Halo&lt;/em&gt;!..”. Nadanya persis dengan yang diucapkan sang manajer tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu saya berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke cabang sebuah bank swasta ditemani oleh kepala cabang bank tersebut. Siang itu cabang bank tersebut ramai oleh nasabah yang mengantri. Pada saat berada di banking hall, saya lihat si kepala cabang tersebut dengan ramahnya menyapa nasabah yang sedang mengantri dan tersenyum kepada nasabah-nasabah yang lain sambil mengucapkan,” &lt;em&gt;Mohon maaf bapak dan ibu hari ini mengantri lebih lama karena memang hari ini ramai sekali, terima kasih&lt;/em&gt;”. Nasabah yang mengantri membalas dengan senyum dan anggukan tanda maklum kepada pemimpin cabang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat melewati banking hall, pemimpin cabang tersebut membungkuk dan memungut sisa bungkus permen dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Sebenarnya dia bisa saja menyuruh Office boy atau satpam untuk mengambil dan membuang sampah tersebut. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Waktu saya tanyakan kenapa dia lakukan hal itu, jawabannya,”&lt;em&gt;Saya mau tunjukkan bahwa Layanan termasuk kebersihan di cabang ini adalah tangungjawab setiap orang tidak terkecuali dan ini juga sebagai bukti bahwa saya melakukan apa yang saya katakan&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 buah pengalaman yang sangat bertolak belakang bukan? Aktor utama dalam 2 pengalaman tersebut adalah &lt;strong&gt;Leader&lt;/strong&gt;, tapi anda bisa lihat tipe kepemimpinan seperti apa yang ditunjukkan oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu “kutukan” bagi seorang atasan adalah bahwa anda selalu diawasi oleh bawahan anda. Segala tindak tanduk anda, sikap dan perilaku anda menjadi point amatan yang mengasyikkan buat para bawahan anda. Anda adalah topik yang paling asyik dibicarakan di kantin-kantin kantor, di toilet dan tempat bergunjing lain. Anda akan dengan mudahnya mendapat julukan “&lt;em&gt;Om-Do&lt;/em&gt;” (Omong Doang) apabila anda memang lebih banyak bicara daripada mepraktekkan apa yang anda katakan. Dan mereka dengan mudah mengidentifikasi apakah anda seorang &lt;strong&gt;BOSS&lt;/strong&gt; atau &lt;strong&gt;LEADER&lt;/strong&gt;. Seorang Boss akan selalu meminta dan memerintah sedangkan Leader akan lebih pada membimbing, mengajak dan memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering meminta orang lain melakukan sesuatu yang baik dan penting tapi sesering itu pula kita lupa bahwa kita-pun juga harus dapat menjadi contoh dari apa yang kita minta mereka untuk lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya hak untuk bersikap apapun terhadap karyawan anda karena itu adalah hak anda sebagai manusia dan karyawan anda juga punya hak untuk punya persepsi tertentu tentang anda.&lt;br /&gt;Keputusan sepenuhnya ada di tangan anda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-7983984673863558794?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/7983984673863558794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=7983984673863558794' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7983984673863558794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/7983984673863558794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/boss-atau-leader.html' title='Boss atau Leader?'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-2922345244007509901</id><published>2007-04-09T17:46:00.000-07:00</published><updated>2007-04-09T17:48:48.111-07:00</updated><title type='text'>Burung dengan Sebelah Sayap</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu hari pada saat jam makan siang secara tidak sengaja saya bertemu dengan teman lama kerja saya di sebuah toko mainan. Teman saya itu sudah seringkali pindah kerja dan saat itu dia bilang bahwa minggu depan dia akan pindah lagi ke sebuah perusahaan telekomunikasi besar. Saat saya tanya apa alasan yang membuat dia selalu pindah, jawabannya adalah karena tidak cocok dengan teman kerja yang lain. Sekali waktu dia merasa tidak cocok dengan rekan sekerja dan di perusahaan selanjutnya dia merasa tidak cocok dengan atasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda mengalami hal yang sama: merasa tidak cocok dengan rekan kerja atau bawahan atau bahkan atasan anda? Apakah benar dengan menghindar dari orang-orang yang “tidak cocok” merupakan sebuah pemecahan? Kalau anda ingin mencari orang yang cocok baik dalam pekerjaan maupun pasangan hidup, sebaiknya lupakan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang sebaiknya kita tunjukkan adalah dengan: &lt;em&gt;menerima perbedaan dan melihat perbedaan sebagai sebuah pengkayaan&lt;/em&gt;. Tuhan sejatinya menciptakan manusia dengan sifat ketergantungan satu sama lain. Kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidak sempurnaannya. Tuhan memberi manusia kelebihan dan kekurangan sekaligus. Meminjam istilah dari &lt;strong&gt;Leonardo de Crescendo&lt;/strong&gt; manusia dengan segala keterbatasannya ibarat &lt;em&gt;seekor burung dengan sayap yang hanya sebelah&lt;/em&gt;. Dan untuk bisa terbang burung tersebut haruslah berpelukan erat dengan burung lain yang hanya memiliki sayap sebelah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Layanan ada prinsip yang namanya &lt;em&gt;Service Chain&lt;/em&gt;, bahwa Layanan adalah sebuah hasil kerja dari berbagai fungsi yang berbeda dalam sebuah organisasi. Ada pola hubungan simbiosis mutualisma (ketergantungan yang saling menguntungkan) antara beberapa fungsi yang terlibat. Baik buruknya sebuah layanan dapat dilihat dari baik dan buruknya hubungan antara fungsi tadi. Sebuah perusahaan yang berjaya adalah berkat hubungan harmonis dan sinergis diantara fungsi-fungsi didalamnya. Sebuah keluarga akan menjadi keluarga yang harmonis apabila masing-masing anggota keluarga menyadari dan menghargai adanya perbedaan dan saling memperkaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan saya yang hendak menikah sering diliputi keraguan akan keputusannya. “&lt;em&gt;Apakah dia (pasangannya) bisa cocok dalam berbagi hidup denganku?, apakah kami bisa mengarungi keidupan rumah tangga dengan bahagia?&lt;/em&gt;”. Dalam sebuah buku pernah saya baca bahwa untuk hidup bahagia hanya dibutukan 30% &lt;strong&gt;CINTA&lt;/strong&gt; dan sisanya adalah &lt;strong&gt;KOMPROMI&lt;/strong&gt;! Kompromi adalah juga pengejawantahan dari kasih sayang dan penerimaan akan perbedaan guna mencari kesepahaman untuk tujuan yang lebih mulia: hidup bahagia!  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Bila dua ekor burung yang hanya memiliki sebelah sayap hendak terbang bersama mereka juga harus memiliki cinta sebagai perekat karena dengan cintalah harmoni kepakan sayap mereka akan dapat mengantarkan ke tempat tujuan mereka. Cinta tidak saja merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, mentransformasikan kegagalan menjadi keberhasilan, namun juga  membuat semuanya  tampak indah dan menyenangkan. Rugi besarlah manusia yang selama hidupnya tidak pernah mengenal cinta. Ia seperti pendaki gunung yang tidak pernah sampai di puncak gunung. capek, lelah, penuh perjuangan namun sia-sia. Makanya, &lt;strong&gt;Jack Canfield&lt;/strong&gt; penulis buku &lt;em&gt;Chicken Soup For The Couple Soul&lt;/em&gt; mengemukakan, cinta adalah rahmat Tuhan yang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaknai perbedaan sebagai kekayaan adalah mudah untuk dikatakan tapi sulit untuk dilakukan. Dan akan semakin sulit dan mustahil dilakukan kalau kita tidak pernah mencobanya dari sekarang. Mari kita mulai dengan memaknai perbedaan kita dengan pasangan hidup kita, anak-anak kita dan tetangga sekitar. Cintai rekan kerja anda, orang yang duduk di sebelah anda, orang yang menjadi bawahan dan atasan anda. Maknai perbedaan sebagai kekuatan dan rekatkan hubungan dengan lem cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sepintar dan sehebat apapun anda, anda tetaplah burung yang hanya memiliki sebelah sayap.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-2922345244007509901?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/2922345244007509901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=2922345244007509901' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2922345244007509901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/2922345244007509901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/burung-dengan-sebelah-sayap.html' title='Burung dengan Sebelah Sayap'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8638226031804589249</id><published>2007-04-08T19:52:00.000-07:00</published><updated>2007-04-08T19:53:26.855-07:00</updated><title type='text'>Senyum dan Kebahagiaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya pernah mengajukan sebuah pertanyaan kepada teman-teman saya yang baru memiliki momongan (bayi),” &lt;em&gt;Apa yang paling membuat anda bahagia pada saat melihat bayi anda&lt;/em&gt;?”.&lt;br /&gt;Dari sekian banyak jawaban, 90% mengatakan saat yang paling membahagiakan adalah saat sang bayi menatap dan tersenyum pada mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya yang membuat saat itu begitu membahagiakan? Bukan hanya karena bayi kita sehat dan cantik. Tapi lebih pada senyum yang diberikan anak kita yang begitu tulus dan menebarkan rasa bahagia yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Sebuah senyum yang menghangatkan batin kita dan membuat ikatan emosional kita semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saya memberikan training mengenai Layanan, saya sering mendapatkan pertanyaan dari peserta “ &lt;em&gt;Senyum tulus itu deskripsinya seperti apa&lt;/em&gt;?”. Dan saya selalu jawab bahwa senyum tulus tidak pernah bisa dideskripsikan tapi selalu bisa dirasakan. Senyum tulus, sebuah senyuman yang datang dari hati yang paling dalam. Muncul untuk membahagiakan, menghormati, dan memuliakan orang lain. Senyuman ini menunjukkan adanya kondisi paralel antara bibir (lahir) dengan hati (bathin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum bukan hanya menyangkut urusan bibir saja, tetapi yang utama adalah ingin tidaknya kita membahagiakan orang lain, ingin tidaknya kita membuat keadaan di sekitar kita bercahaya.