Setiap pulang kantor saya selalu melewati jalan depan Stasiun Bekasi yang sangat padat terutama pada sore hari. Kepadatan itu semakin bertambah parah karena banyak pengendara sepeda motor yang tidak mau mengalah dan cenderung mengambil badan jalan yang berlawanan. Malam itu kembali saya temui keadaan yang sama. Di depan mobil saya banyak motor yang berjalan berlawanan arah. Tanpa peduli mereka tetap melaju perlahan mengambil jalur yang salah.
Ketika mobil saya jalankan perlahan tiba-tiba dari arah depan mendadak muncul sebuah sepeda motor yang berjalan kencang dengan mengambil jalur yang salah. Karena kaget, mobil saya rem mendadak sehingga motor tersebut dapat lewat disamping mobil saya dan serempetan tidak terjadi. Mobil lain dibelakang saya yang kebetulan melihat kejadian tersebut membunyikan klakson. Terus terang saat itu saya emosional sekali dan ingin rasanya turun dan memaki-maki pengendara motor tersebut.
Saat perjalanan saya lanjutkan kembali saya mencoba meredakan emosi yang tadinya muncul. Saya kemudian membayangkan kejadiannya apabila saat itu saya turun dan mendatangi pengendara motor tersebut untuk memberi pelajaran. Saya mungkin saja bisa puas dengan melakukan itu. Tapi apa manfaatnya buat saya? Apakah hidup saya bakal lebih bahagia? Istri saya bakal lebih cinta pada saya? Atau hanya kepuasan yang sifatnya hanya sementara saja?.
Saya teringat oleh sebuah artikel menarik yang dikirimkan oleh rekan saya di kantor mengenai prinsip 90/10. Stephen Covey sebagai penggagas prinsip ini mengatakan bahwa 10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi pada diri kita dan 90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi dan memberi respon. Kita tidak memiliki kontrol terhadap apa yang terjadi terhadap diri kita. Kita tidak dapat mencegah kemacetan di jalan, mobil yang tiba-tiba mogok, pesawat yang delay dan dalam kasus saya adalah motor yang mengambil arah yang berlawanan. Tapi yang 90% sungguh berbeda. Kita memiliki kemampuan untuk mengontrol yang 90%. Kita tidak dapat mengontrol motor yang berjalan berlawanan dan membahayakan, tapi kita dapat mengontrol bagaimana reaksi kita terhadap peristiwa tersebut.
Kalau dalam kasus saya diatas saya berkeras untuk turun dan memberi pelajaran kepada pengendara motor diatas akan sangat berbeda akhir ceritanya. Berikut kemungkinan-kemungkinannya : saya tiba di rumah akan jauh lebih lama, saya akan jadi tontonan banyak orang, lalu lintas bakal tambah macet karena saya berhenti, banyak orang yang jadi marah ke saya karena berhenti sembarangan, darah tinggi saya bisa kumat dll. Dan semua itu sebabnya hanya sederhana: karena reaksi saya terhadap sebuah kejadian.
Kita sungguh tidak memiliki kuasa terhadap kejadian-kejadian yang menimpa kita tapi kita punya kekuasaan besar untuk menentukan reaksi kita terhadapnya. Reaksi dipicu dari pikiran kita dan sekali keputusan diambil dan dilaksanakan tidak dapat kita tarik kembali. Dan apabila ternyata hasilnya tidak menyenangkan, hanya penyesalan yang akan terucap.
Stephen Covey menyebutkan beberapa cara bagaimana menerapkan prinsip 90/10 ini. Bila ada komentar negatif tentang anda, janganlah mudah terpengaruh dan langsung bereaksi. Biarkan komentar itu berhenti karena benar tidaknya komentar itu anda yang menentukan. Bila ada kejadian tidak enak menimpa anda, janganlah mengumbar emosi dengan langsung bereaksi. Pikirkan dampaknya apabila anda hendak melakukan sesuatu. Keputusan reaksi yang salah dapat menyebabkan banyak hal: anda tambah stress, kehilangan teman, anda dipersepsikan negatif oleh orang lain, sampai kehilangan pekerjaan dll.