&lt;br /&gt;Kita memang harus belajar dari para bayi tentang bagaimana caranya menyebarkan kebahagiaan dan kehangatan ke setiap orang yang menerima senyumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya selalu bersyukur bahwa setiap pagi saya selalu mendapatkan senyum yang terindah dari anak saya….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8638226031804589249?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8638226031804589249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8638226031804589249' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8638226031804589249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8638226031804589249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/senyum-dan-kebahagiaan.html' title='Senyum dan Kebahagiaan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8033792467101587630</id><published>2007-04-08T19:42:00.000-07:00</published><updated>2007-04-09T03:04:13.321-07:00</updated><title type='text'>Cukup</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam perjalanan ke Solo minggu lalu, saya menyempatkan diri pulang ke Yogya untuk sowan kedua orangtua saya sekaligus juga untuk menyambangi sobat saya Petro untuk melihat karya-karya lukisnya yang baru. Yogya merupakan kota yang selalu saya kangeni dan ada nuansa magis tersendiri semenjak mulai memasuki perbatasan kota. Tidak heran kalau Katon Bagaskara lantas menuangkan rasa magis kota ini dalam sebuah lagu yang sangat populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghabiskan waktu 8 tahun untuk belajar di kota ini dan saat-saat itu saya gemar bertandang ke Pasar Beringhardjo pada siang hari dan selasar Malioboro pada malam hari, hanya sekedar untuk nongkrong, makan lesehan dan berbincang dengan para penjaja kaki lima. Saat itulah saya mengenal seorang mbok bakul (ibu-ibu penjual) gerabah ini di Pasar Beringhardjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Mbok Wariyah, ibu paruh baya ini berjualan gerabah (barang pecah belah dari tanah liat) berupa celengan, kendi dll. Saat saya pertama kali bertemu dirinya sedang bersenda gurau dengan sesama pedagang lain di pasar itu. Dia berasal dari sebuah desa kecil dekat perbatasan Imogiri dan Yogya yang jaraknya sekitar belasan km dari pasar tersebut. Untuk menuju ke pasar setiap pagi dia menggunakan sepeda onthel dengan keranjang besar di kiri dan kanan sepeda untuk menaruh barang-barang dagangannya. Namun dia tidak sendirian, dia dan beberapa rekan sesama mbok bakul selalu pergi bersama-sama di pagi buta menuju Pasar beringhardjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Berapa untungnya satu barang ini mbok&lt;/em&gt;?” tanya saya siang itu. “&lt;em&gt;Tergantung yang ngenyang (menawar) mas, kalo orangnya nggak nawar banget ya saya bisa dapet untung Rp.3000 – Rp.4000 sebuah. Tapi kalau orangnya nawarnya ulet ya saya lepas juga walau untungnya cuman Rp.1000, kan yang penting dagangan saya laku dan saya nggak bawa beban berat kalo pulang&lt;/em&gt;,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Apa cukup mbok untung segitu buat hidup sehari-hari&lt;/em&gt;?”. Sesaat mbok itu terdiam kemudian sambil memandang saya dia bertanya,” &lt;em&gt;Mas, yang dimaksud dengan cukup itu apa tho&lt;/em&gt;?”. Saya bingung harus menjawab apa karena sayapun tidak tahu apa sesungguhnya “Cukup” itu. Sambil tersenyum dia kemudian melanjutkan,” &lt;em&gt;Saya dengan penghasilan saya yang memang nggak banyak ternyata masih bisa hidup, anak-anak nggak keleleran (tidak terurus), masih bisa ngobrol dengan Mas dan saya pikir saya sudah tercukupi dengan semua itu&lt;/em&gt;”. Saya semakin tidak mengerti dengan maksud kalimat itu. “&lt;em&gt;Cukup dan tidak cukup yang menentukan itu pikiran kita. Kalo Mas misalnya punya gaji Rp.5 juta sebulan dan pikiran mas bilang bahwa itu nggak cukup ya bakal nggak akan cukup. Tapi sebaliknya, kalaupun gaji mas Cuma Rp.500 ribu tapi pikiran mas bilang ‘Alhamdulillah diparingi (diberi) rejeki’ dan merasa cukup pasti juga akan cukup. Uang itu kan cuma alat tho? dan Mas nggak usah khawatir karena Gusti Allah pasti mencukupkan rejeki kita kalau kita mau berusaha&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertegun mendapat penjelasan itu. Sungguh dalam makna yang terkandung dalam setiap kalimat yang terucap. Kita sering mengeluh bahwa penghasilan kita kecil dan tidak mencukupi buat hidup. Hidup yang seperti apa? Rekan saya seorang eksekutif muda sering mengeluh dengan penghasilannya yang dia bilang “pas-pasan”. Padahal dia sudah bisa kontrak rumah yang cukup lega, bisa punya motor dan pekerjaan tetap. Apabila ada ketidak puasan akan rejeki bisa dipastikan bahwa hal itu berkait dengan materi. Belum punya ini, belum punya itu, mau kesini, pengen makan itu dll. Dan semakin kita terjebak dalam cengkeraman nafsu materi sudah dapat dipastikan bahwa berapapun penghasilan kita tidak akan pernah dirasa cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasrah dan berserah, mungkin itulah kekuatan para perempuan seperti Mbok Wariyah ini. Namun, keliru besar apabila mengartikannya sebagai sikap apatis. Dalam kata “Pasrah” dan “Berserah” terkandung kekuatan luar biasa untuk bukan hanya bertahan tapi juga mengendalikan nafsu dari hal-hal yang bersifat materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lebih ekstrem dapat kita lihat dari para abdi dalem Keraton Yogya. KRT Jojoseputro yang sering dipanggil dengan Mbah Kanjeng, adalah seorang abdi dalem yang bertugas mengurus Kereta Kencana Keraton. Usianya sudah mencapai lebih dari 100 tahun tapi tetap bisa bekerja. Penghasilannya? Rp.20,000 (dua puluh ribu) sebulan dan jumlah itu selalu dibilang,”&lt;em&gt;Cukup untuk hidup..&lt;/em&gt;”. Bagi orang seperti Mbah Kanjeng, kata “Cukup” maknanya lebih dari kaya secara materi karena dia percaya rejeki sudah ada yang mengatur dan kita manusia hanya diminta untuk berusaha.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8033792467101587630?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8033792467101587630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8033792467101587630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8033792467101587630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8033792467101587630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/dalam-perjalanan-ke-solo-minggu-lalu.html' title='Cukup'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3877643880844750229</id><published>2007-04-08T19:38:00.000-07:00</published><updated>2007-04-08T19:40:11.304-07:00</updated><title type='text'>Melayani = Tabungan Masa Depan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari kita tentu sering mengkonsumsi layanan dari orang/perusahaan lain. Saat anda ke supermarket anda bertemu dengan sales promotion girl (SPG) dan kasir. Anda menabung di bank anda akan bertemu dengan satpam, teller atau CSO dan mungkin pegawai bank lain yang membantu proses anda. Saat ke restoran anda akan bertemu dengan pelayan, dan bila beruntung anda mungkin bisa bertemu dengan pemilik restoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tentu juga bisa merasakan dan membedakan mana layanan yang baik dan menyenangkan sehingga pikiran anda memutuskan untuk kembali lagi lain waktu. Kadang juga anda menemui layanan yang seolah tidak “memanusiakan” anda sebagai pelanggan. Dan secara otomatis panca indera yang menemui dan mengalami layanan yang buruk akan memberi sinyal ke otak anda untuk tidak pernah datang lagi ke tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kadang bingung sekaligus penasaran mengapa orang kadang sulit sekali untuk menerapkan Layanan yang baik kepada pelanggan. Apa yang diajarkan dalam Service Quality (Layanan) pada dasarnya adalah mengajarkan sekaligus mengingatkan untuk berbuat baik kepada orang lain. Dalam layanan anda harus ramah, senyum, siap membantu, menyebut nama dan mengucapkan terima kasih. Bukankan hal-hal tersebut intinya adalah berbuat baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbuat baik, di agama manapun anda akan mendapatkan pahala dan disukai oleh Yang Maha Tinggi. Saat anda berbuat baik, secara otomatis malaikat yang ada disebelah kanan anda akan mencatat amal anda sebagai tabungan pahala anda nanti. Beruntungnya lagi, untuk berbuat baik dengan memberikan layanan yang baik kepada orang lain anda mendapatkan uang (baca:gaji) setiap bulan dari tempat anda bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang coba sama-sama kita renungkan:&lt;br /&gt;Anda diminta berbuat baik sesuai ajaran agama dengan ganjaran pahala dan segala kebaikan di kehidupan selanjutnya. Dan perbuatan baik ini tidak membutuhkan biaya sama sekali, modal yang dibutuhkan hanyalah: Niat dan Ketulusan ! Selain itu anda juga akan mendapatkan keuntungan materil setiap bulan (gaji) untuk perbuatan baik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dlihat dari sisi kita sendiri, saya yakin anda (dan juga saya) akan senang dan merasa dihargai apabila kita dibantu dan dilayani dengan baik oleh orang lain dan sebaliknya. Bukankah dalam hidup sebisa mungkin kita dapat membahagiakan orang lain sebanyak mungkin? Saya ingat pepatah lama, “memiliki teman 100 masihlah sedikit tapi memiliki musuh 1 orang saja adalah terlalu banyak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan senang dan bahagia itu juga menular (sama seperti menguap!). Apabila anda sudah membahagiakan seseorang, dia akan juga menularkan kebahagiaan yang dia terima dari anda kepada orang lain dan mungkin orang lain tersebut akan menularkannya juga kepada orang lain lagi dan seterusnya. Bisa anda bayangkan akhirnya begitu banyak orang yang bisa anda bahagiakan harinya dalam 1 hari!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3877643880844750229?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3877643880844750229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3877643880844750229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3877643880844750229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3877643880844750229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/melayani-tabungan-masa-depan.html' title='Melayani = Tabungan Masa Depan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-4768748950847986148</id><published>2007-04-05T03:17:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T03:21:39.647-07:00</updated><title type='text'>Life is Beautiful (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alkisah, seorang lelaki yang merasa sudah jenuh dengan hidupnya pergi menemui seorang bijak.”Saya ingin segera mati saja,” ujarnya. Sang bijak hanya tersenyum sambil berkata,”Besok pagi, saat kamu bangun, anggaplah hari itu adalah hari terakhirmu. Juga sarapan pagimu karena itu mintalah makanan yang paling kamu sukai. Banyak-banyaklah ajak istrimu bercakap-cakap karena ini kesempatan terakhirmu. Saat hendak bekerja, pandanglah rumahmu dan lingkungan sekitarmu, nikmatilah perjalananmu ke kantor. Saat dikantor nikmatilah setiap kegiatan yang kamu lakukan di kantor karena inilah kesempatan terakhirmu.” Pria itu lalu pulang kerumah dan berjanji akan melakukan perintah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian pria tersebut kembali ke Sang Bijak untuk menceritakan pengalamannya. Ia kini selalu membayangkan setiap hari adalah hari terakhirnya karena itu dia selalu nikmati apapun yang dia lakukan. Salah satu kebiasaan baru yang dilakukannya adalah dia selalu memeluk dan mencium mesra istri dan anak-anaknya dengan penuh cinta seraya mengucapkan I Love You pada saat akan pergi dan saat pulang kerja sore harinya. Ia mengharapkan besok dan hari-hari berikutnya ia masih diperkenankan hidup oleh Sang Maha Hidup. Pria itu menjadi bersemangat dan bergembira dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 2 pembelajaran yang utama dari cerita tersebut: Pertama, &lt;em&gt;mensyukuri&lt;/em&gt;. Cobalah sekali-kali anda berdiam diri dan melihat kepada diri anda sendiri dan yang anda miliki saat ini. Kita seringkali stress karena sering memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak kita miliki. Kecemburuan timbul karena rekan kerja kita kemarin beli TV baru, teman sekolah kita yang kerja di tempat lain gajinya lebih tinggi dari kita. Saya punya teman yang jadi sering pindah kerja hanya karena dia ingin gajinya setidaknya sama dengan rekan yang lain. Suatu saat di awal-awal masa saya mulai bekerja saya bertemu dengan seorang ustad untuk menyampaikan berita gembira bahwa saya telah mendapatkan pekerjaan tetap. Ustad tersebut hanya tersenyum kemudian berkata,” &lt;em&gt;anakku, yang patut kamu syukuri bukanlah pekerjaan tetap itu tetapi adalah bahwa kamu bisa tetap bekerja karena tetap atau tidak tetap, selama orang itu bekerja dia sedang melakukan ibadah.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran kedua, kita bisa menikmati hidup kalau kita &lt;em&gt;berkonsentrasi ke masa kini&lt;/em&gt;, bukan ke masa lalu atau masa depan. Mengingat masa lalu yang buruk dapat menyebabkan penyesalan berkepanjangan dan kalaupun sebaliknya kerinduan akan masa lalu yang indah dapat menjadi beban, seolah-olah kita harus hidup seperti masa lalu. Misal, dulu mah enak karena bekerja tidak pakai target, bonus juga gede dan tidak banyak aturan dll. Mengingat masa depan juga dapat membuat kenikmatan hidup berkurang. Kita sering terjebak dengan target-target pribadi yang kita buat, keinginan 2 tahun lagi harus dapat ini dan itu semakin membuat konsentrasi kita terbelah dan pikiran kita dibebani untuk dapat mencapai target tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga halnya masa lalu, masa depan juga berada diluar control kita. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi minggu depan, esok hari bahkan 1 jam kedepan. Kita hanya bisa mengontrol pada proses menuju masa depan itu. Proses inilah yang kita jalani sekarang, saat ini, detik ini. Karena itu nikmatilah setiap detik dari hidup anda. Caranya adalah dengan menumbuhkan kesadaran terhadap setiap apa yang anda kerjakan. Satukanlah badan dan pikiran anda setiap waktu. Dalam &lt;strong&gt;FISH! Philosophy&lt;/strong&gt; (Lundin,Paul,Christensen – New York 2000), konsep ini disebut sebagai &lt;strong&gt;BE THERE!&lt;/strong&gt; Yaitu fokuskan perhatian pada siapa yang sedang anda layani. Stress terjadi karena tidak bersatunya badan dan pikiran. Bila anda seorang Teller saat bertransaksi dengan pelanggan pikiran anda ada dirumah memikirkan tagihan listrik yang belum dibayar. Anda sedang rapat dengan karyawan di kantor tapi pikiran anda sibuk memikirkan mobil yang hendak dipakai untuk berlibur. Anda sedang bercengkerama dengan keluarga tapi pikiran anda memikirkan pekerjaan di kantor. Badan dan pikiran anda terpisah karena itu stress dengan mudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai hidup bahagia sebetulnya tidaklah sulit. Kebahagiaan tidak perlu anda cari. Kebahagiaan sejati bukanlah berasal dari materi yang kita miliki, pangkat/gelar yang kita sandang, gaji yang tinggi dll. Kebahagiaan sejati bersumber dari diri sendiri, hati, pikiran dan paradigma kita dalam memandang hidup. Anda hanya perlu menumbuhkan kesadaran dan menikmati apapun yang sedang anda lakukan. Mantan atasan saya (seorang warga Negara Amerika) sering berkata kepada saya,”&lt;em&gt;Arif, Life is beautiful. So, enjoy it!”..&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-4768748950847986148?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/4768748950847986148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=4768748950847986148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4768748950847986148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/4768748950847986148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/life-is-beautiful-2.html' title='Life is Beautiful (2)'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-237098360200391872</id><published>2007-04-05T03:13:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T03:17:06.602-07:00</updated><title type='text'>Life is Beautiful (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya pernah menonton sebuah film yang cukup mengharukan bagi saya, judulnya “Life is Beautiful” (La Vita est Bella) dengan tokoh kunci yang diperankan oleh Roberto Benigni. Film ini menceritakan seorang lelaki Guido Orefice yang sangat menikmati hidupnya dan tidak sedetikpun waktunya dilewatkan dengan bermuram durja. Padahal kehidupan sebenarnya sangatlah tidak mendukung karena dia seorang yahudi dan dalam masa itu (perang dunia kedua) bangsa yahudi dimusuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemalangan dimulai saat Guido dan istri serta anaknya ditangkap oleh pasukan Jerman dan dijebloskan ke kamp konsentrasi. Dia tahu hidupnya beserta keluarganya akan terancam dalam kamp tersebut. Tapi Guido tidak ingin anaknya yang berusia 6 tahun tahu yang sesungguhnya terjadi karena itu dia mengarang cerita bahwa semua yang terjadi di kamp itu adalah sebuah permainan. Ada yang berperan sebagai orang Jerman dan ada juga yang berperan sebagai yahudi. Guido menjelaskan bahwa pemenang akan diberi hadiah naik diatas tank Jerman yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya sangat terharu dalam film tersebut adalah bagaimana Guido berusaha untuk tetap membuat anaknya senang dan bersemangat dalam situasi yang demikian tertekan. Banyak hal yang baik-baik dan menyenangkan dikatakan kepada anaknya Joshua Guido. Bahkan sampai sebelum Guido meninggal ditembak oleh tentara Jerman, Guido tetap menyemangati anaknya agar terus bersemangat dalam “permainan” itu. Di akhir cerita Jerman kalah, istri dan anak Guido selamat bahkan oleh tentara sekutu Joshua Guido dinaikkan ke atas tank besar milik Jerman yang kalah perang. Joshua merasa berhasil sebagai pemenang dalam “permainan” tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran yang saya dapatkan dalam film yang telah mendapatkan 3 Academy Awards dan 56 penghagaan international itu adalah SENI MENIKMATI HIDUP. Kebahagiaan bagi seorang Guido adalah apa yang dia miliki saat ini dan menikmati apapun yang dia lakukan bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun (dijajah Jerman dan dibawa ke kamp) karena dia yakin bahwa masa depan berada di luar kontrol dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah buku saya pernah membaca sebuah cerita mengenai seorang nelayan. Seorang lelaki dari kota datang ke pantai dan bertemu dengan seorang nelayan yang sedang bercanda dengan riang bersama anak-anaknya. Lalu si orang kota tersebut bertanya mengapa nelayan tersebut tidak melaut. Nelayan tersebut menjawab bahwa dia baru pulang dari melaut mencari ikan dengan perahu kecil yang ada disamping rumah. Kemudian orang kota tersebut menyarankan untuk melaut lebih lama dari biasanya agar mendapatkan hasil yang lebih banyak.”&lt;em&gt;Kalau saya dapat hasil yang lebih banyak kemudian apa pak?”&lt;/em&gt; tanya nelayan itu. “&lt;em&gt;Bapak bisa membeli kapal yang lebih besar, dan dengan kapal besar itu tangkapan bisa lebih banyak, bapak bisa punya uang yang banyak dan hidup bapak bisa jadi bahagia&lt;/em&gt;,” jawab lelaki kota itu. Sejenak nelayan terdiam kemudian berkata,”&lt;em&gt;Pak kalau tujuan akhirnya untuk saya agar bahagia, saat inipun saya sudah bahagia dengan apa yang saya miliki sekarang. Saya bisa lebih lama berkumpul dan bercengkerama dengan anak-anak saya….dan itulah yang membuat saya bahagia&lt;/em&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan adalah suatu kondisi tanpa syarat. Anda tidak memerlukan apapun untuk bisa bahagia. Budha Gautama pernah mengatakan,” &lt;em&gt;Keinginan-keinginan yang ada pada manusialah yang seringkali menjauhkan manusia dari kebahagiaan&lt;/em&gt;.” Banyak yang bilang saya akan bahagia kalau saja saya memiliki anu atau saya akan bahagia kalau posisi saya sudah mencapai level itu dsb. Keinginan-keinginan inilah yang malah menjauhkan anda dari kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-237098360200391872?