Konsep 90/10 ini sangatlah sederhana namun kita sering alpa untuk menerapkannya dalam kehidupan kita. Bila anda ingin hidup anda lebih baik dan menyenangkan, tidak ada salahnya mulai hari ini mari kita sama-sama menerapkan prinsip 90/10 ini dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan kita!
Wednesday, May 23, 2007
Monday, May 14, 2007
Pak Turyadi
Suatu malam beberapa bulan yang lalu, istri saya yang saat itu tengah hamil tua pulang menggunakan taksi Blue Bird dari kantornya di Pluit. Selama perjalanan Pak Turyadi sopir Blue Bird tersebut sangat sopan dalam berbicara dan sangat mengerti bahwa penumpangnya kali ini adalah seorang ibu hamil sehingga dia berhati-hati dalam mengemudi. Sesampainya di rumah, istri saya memberikan ongkos ditambah dengan tip sebesar Rp.90,000. Saya kebetulan yang menjemputnya di pintu pagar melihat Pak Turyadi membantu membukakan pintu agar istri saya tidak repot untuk keluar. Saya surprise dengan tindakan bapak tersebut dan saya mengucapkan banyak terima kasih karena telah mengantarkan istri saya. Pak Turyadi tersenyum kemudian kembali masuk ke mobil dan pergi.
20 menit kemudian saya dengar ada seseorang memencet bel pintu rumah dan saya lihat kembali Pak Turyadi tapi kali ini disertai dengan pembantu rumah sebelah. Karena bingung saya bertanya ada apa dan saya kira istri saya kurang dalam memberikan ongkos. Ternyata sebaliknya, Pak Turyadi berkata,” Maaf Pak saya mengganggu, saya mau mengembalikan uang ibu karena tadi ibu memberikan uang ongkos taksi kelebihan”. Kemudian saya tanyakan berapa istri saya membayar kepada sopir tersebut dan berapa kelebihannya.”Tadi ibu memberi ke saya Rp.450,000 sedangkan ongkosnya sekitar Rp.86,300, jadi pembayaran ibu kelebihan Rp.363,700 dan saya mau mengembalikan kelebihan uang tersebut”.
Saya seakan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Seseorang datang hendak mengembalikan uang yang kita sendiri tidak tahu bahwa uang yang kita berikan ternyata kelebihan. Ternyata istri saya keliru memberikan uang, pecahan Rp.10,000 dan Rp.100,000an akan kelihatan serupa dalam kegelapan dan saat itu istri saya memberikan 1 lembar Rp.50,000 dan 4 lembar Rp.100,000. Kemudian saya ajak pak Turyadi masuk untuk sekedar mengobrol. Dia bercerita sehabis mengantarkan istri saya dia berniat untuk langsung pulang ke pool di Kramat djati karena hari sudah cukup malam dan diperkirakan sudah cukup uang yang didapat malam itu. Kemudian dia menceritakan apa yang terjadi..
“Sambil beristirahat saya menghitung uang yang sudah saya dapat pada satu hari ini. Pada saat saya mengambil uang yang ada di saku baju (ongkos penumpang terakhir-istri saya) saya kaget kenapa bisa ada uang segini banyak dikantong (Rp.450,000). Kemudian saya ingat uang disaku baju itu adalah ongkos pemberian dari ibu. Saat itu juga langsung saya berniat untuk mengembalikan mumpung hari belum larut malam. Tapi masalahnya saya lupa arah rumah ibu, saya hanya ingat dibelokan saya lihat ada sekolah TK. Saat saya mondar-mandir itulah saya ditanya oleh pembantu rumah sebelah yang mungkin melihat saya mondar-mandir terus. Saat saya bilang saya mau cari rumah penumpang saya ibu hamil yang rumahnya sekitar sini dia langsung tahu dan membantu saya untuk sampai disini. Dan ternyata benar..”
Saya terus terang terharu dengan kejujuran dan ketulusan Pak Turyadi ini. Kemudian saya tanya kenapa bapak tidak ambil saja uang itu, karena toh kami juga tidak tahu kalau kami kebanyakan dalam membayar. Jawabnya,” Pak, saya yakin bahwa itu bukanlah rejeki saya. Hari ini rejeki saya sudah dicukupkan oleh Tuhan dan saya tidak mau mengambil yang bukan hak saya karena kalau saya ambil akan membebani saya dan pasti tidak membawa kebaikan”. Istri saya yang sedari tadi termangu mendengarkan mulai menitikkan airmata, sayapun terharu mendengar penjelasan itu.