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/237098360200391872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=237098360200391872' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/237098360200391872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/237098360200391872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/life-is-beautiful-1.html' title='Life is Beautiful (1)'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8025646845095595925</id><published>2007-04-05T02:22:00.001-07:00</published><updated>2007-04-05T02:42:27.102-07:00</updated><title type='text'>"Untung cuma.."</title><content type='html'>&lt;a name="OLE_LINK1"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#000000;"&gt;Dalam perjalanan ke Palembang minggu lalu, pesawat Garuda yang saya naiki mengalami beberapa kali goncangan karena menabrak sekumpulan awan mendung. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Saat itu saya dan rekan saya sempat kaget dan deg-degan karena takut. Setelah beberapa menit goncangan akhirnya berhenti, spontan rekan saya berkata,”&lt;em&gt;untung cuma awan mendung, coba kalau ditambah hujan dan petir!”…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seringkah anda saat setelah mengalami sesuatu yang buruk dan kemudian berkata ..”untung cuma ini, coba kalau itu..dst”. “&lt;em&gt;Untung cuma&lt;/em&gt;..”, kalimat ini sering kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari (terutama kalau anda orang Jawa). Kalimat ini bila dilihat dari sisi filosofis bermakna bahwa kita bersyukur karena hal yang terjadi tidaklah terlalu buruk. Falsafah Jawa mengenai ucapan “masih untung” ini merupakan sebuah cara pandang (paradigma) yang sarat muatan spiritual. Paradigma “&lt;em&gt;untung cuma&lt;/em&gt;..” bukanlah ungkapan penghiburan dan sekedar menyenang-nyenangkan diri. Dibalik ucapan itu tersirat keyakinan bahwa Tuhan akan selalu melindungi ciptaan-Nya. Bahwa rahmat selalu ada di sekitar kita betapapun kecilnya. Ini akan mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi keteraturan, dan kekeruhan menjadi kejernihan. Lebih dari itu hidup kita akan senantiasa diliputi perasaan penuh. Apapun yang sudah kita miliki menjadi cukup, bahkan berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan syukur lebih banyak kita panjatkan pada saat kita mendapatkan kebaikan. Bagaimana kalau hari ini anda lalui dengan kesulitan bahkan musibah: anak anda sakit, anda terlambat masuk kerja karena macet yang luar biasa dan anda dimarahi atasan dll. Dalam kondisi seperti ini, apa yang harus kita syukuri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hal ini masih menjadi pertanyaan anda, sebaiknya anda coba untuk membuka lebih lebar prespektif anda tentang kehidupan dan coba lihat dan kaji semua yang sudah anda dapatkan dalam hidup anda. Udara yang anda hirup, makanan yang anda santap setiap hari, putra-putri yang sehat, pekerjaan, teman-teman dan masih banyak lagi hal yang kelihatannya memang sudah sewajarnya didapat sebenarnya adalah rejeki yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mendengar karyawan yang masih mengeluhkan betapa membosankannya pekerjaan mereka, kejenuhan dan apatis terhadap segala perubahan. Tapi mana yang lebih baik, apakah duduk, tetap bekerja dengan mensyukuri pekerjaan sekarang atau tanpa pekerjaan sama sekali? Kita sering terjebak untuk membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain punya, gaji, materi, pangkat dll. Daripada anda membuang waktu anda dengan membanding-bandingkan dengan orang lain, lebih baik anda gunakan waktu anda untuk menikmati dan mensyukuri apa yang anda miliki sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya naik taksi dari bandara kembali ke rumah, saya tanyakan cuaca di jakarta dalam 2 hari terakhir ini karena saya rasakan panas Jakarta sore itu terik sekali. Sopir taksi tersebut menjawab dengan antusias “&lt;em&gt;cuacanya selalu menyenangkan pak!”.&lt;/em&gt; Karena saya tidak paham dengan maksud “menyenangkan” tersebut saya bertanya lebih lanjut. Dan jawabnya adalah,”&lt;em&gt;Bagi saya cuaca seperti apapun menyenangkan pak, baik hujan atau panas terik sekalipun. Karena saya yakin apapun yang Tuhan berikan pasti mengandung banyak kebaikan&lt;/em&gt;”. Saya merasakan jawaban yang diberikan oleh sopir taksi tersebut sarat akan keikhlasan dan muatan syukur didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sisa perjalanan tersebut saya lewatkan dengan banyak bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Maha Agung.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Terima kasih Tuhan karena kau beri cuaca yang cerah hari ini, Terima kasih Tuhan karena kau beri keselamatan dalam perjalananku&lt;/em&gt;,&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Terima kasih Tuhan karena kau beri kesehatan pada raga dan batin ini&lt;/em&gt; dan&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Terima kasih Tuhan karena kau telah kirimkan seseorang untuk mengingatkanku agar selalu bersyukur kepada-Mu&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkan anda bersyukur atas apapun yang anda dapatkan dan alami setiap hari?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8025646845095595925?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8025646845095595925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8025646845095595925' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8025646845095595925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8025646845095595925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/untung-cuma_05.html' title='&quot;Untung cuma..&quot;'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5403002513025882029</id><published>2007-04-05T02:22:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T02:38:14.563-07:00</updated><title type='text'>"Untung cuma.."</title><content type='html'>&lt;a name="OLE_LINK1"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam perjalanan ke Palembang minggu lalu, pesawat Garuda yang saya naiki mengalami beberapa kali goncangan karena menabrak sekumpulan awan mendung. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saat itu saya dan rekan saya sempat kaget dan deg-degan karena takut. Setelah beberapa menit goncangan akhirnya berhenti, spontan rekan saya berkata,”&lt;em&gt;untung cuma awan mendung, coba kalau ditambah hujan dan petir!”…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkah anda saat setelah mengalami sesuatu yang buruk dan kemudian berkata ..”untung cuma ini, coba kalau itu..dst”. “&lt;em&gt;Untung cuma&lt;/em&gt;..”, kalimat ini sering kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari (terutama kalau anda orang Jawa). Kalimat ini bila dilihat dari sisi filosofis bermakna bahwa kita bersyukur karena hal yang terjadi tidaklah terlalu buruk. Falsafah Jawa mengenai ucapan “masih untung” ini merupakan sebuah cara pandang (paradigma) yang sarat muatan spiritual. Paradigma “&lt;em&gt;untung cuma&lt;/em&gt;..” bukanlah ungkapan penghiburan dan sekedar menyenang-nyenangkan diri. Dibalik ucapan itu tersirat keyakinan bahwa Tuhan akan selalu melindungi ciptaan-Nya. Bahwa rahmat selalu ada di sekitar kita betapapun kecilnya. Ini akan mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi keteraturan, dan kekeruhan menjadi kejernihan. Lebih dari itu hidup kita akan senantiasa diliputi perasaan penuh. Apapun yang sudah kita miliki menjadi cukup, bahkan berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan syukur lebih banyak kita panjatkan pada saat kita mendapatkan kebaikan. Bagaimana kalau hari ini anda lalui dengan kesulitan bahkan musibah: anak anda sakit, anda terlambat masuk kerja karena macet yang luar biasa dan anda dimarahi atasan dll. Dalam kondisi seperti ini, apa yang harus kita syukuri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hal ini masih menjadi pertanyaan anda, sebaiknya anda coba untuk membuka lebih lebar prespektif anda tentang kehidupan dan coba lihat dan kaji semua yang sudah anda dapatkan dalam hidup anda. Udara yang anda hirup, makanan yang anda santap setiap hari, putra-putri yang sehat, pekerjaan, teman-teman dan masih banyak lagi hal yang kelihatannya memang sudah sewajarnya didapat sebenarnya adalah rejeki yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mendengar karyawan yang masih mengeluhkan betapa membosankannya pekerjaan mereka, kejenuhan dan apatis terhadap segala perubahan. Tapi mana yang lebih baik, apakah duduk, tetap bekerja dengan mensyukuri pekerjaan sekarang atau tanpa pekerjaan sama sekali? Kita sering terjebak untuk membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain punya, gaji, materi, pangkat dll. Daripada anda membuang waktu anda dengan membanding-bandingkan dengan orang lain, lebih baik anda gunakan waktu anda untuk menikmati dan mensyukuri apa yang anda miliki sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya naik taksi dari bandara kembali ke rumah, saya tanyakan cuaca di jakarta dalam 2 hari terakhir ini karena saya rasakan panas Jakarta sore itu terik sekali. Sopir taksi tersebut menjawab dengan antusias “&lt;em&gt;cuacanya selalu menyenangkan pak!”.&lt;/em&gt; Karena saya tidak paham dengan maksud “menyenangkan” tersebut saya bertanya lebih lanjut. Dan jawabnya adalah,”&lt;em&gt;Bagi saya cuaca seperti apapun menyenangkan pak, baik hujan atau panas terik sekalipun. Karena saya yakin apapun yang Tuhan berikan pasti mengandung banyak kebaikan&lt;/em&gt;”. Saya merasakan jawaban yang diberikan oleh sopir taksi tersebut sarat akan keikhlasan dan muatan syukur didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sisa perjalanan tersebut saya lewatkan dengan banyak bersyukur dan berterima kasih kepada Sang Maha Agung.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Terima kasih Tuhan karena kau beri cuaca yang cerah hari ini, Terima kasih Tuhan karena kau beri keselamatan dalam perjalananku&lt;/em&gt;,&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Terima kasih Tuhan karena kau beri kesehatan pada raga dan batin ini&lt;/em&gt; dan&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Terima kasih Tuhan karena kau telah kirimkan seseorang untuk mengingatkanku agar selalu bersyukur kepada-Mu&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkan anda bersyukur atas apapun yang anda dapatkan dan alami setiap hari?&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5403002513025882029?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5403002513025882029/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5403002513025882029' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5403002513025882029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5403002513025882029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/untung-cuma.html' title='&quot;Untung cuma..&quot;'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-5931943559601042283</id><published>2007-04-05T01:55:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T01:58:54.420-07:00</updated><title type='text'>Nasi Sudah jadi Bubur!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kegiatan mudik Lebaran kemarin ke Yogya saya manfaatkan untuk bertemu dengan teman lama saya Petro, seorang pelukis muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI). Selain sebagai teman, kebetulan saya juga sebagai pelanggannya dengan mengkoleksi beberapa dari hasil karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang saya sukai dari teman saya ini adalah sifat ulet dan pantang menyerah terhadap keadaan, selain tentu saja ide-ide kreatif ke-seniman-nya. Dari informasi yang saya dapat, ternyata hampir separuh bisnis kriya-nya di desa Kasongan hancur karena bencana gempa bumi kemarin. Ratusan hasil kerajinan yang sedianya akan dikirim ke Spanyol hancur berkeping-keping dan ini berarti kerugian yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kesedihan tidak terlihat pada dirinya selama kami berbincang-bincang. Dia lebih banyak berbicara mengenai hal-hal yang telah dan akan dilakukan untuk mendapatkan kembali kepercayaan pelanggannya dengan bekerja ekstra keras. Beruntung dia memiliki tim yang solid dan sepemikiran sehingga dengan cepat mereka bangkit dan kembali berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku “&lt;em&gt;Dare To Fail&lt;/em&gt;” yang ditulis oleh &lt;strong&gt;Billi P.S. Lim&lt;/strong&gt; yang coba melihat sisi lain dari sesuatu yang selalu kita hindari yaitu &lt;strong&gt;KEGAGALAN&lt;/strong&gt;. Sudah jadi kebiasaan dalam keseharian kita yang selalu mengutamakan kesuksesan dan kita dididik untuk menghindari kegagalan. Gagal dianggap sebagai pantangan, mengukur orang menurut prestasi dan memandang sebelah mata pada orang yang gagal. Pentingnya “sukses” terlalu dibesar-besarkan sehingga kita lupa bahwa sebenarnya dengan pernah “gagal” kita akhirnya menjadi pemenang yang lebih unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan seorang keponakan saya yang berusia 5 tahun. Saat dulu mulai belajar naik sepeda dia berulangkali jatuh dan menabrak pagar. Walaupun badannya jadi sering lebam dan lecet tapi dia tetap saja tidak mau menyerah dan terus berlatih dengan belajar dari kegagalan-kegagalan yang dialami. Mulai dari 5 meter, 10 meter sampai akhirnya dia bisa mengayuh lebih jauh tanpa harus dipegangi. Saya ingat betul ekspresinya saat dia menyadari bahwa dia bisa mengayuh sepedanya beberapa puluh meter tanpa jatuh dan tanpa dipegangi oleh ayahnya. Ekspresi yang menunjukkan kepuasan, seolah lebam dan lecet selama proses belajar tidak ada artinya bila dibandingkan dengan keberhasilan yang dia rasakan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan diperlukan agar kita bisa tahu apa arti dan manisnya kesuksesan. Seperti halnya dalam alam kosmis kita, kita membutuhkan kegelapan malam untuk bisa melihat betapa berkilaunya pancaran bintang. Kita membutuhkan hujan untuk bisa melihat dan menikmati indahnya sebuah pelangi. Kegagalan bagi sebagian besar orang masih dipandang sebagai musibah dan bukti ketidak berdayaan. Padahal kalau kita pandang dari sudut agama, kegagalan, musibah, cobaan atau apapun namanya, sejatinya adalah sebuah proses untuk membentuk kita menjadi manusia yang lebih kuat dan lagi dengan mendapatkan “musibah” sebenarnya Tuhan sedang menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya pada kita. Seorang bijak pernah berkata “&lt;em&gt;Berbahagialah manusia yang sedang mengalami cobaan karena pada saat itulah perhatian Sang Pencipta sedang tertuju kepadanya&lt;/em&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Nasi sudah jadi bubur&lt;/em&gt;!,” kata Petro diujung obrolan sore itu.”&lt;em&gt;Dan tugas saya selanjutnya adalah bagaimana membuat nasi yang sudah jadi bubur itu menjadi bubur yang paling lezat yang pernah saya buat!.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bravo Petro!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-5931943559601042283?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/5931943559601042283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=5931943559601042283' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5931943559601042283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/5931943559601042283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/nasi-sudah-jadi-bubur.html' title='Nasi Sudah jadi Bubur!'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3782571282609090254</id><published>2007-04-05T00:51:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T00:54:21.907-07:00</updated><title type='text'>Pasrah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam sebuah perjalanan diatas KRL Patas AC Bekasi, saya terlibat perbincangan menarik dengan salah seorang rekan dari kantor pusat. Perbincangan berawal dari ungkapan bahwa selama ini dia rajin membaca LPB secara rutin dan disadari bahwa tulisan-tulisan yang dia baca selama ini banyak memberi kekuatan bathin-nya untuk terus tegar dan tak lupa selalu bersyukur dengan segala hal yang dia miliki dan dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perbincangan beralih kepada bagaimana setiap orang memandang hidup dan kehidupannya.”&lt;em&gt;Pak Arif, apa betul orang hidup itu harus pasrah? Soalnya kata “pasrah” sendiri seperti menunjukkan bahwa kita tidak berusaha sama sekali dan hanya menyerahkannya pada Yang Kuasa&lt;/em&gt;,” tanyanya saat itu. Saya terkesiap dengan pertanyaan tersebut. Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi bermakna dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat sebuah cerita bijak yang diceritakan oleh atasan saya pada suatu sore. Cerita sederhana mengenai seorang petani tua yang kehilangan kudanya. Kemudian para tetangga berdatangan dan turut prihatin atas nasib buruk petani tua tersebut. Tapi petani tersebut menjawab,”&lt;em&gt;Nasib buruk atau nasib baik, siapa yang tahu&lt;/em&gt;?”. Demikian juga ketika ternyata kudanya datang kembali dengan membawa beberapa kuda betina. Tetangga datang kembali dan mensyukuri nasib baik sang petani. Jawaban petani tua tersebut tetap sama,”&lt;em&gt;Nasib buruk atau nasib baik, siapa yang tahu?”.&lt;/em&gt; Begitu seterusnya ketika kejadian baik dan buruk menghampiri kehidupan petani tua tersebut, jawaban petani tersebut tetap sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang diperlihatkan oleh petani tersebut merupakan pengejawantahan dari prinsip: apa yang baik tidak selamanya berarti baik dan sebaliknya, yang kelihatannya buruk tidak selamanya buruk. Keterbatasan pikiran kita dan (mungkin) kedangkalan iman kitalah yang membuat kita tidak bisa melihat adanya hubungan sebuah kejadian dengan kejadian lain. Kejadian apapun yang kita alami merupakan bagian kecil dari sebuah skenario besar yang telah Tuhan rencanakan untuk kita. Karena itu tidak ada satupun kejadian yang terjadi secara kebetulan, semua terjadi karena adanya campur tangan Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami setiap kejadian sebagai sebuah skenario yang telah ditulis dengan baik dan rapi oleh Pencipta, dapat menumbuhkan rasa syukur karena setiap kejadian akan berlaku atas seijin-Nya. Kita tidak berhak menyebut sebuah kejadian baik atau buruk karena hal itu tidak berdiri sendiri tapi terkait erat dengan apa yang akan kita dapat selanjutnya. Seorang rekan saya dulu sangat ingin menjadi pemain bulu tangkis profesional, bahkan dia dulu pernah mengalahkan Alan Budikusumah sewaktu dalam kejuaraan daerah. Tapi sebuah kecelakaan membuyarkan impiannya tersebut. Memang dia sekarang bukan seorang atlet bulutangkis professional tapi menjadi seorang senior konsultan yang sukses dan akhirnya membuat biro konsultan manajemen sendiri. Dia pernah berseloroh,”&lt;em&gt;Kalau saja saat itu motor itu nggak menabrakku dengan keras, mungkin aku nggak akan punya perusahaan konsultan sendiri seperti sekarang&lt;/em&gt;..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada campur tangan Tuhan dalam menentukan kehidupan kita. Tapi kehidupan itu juga tidak akan terwujud tanpa ada kemauan dan usaha keras dari kita. Ada yang mengatakan bahwa kita memberikan kontribusi sebesar 90% terhadap nasib kita dan 10%nya lagi merupakan urusan Tuhan. Tugas kita hanyalah berusaha sekuat tenaga dengan tidak lupa berdoa. Kepasrahan sering disebut sebagai berdoa setelah berusaha, dan bukan hanya berdoa dengan menyerahkan segalanya kepada Yang Kuasa tanpa ada usaha sama sekali. Berdoa sebagai bentuk kepasrahan merupakan wujud pemahaman bahwa betapapun kuatnya kita berusaha tetaplah bahwa kehidupan itu milik Allah dan DIA lah yang tahu apa yang terbaik untuk kita, bukan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya dengar orang berdoa dengan meminta sesuatu “yang baik menurut kita” kepada Tuhan: “Tuhan berilah rejeki agar kehidupan saya lebih baik, Tuhan berikan pekerjaan yang lebih baik karena tempat saya bekerja sekarang tidak menyenangkan”, dll. Dalam melafaskan doa itu seolah kita yakin bahwa kita tahu benar apa yang terbaik untuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Larry Dossey dalam bukunya “&lt;em&gt;Healing Words&lt;/em&gt;” mengatakan bahwa doa yang baik bukanlah meminta hasil tertentu kepada Tuhan melainkan dengan mengatakan&lt;em&gt;,”Ya Tuhan, berikanlah yang terbaik sesuai dengan kehendakMu, karena Kau-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Itulah doa yang penuh rasa syukur, rendah hati dan sebuah bentuk kepasrahan yang sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3782571282609090254?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3782571282609090254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3782571282609090254' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3782571282609090254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3782571282609090254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/pasrah.html' title='Pasrah'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6556858384958602842</id><published>2007-04-05T00:40:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T00:43:40.999-07:00</updated><title type='text'>Marah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu sore di Stasiun Kota Jakarta saat menunggu kereta yang akan membawa saya kembali ke Bekasi, saya melihat kejadian yang mengusik rasa nyaman saya. Terlihat 2 orang sedang bertengkar dengan saling berteriak satu sama lain. Keributan ini mengundang banyak orang untuk melihat dan berkerumun. Saya amati banyak orang yang melihat kejadian itu saling berbisik dan lamat-lamat saya dengar gumaman mereka yang menyayangkan perilaku kedua orang tersebut karena mengumbar kemarahan mereka di tempat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah. Kata ini sering kita dengar dan saya yakin kita juga sering mengalaminya dikarenakan oleh banyak alasan. Dan kalau diamati seringkali kita melihat seseorang yang begitu marah akan bersuara keras bahkan berteriak, seolah dengan berteriak segala emosi yang mengganjal dalam hati turut tersalur keluar. Padahal orang yang sebagai objek marahnya berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Tidak bisakah berbicara dengan halus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Seorang bijak berkata, “Pada saat 2 orang dilingkupi kemarahan dalam hatinya, meskipun secara fisik mereka berdekatan namun sejatinya hati mereka masing-masing perlahan menjauh dan akan semakin jauh seiring dengan kemarahan yang makin memuncak. Hati yang menjauh dipicu oleh kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut kedua orang yang bertengkar. Dan untuk mencapai hati masing-masing dengan jarak yang demikian jauh, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang bijak masih melanjutkan; "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus. Sehalus apapun kata yang terucap, keduanya tetap bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian? Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak terhalang jarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami perasaan apa yang ingin mereka sampaikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang lebih mengesalkan sekaligus membuat hati saya terenyuh adalah apabila ada orangtua yang memarahi anaknya yang masih kecil. Sadar atau tidak, orangtua tersebut sejatinya secara perlahan membuat jarak hati dengan anak mereka perlahan menjauh. Dan semakin sering mereka melakukan itu akan semakin jauh jarak hati antara orangtua dan anak-anak mereka. Saat sang anak beranjak besar, jarak yang terbentuk demikian lama akan menunjukkan perannya dalam mengganggu keharmonisan hubungan cinta kasih keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita sedang dilanda kemarahan, ingatkan diri bahwa hati kita mulai menciptakan jarak. Janganlah hati kita menjauh. Lebih lagi hendaknya kita tidak mengucapkan kata-kata pedas dan menyakitkan yang mendatangkan jarak. Kemarahan adalah suatu kondisi dimana lidah bekerja lebih cepat daripada pikiran. Kadang kita tidak sadar dengan berbagai kata-kata yang kita ucapkan saat marah menghampiri hati. Kata-kata kasar tidak kan mematahkan tulang tetapi akan meremukkan hati. Untuk setiap menit kita marah pada seseorang, sesungguhnya kita telah kehilangan 60 detik kebahagiaan yang tak akan bisa kita peroleh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di saat marah menghampiri diri seperti itu, dengan berdiam dan tak mengucapkan kata-kata merupakan cara yang bijaksana. Perikata berkata, lidah lebih tajam dari sebilah pedang. Luka pedang bisa tersembuhkan, luka rasa karena ucapan akan menetap dan membekas dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah tidak perlu diekspresikan. Cinta Kasih-lah yang seharusnya sering kita perlihatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6556858384958602842?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6556858384958602842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6556858384958602842' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6556858384958602842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6556858384958602842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/marah.html' title='Marah'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-3458405861688924255</id><published>2007-04-05T00:37:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T00:38:25.594-07:00</updated><title type='text'>Berpikir Positif</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hukum Pygmalion adalah hukum berpikir positif. Nama ini diambil dari cerita dari Yunani mengenai Pygmalion seorang pemuda yang berbakat dalam seni memahat. Hasil karyanya sungguh indah tapi bukan itu yang membuatnya terkenal dan disenangi oleh setiap orang. Pygmalion dikenal sebagai orang yang selalu berpikiran positif. Ia selalu memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang menawar dengan harga rendah hasil karyanya, teman-temannya akan mengatakan betapa kikirnya orang tersebut. Tetapi Pygmalion berkata,”Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk hal lain yang lebih perlu”. Itulah pola pandang Pygmalion, ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya dia berusaha membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain. Nama Pygmalion dikenang hingga kini untuk menggambarkan dampak pola berpikir yang positif. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran kita memang seringkali mempunyai dampak fulfilling prophecy atau ramalan tergenapi, baik positif maupun negative. Kalau kita bersikap ramah terhadap seseorang, maka orang itupun akan menjadi ramah terhadap kita. Kalau kita sudah putus asa dan merasa tidak sanggup pada awal suatu usaha, besar sekali kemungkinan kita betul-betul akan gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Apapun yang baik kalau kita memandangnya dengan pikiran negative maka akan menjadi buruk. Perubahan pola kerja, apabila dipandang sebagai hal yang merepotkan dan menyusahkan maka perubahan itu akan benar-benar menjadi menyusahkan. Berbeda sekali apabila kita melihat perubahan pola kerja sebagai sesuatu tantangan baru, keyakinan akan kebaikan dan kemudahan dalam bekerja di masa depan dan sesuatu yang harus dilakukan, tentu dengan senang hati dan semangat kita akan mengikuti perubahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pygmalion adalah sebuah kaca mata. Kaca mata kita dalam memandang kehidupan dan warna hidup akan sangat tergantung dari warna kaca mata yang kita pakai. Kalau kaca mata kita kotor maka segala sesuatu yang kita lihat, hadapi akan menjadi kotor, hidup menjadi suram. Kaca mata yang penuh dengan prasangka negatif dan benci akan membuat hidup kita dipenuhi rasa curiga dan dendam, dan sebaliknya. Hidup akan menjadi lebih indah kalau kita memandangnya dengan kacamata keindahan. Berpikir baik terhadap diri sendiri dan orang lain dan tentu saja berpikir baik tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran positif ibarat vitamin dan gizi yang memberi dampak pada kesehatan batin kita, sebaliknya pikiran curiga, negatif serupa racun yang kita tumpuk dalam hati kita. Tidak heran orang yang hidupnya dipenuhi oleh pikiran negatif akan selalu terlihat murung, gelisah dan siksaan ini perlahan merusak juga fisik orang tersebut. Dampak dari selalu berpikir baik akan membuat kita selalu tersenyum, bersyukur dengan apa yang kita miliki, ikatan keluarga menjadi hangat, kawan menjadi bisa dipercaya dan pekerjaan menjadi menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda ingin hidup anda lebih sehat, cerah dan berwarna, berpikiran positiflah mulai detik ini dan mari kita ajak teman, saudara, keluarga untuk menjadi Pygmalion-Pygmalion baru seperti anda! Niscaya dunia akan menjadi ramah dan hidup menjadi lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah itu yang kita inginkan dalam hidup ini?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-3458405861688924255?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/3458405861688924255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=3458405861688924255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3458405861688924255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/3458405861688924255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/berpikir-positif.html' title='Berpikir Positif'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-6274212074768102006</id><published>2007-04-05T00:25:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T03:27:50.745-07:00</updated><title type='text'>Memaknai Kehilangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya adalah penggemar berat PT.KAI (Kereta Api) karena setiap pagi saya menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik) Patas AC jurusan Bekasi – Kota PP. Saya pikir inilah moda angkutan paling praktis dan nyaman (kecuali jadwalnya yang suka ngaret) saat ini mengingat lokasi rumah saya jauh dari kantor. Praktis, karena Stasiun pemberhentian terakhir kereta ini letaknya di seberang kantor saya di Asemka. Sedangkan jarak rumah dengan stasiun Bekasi hanya 2 km dan di pagi hari dengan mobil cukup saya tempuh dengan waktu 12 menit saja. Nyaman, karena gerbongnya full AC dan penumpangnyapun cenderung “lebih bermartabat dan wangi” dibandingkan KRL lain karena mayoritas adalah pekerja kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin lusa merupakan hari yang berbeda dari biasanya. Saya katakan kepada rekan saya bahwa kemarin lusa adalah tiket kereta termahal yang pernah saya bayar untuk jurusan Bekasi – Kota yaitu Rp.209,000. Jelas saja rekan saya kaget, kemudian saya jelaskan bahwa saya bayar Rp.9,000 untuk bayar tiket kereta dan Rp.200,000 nya adalah karena sepatu jogging saya yang baru tertinggal di kereta. Saat saya sadar dan hendak saya ambil ternyata sudah hilang. Sewaktu istri saya menanyakan hal itu, saya jawab dengan enteng bahwa ada orang lain yang lebih membutuhkan sepatu itu daripada saya dan mungkin itu sudah harus menjadi rejeki orang lain yang menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesal? Tentu saja kesal. Tapi saya kesal bukan karena sepatu baru saya yang hilang melainkan kesal lebih kepada kecerobohan saya. Memang ada beragam cara untuk menyikapi sebuah kehilangan. Anda bisa saja menggerutu berkepanjangan, menangis atau bahkan memaki-maki (walau kita tidak tahu makian itu sebenarnya ditujukan kepada siapa). Salah satu rekan saya malah bisa 2 hari uring-uringan di kantor karena dia kehilangan salah satu Pulpennya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari salah seorang kenalan saya di sebuah perusahaan manufaktur mencak-mencak karena dengan adanya perubahan struktur organisasi membuat dia tidak mendapatkan “kursi” lagi. Kini dia ditempatkan dalam satu bagian yang lebih besar yang merupakan penggabungan dari beberapa bagian dan yang semakin membuat dia kesal adalah junior-nya ternyata dipilih menjadi kepala dalam bagian yang baru tersebut. Dia mengatakan bahwa rejekinya sudah direbut oleh orang tersebut. Kehilangan kadang juga dimaknakan sebagai rejeki yang diambil atau tertukar dengan orang lain. Kita sering merasa bahwa rejeki itu seharusnya milik kita, dan begitu kita tidak mendapatkannya kita merasa bahwa rejeki tersebut telah dirampas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita bersikap lebih bijak, mungkin perasaan itu bisa dihindari atau paling tidak diperkecil pengaruh negatifnya. Semua mahluk dicipta oleh Yang Maha Adil disertai dengan rejekinya masing-masing (atasan saya menyebutnya Hoki). Bayi yang masih lemah, diberi rejeki melalui perantaraan ibunya. Semakin besar, setelah punya gigi, air susu ibu dihentikan. Sebagai penggantinya disiapkan bubur, buah-buahan dan lainnya. Semakin dewasa makanan semakin bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita semakin kuat, Yang Maha Adil memberikan rejeki dengan cara yang berbeda.Kalau dulu waktu bayi dan anak-anak, kita tergantung kepada orang tua, maka setelah dewasa kita harus "menjemput" sendiri rejeki itu. Istilah "menjemput" saya pilih karena sebenarnya Tuhan telah menyiapkan semuanya untuk kita. Rejeki tidak pernah tertukar. Siapa yang berusaha keras dengan cara yang tepat dan niatan yang bersih maka akan sampai rejeki tersebut kepadanya. Dan siapa yang malas maka tidak akan rejeki datang menghampirinya. Pernahkah anda bayangkan bagaimana mungkin seekor cecak yang gerakannya terbatas di tembok, tapi makanan utamanya adalah lalat dan serangga? Secara nalar sulit dimengerti tapi Tuhan memang telah menggariskan bahwa rejeki sang cecak memang berasal dari serangga-serangga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita perhatikan, kita datang kedunia dengan tidak membawa apa-apa dan kelak kita berpulang pun juga begitu. Harta, pangkat, bahkan orang-orang yang kita cintaipun adalah bersifat sementara. Semoga kita termasuk orang yang bijak dalam menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Sang Maha Hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kesedihan yang berlebihan saat kita kehilangan sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-6274212074768102006?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/6274212074768102006/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=6274212074768102006' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6274212074768102006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/6274212074768102006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/memaknai-kehilangan.html' title='Memaknai Kehilangan'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-1954668580302636872</id><published>2007-04-05T00:22:00.000-07:00</published><updated>2007-04-05T00:24:45.236-07:00</updated><title type='text'>Kebetulan atau keajaiban kecil?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Peristiwa ini terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu saat saya masih kuliah. Bermula dari telepon dari seorang rekan semasa SMA yang sudah lama tidak bertukar kabar. Dia mengabarkan bahwa salah satu teman SMA kami di Pontianak terkena penyakit aneh yang menyebabkan dia menjadi buta. Banyak yang bilang bahwa teman kami tersebut terkena guna-guna yang menurut cerita sebenarnya diarahkan kepada ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kebetulan punya teman kuliah yang memang bisa menyembuhkan jenis penyakit “buatan” ini dan entah kenapa saat itu saya menawarkan diri untuk mencoba membantu. Singkat cerita, setelah semua diatur akhirnya saya siap untuk pergi. Sayangnya, sehari menjelang hari H rekan saya yang akan ikut ternyata ada urusan keluarga yang harus dia ikuti. Alhasil, semua persiapan yang sudah saya lakukan menjadi berantakan. Tiket travel Yogya – Semarang dan tiket kapal laut Semarang – Pontianak, semuanya menjadi kelebihan 1 tiket karena saya berkeras untuk tetap berangkat dan saya minta teman saya untuk menyusul setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya menunggu di pool travel, seorang bapak duduk disamping saya bersama anaknya yang masih kecil. Dari pembicaraan dengan anaknya tersebut saya ketahui bahwa bapak tersebut hendak pergi juga ke Semarang tapi sudah kehabisan tiket padahal dia harus pergi hari itu juga. Mengetahui hal itu, segera saya tawarkan kelebihan tiket saya kepada bapak itu agar bisa segera berangkat. Ucapan syukur terucap dari mulutnya saat mengetahui bahwa akhirnya dia dan anaknya bisa berangkat juga ke Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di pelabuhan semarang, penumpang sudah banyak sekali dan kapal masih 2 jam lagi baru berangkat. Saya menunggu di sebuah bangku panjang menunggu perintah untuk naik ke kapal. Duduk di sebelah saya adalah seorang bapak tua yang kelihatan gelisah. Saat saya tanyakan, beliau menjawab bahwa dia ingin mengunjungi anaknya yang ada di Singkawang tapi dia kehabisan tiket. Dia tetap pergi ke pelabuhan dengan harapan bisa membeli tiket di loket tapi ternyata semua sudah habis sedangkan kalau beli dari tangan calo mesti bayar 2 kali lipat. Mendengar penuturan bapak tersebut segera saja saya tawarkan kelebihan tiket saya yang kemudian disambutnya dengan sangat suka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha untuk masuk ke kapal merupakan perjuangan juga karena begitu banyak orang yang masuk ke lambung kapal melalui pintu yang hanya beberapa. Saat itu tiket saya adalah tiket ekonomi dimana untuk mendapatkan tempat dan matras untuk tidur harus berebut dengan penumpang lain. Saat itu kondisi sangat riuh dan saya mendapati bahwa matras dan tempat untuk tidur semua sudah terisi. Beberapa calo menawarkan tempatnya dengan imbalan uang. Mengingat uang yang saya bawa terbatas saya menolak tawaran-tawaran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya berdiri untuk istirahat sambil berpikir dimana untuk bisa sekedar membaringkan badan untuk beristirahat, seorang bapak di sebelah saya menegur dengan ramah dan menanyakan apakah sudah dapat tempat dan matras. Saya katakan bahwa semua tempat sudah terisi dan kemungkinan terburuk saya harus tidur di lorong dengan alas Koran. Tanpa dinyana, bapak tersebut menawarkan tempat disebelahnya (lengkap dengan matrasnya) untuk saya tempati karena ternyata teman yang seharusnya dia temui di kapal  sudah mendapat tempat dengan teman-temannya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya mengalami kejadian tersebut, saya menyebutnya sebagai pengalaman yang serba “kebetulan”. Saat saya punya 2 tiket yang sisa secara “kebetulan” ada 2 orang yang “kebetulan” duduk di sebelah saya dan “kebetulan’ sangat membutuhkan tiket tersebut. Di atas kapal saat saya mulai putus asa untuk mendapatkan tempat, secara “kebetulan” ada orang yang “kebetulan” juga ada di sebelah saya dan “kebetulan” punya tempat dan matras lebih untuk bisa saya gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kejadian beruntun tersebut memang merupakan sebuah rangkaian “kebetulan”? atau Sang Khalik sebenarnya sedang menunjukkan ke-Agungan-Nya? Saya lebih senang menyebutnya sebagai “keajaiban kecil” karena saat momen “kebetulan” itu terjadi sejatinya Tuhan sedang berbicara dengan kita. Bila kita memandang sebuah momen “kebetulan” hanya sebagai sebuah kejadian  acak diantara ribuan kemungkinan dan memaknainya sebagai “keberuntungan” belaka maka sebuah “kebetulan” akan kehilangan makna spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya meyakini bahwa tidak ada sesuatu kejadianpun di dunia ini yang terjadi secara kebetulan, tetapi segala sesuatunya telah ditakdirkan. Bahwa kejadian-kejadian dalam kehidupan mempunyai tujuan dan begitu juga “kebetulan-kebetulan” yang kita alami. Yang kita perlukan sebenarnya cukup sederhana yaitu dengan membuka pintu kesadaran lebih lebar lagi terhadap apapun kejadian yang kita alami. Dengan sepenuhnya sadar terhadap hidup dan kehidupan kelak kita dapat melihat dan mendapati lebih jelas bahwa banyak keajaiban-keajaiban kecil yang pernah dan akan kita alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memupuk kesadaran mengenai “kebetulan-kebetulan” yang datang dalam hidup kita, membuat kehidupan akan dipenuhi oleh kegembiraan dan rasa syukur. Saya masih suka merinding apabila mengingat kembali rangkaian “kebetulan” yang saya alami saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-1954668580302636872?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/1954668580302636872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=1954668580302636872' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1954668580302636872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/1954668580302636872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/kebetulan-atau-keajaiban-kecil.html' title='Kebetulan atau keajaiban kecil?'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8218856738413708039</id><published>2007-04-04T20:01:00.000-07:00</published><updated>2007-04-04T20:02:24.258-07:00</updated><title type='text'>Anugerah sederhana</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu siang pada hari minggu, saya bersama istri dan putri kami Anindya seperti biasa pergi untuk makan siang diluar. Kegiatan ini sebisa mungkin saya lakukan sebagai ganti dari waktu saya yang banyak saya lewatkan untuk pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah perempatan, lampu lalu lintas menyala merah dan kebetulan mobil saya berada di urutan paling depan. Saat menunggu lampu hijau menyala itulah, sesuatu yang dramatis terjadi di depan saya. Saya lihat di trotoar sebelah kiri jalan seorang laki-laki yang menggandeng seorang perempuan yang membawa seorang bayi dalam pelukannya. Laki-laki dan perempuan tersebut sepertinya sepasang suami istri dan yang dalam pelukan perempuan itu kemungkinan adalah anak mereka. Dan kedua orang tersebut adalah tuna netra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mobil berhenti karena lampu merah. Kedua orang tersebut beserta bayinya mulai berjalan perlahan namun pasti dengan panduan tongkat berwarna putih yang dipegang oleh si bapak. Dengan hati-hati sekali, si bapak menggandeng dan membimbing istrinya untuk sama-sama menyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari ternyata mereka berjalan sedikit menyerong sehingga bukannya mendekati trotoar di seberang tapi malah melenceng ke kiri dan mengarah ke tengah-tengah perempatan. Saat itu lalu lintas dari arah kiri dan kanan jalan menyala hijau dan lalu lintas cukup ramai. Saat saya tertegun menatap drama tersebut, sekonyong-konyong dari arah kiri jalan berlari seorang penjaja Koran menyusul keluarga kecil tersebut dan dengan hati-hati membimbing si bapak untuk merubah arah ke kanan mendekati trotoar di seberang jalan. Sesampainya di seberang jalan, saya lihat si bapak dan ibu tuna netra memegang tangan penolongnya seperti mengucapkan terima kasih dan kemudian tukang Koran tersebut kembali ke trotoar seberang. Saya semakin terharu saat melihat si bapak lalu memeluk perempuan dan bayi mereka sambil mengucapkan sesuatu dan kemudian mereka berjalan kembali dengan tetap bergandengan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin saya tersentak melihat drama tersebut. Saya lihat istri saya masih tidak bisa bereaksi dengan apa yang baru saja terjadi di depan mata kami, hanya mata yang berkaca-kaca yang dapat menunjukkan perasaannya saat itu. Hari itu saya mendapat 3 pelajaran hidup yang penting dari kejadian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, siapapun anda apapun pekerjaan anda, anda tetap bisa melakukan sesuatu yang dapat membuat perbedaan pada orang lain. Sikap itu ditunjukkan oleh seorang tukang Koran yang dengan tanggap mengarahkan kembali jalan keluarga tunanetra tersebut. Tuhan memberikan kita banyak sekali kesempatan untuk berbuat baik, Yang diperlukan hanyalah membuka kesadaran kita akan kehidupan sekitar, kemauan dan keikhlasan untuk membantu serta keyakinan dalam bertindak di saat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kepercayaan diri dan kepastian dalam melangkah dalam mencapai tujuan ternyata tidaklah cukup. Sekali waktu kita kadang perlu berlapang hati untuk memberi kepercayaan kepada orang lain yang lebih tahu, lebih mampu dan lebih bijak dari kita untuk memberi kita bimbingan dalam mencapai tujuan akhir. Manusia tetaplah laksana burung dengan sebelah sayap yang perlu berpelukan erat dengan burung yang lain agar dapat terbang. Keluarga tuna netra tersebut yakin akan langkahnya tapi ternyata mereka berjalan kearah yang salah dan atas bimbingan orang lain akhirnya mereka dapat kembali berjalan kearah yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketiga, saya belajar untuk lebih menghargai rahmat penglihatan yang Tuhan berikan, sesuatu yang sering saya anggap sebagai sesuatu hal yang biasa. Pernahkan anda bayangkan kalau kita dalam posisi keluarga tuna netra tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa sering kita melupakan anugerah sederhana namun luar biasa yang sudah Tuhan berikan dalam kehidupan kita?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8218856738413708039?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8218856738413708039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8218856738413708039' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8218856738413708039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8218856738413708039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/anugerah-sederhana.html' title='Anugerah sederhana'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4946391088265811291.post-8600140046162624088</id><published>2007-04-04T19:57:00.000-07:00</published><updated>2007-04-04T19:59:38.608-07:00</updated><title type='text'>Amai Nila dan Buyung</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Suatu hari saat menonton sebuah acara talkshow di sebuah televisi swasta, hati saya sangat terharu mendengar tuturan dari tamu pada acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu tersebut adalah 2 orang dari Desa Guguak kabupaten 50 Kota yang memiliki prinsip hidup sangat kuat yaitu pantang meminta belas kasihan dan pantang mengemis. Mereka adalah Amai Nila seorang ibu yang renta dan Buyung anak satu-satunya. Buyung menderita kebutaan sejak terkena campak. Suami Amai Nila sudah lama meninggal. Melihat kenyataan hidup yang pahit sang Ibu tetap pada prinsip hidupnya….pantang mengemis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan uang, Buyung membuat sapu lidi untuk dijual. Setiap hari selama 30 tahun mereka berdua menyusuri jalan-jalan sejauh 40 km untuk berjualan sapu lidi dan dalam 1 hari biasanya hanya 3 sapu lidi yang laku. Buyung bertugas menarik gerobak sedangkan sang ibu yang sudah tidak kuat untuk berjalan bertugas memberi tahu arah jalan dan bertransaksi dengan pembeli. Apabila Buyung sakit dan tidak bisa menarik gerobak, mereka berdua harus siap makan apa saja yang ada di rumah. Demikian juga sebaliknya, karena Buyung tidak mungkin berjualan sendiri tanpa tuntunan jalan dari sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang acara penonton dibuat terkesima dan haru dengan perjuangan pantang menyerah dari ibu dan anak tersebut. Emosi penonton (termasuk saya) memuncak saat Buyung ditanya apakah Buyung sudah siap apabila sang Ibu dipanggil lebih dulu oleh Yang Maha Kuasa. Buyung tidak bisa menjawab, dia hanya menangis…begitu juga sebagian besar penonton di studio saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip pantang menyerah juga ditunjukkan oleh seorang pemuda bernama Peter di kota Nairobi Afrika. Dia adalah seorang penyemir sepatu jalanan yang paling banyak pelanggannya di kota itu. Para pelanggannya rela antri untuk mendapatkan layanannya. Yang membuat Peter berbeda dengan penyemir sepatu lainnya adalah selain hasil kerjanya yang memuaskan, Peter juga seorang....tuna netra!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutaan matanya didapat karena sebuah ledakan disebuah kedutaan AS di kota tersebut. Kebetulan saat itu dia sedang berjalan didepan gedung yang meledak itu dan matanya terkena pecahan bangunan sehingga menyebabkan kehilangan penglihatan. Peter awalnya depresi dengan ketidak beruntungan hidupnya. Namun semangatnya bangkit untuk tidak menyerah dan pantang meminta belas kasihan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan pekerjaannya, Peter mengatur semua peralatannya dalam susunan yang rapi dan memudahkan dia untuk memilih dan mengambil warna yang cocok dengan sepatu pelanggannya. Ketekunan dan keuletannya dalam bekerja membuat banyak pelanggan senang dengannya bukan karena dia buta tapi karena kualitas pekerjaannya melebihi penyemir sepatu yang lain dan tidak buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya menonton kedua acara tersebut saya malu hati terhadap diri sendiri. Malu karena dengan segala kebaikan, kelengkapan indera dan kemudahan rejeki yang saya dapatkan saya kadang masih juga mengeluh terhadap masalah yang saya hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda punya semangat pantang menyerah seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang diatas? Atau anda termasuk orang yang “gemar” mengeluh dan dengan mudah menyerah terhadap persoalan hidup? Ada pepatah Cina yang baik untuk mengingatkan kita agar selalu berusaha pantang menyerah dan selalu memberikan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4946391088265811291-8600140046162624088?l=jiwaberkata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/feeds/8600140046162624088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4946391088265811291&amp;postID=8600140046162624088' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8600140046162624088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4946391088265811291/posts/default/8600140046162624088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jiwaberkata.blogspot.com/2007/04/amai-nila-dan-buyung.html' title='Amai Nila dan Buyung'/><author><name>Arif</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14374940477030356613</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_z_0jU2R92Rc/TMQXCbdXaMI/AAAAAAAAN6Q/8S9e1zNZA7A/S220/CAJE0FZ1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