Kami terharu sekaligus berterima kasih karena kami sedang ditunjukkan oleh yang Maha Tinggi bukti nyata bahwa kejujuran masihlah menjadi hal yang terbaik dan terindah yang dapat menjadikan hidup kita lebih bermakna. Pembelajaran yang langsung menghujam kedalam benak kami. Dalam kehidupan kota besar yang serba cepat, sibuk dan individualistis akan dapat membuat rohani kita menjadi kering dan kejadian seperti ini selaksa siraman rohani yang menyejukkan hati.
Pak Turyadi, lelaki kurus dengan sebagian besar rambut yang mulai memutih seolah dikirimkan oleh Yang Maha Agung untuk memberikan dan menunjukkan pelajaran yang sangat berharga tentang kejujuran. Kejujuran yang selayaknya menjadi prioritas utama untuk diterapkan dalam hidup dan pekerjaan kita.
20 menit kemudian saya dengar ada seseorang memencet bel pintu rumah dan saya lihat kembali Pak Turyadi tapi kali ini disertai dengan pembantu rumah sebelah. Karena bingung saya bertanya ada apa dan saya kira istri saya kurang dalam memberikan ongkos. Ternyata sebaliknya, Pak Turyadi berkata,” Maaf Pak saya mengganggu, saya mau mengembalikan uang ibu karena tadi ibu memberikan uang ongkos taksi kelebihan”. Kemudian saya tanyakan berapa istri saya membayar kepada sopir tersebut dan berapa kelebihannya.”Tadi ibu memberi ke saya Rp.450,000 sedangkan ongkosnya sekitar Rp.86,300, jadi pembayaran ibu kelebihan Rp.363,700 dan saya mau mengembalikan kelebihan uang tersebut”.
Saya seakan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Seseorang datang hendak mengembalikan uang yang kita sendiri tidak tahu bahwa uang yang kita berikan ternyata kelebihan. Ternyata istri saya keliru memberikan uang, pecahan Rp.10,000 dan Rp.100,000an akan kelihatan serupa dalam kegelapan dan saat itu istri saya memberikan 1 lembar Rp.50,000 dan 4 lembar Rp.100,000. Kemudian saya ajak pak Turyadi masuk untuk sekedar mengobrol. Dia bercerita sehabis mengantarkan istri saya dia berniat untuk langsung pulang ke pool di Kramat djati karena hari sudah cukup malam dan diperkirakan sudah cukup uang yang didapat malam itu. Kemudian dia menceritakan apa yang terjadi..
“Sambil beristirahat saya menghitung uang yang sudah saya dapat pada satu hari ini. Pada saat saya mengambil uang yang ada di saku baju (ongkos penumpang terakhir-istri saya) saya kaget kenapa bisa ada uang segini banyak dikantong (Rp.450,000). Kemudian saya ingat uang disaku baju itu adalah ongkos pemberian dari ibu. Saat itu juga langsung saya berniat untuk mengembalikan mumpung hari belum larut malam. Tapi masalahnya saya lupa arah rumah ibu, saya hanya ingat dibelokan saya lihat ada sekolah TK. Saat saya mondar-mandir itulah saya ditanya oleh pembantu rumah sebelah yang mungkin melihat saya mondar-mandir terus. Saat saya bilang saya mau cari rumah penumpang saya ibu hamil yang rumahnya sekitar sini dia langsung tahu dan membantu saya untuk sampai disini. Dan ternyata benar..”
Saya terus terang terharu dengan kejujuran dan ketulusan Pak Turyadi ini. Kemudian saya tanya kenapa bapak tidak ambil saja uang itu, karena toh kami juga tidak tahu kalau kami kebanyakan dalam membayar. Jawabnya,” Pak, saya yakin bahwa itu bukanlah rejeki saya. Hari ini rejeki saya sudah dicukupkan oleh Tuhan dan saya tidak mau mengambil yang bukan hak saya karena kalau saya ambil akan membebani saya dan pasti tidak membawa kebaikan”. Istri saya yang sedari tadi termangu mendengarkan mulai menitikkan airmata, sayapun terharu mendengar penjelasan itu.
Kami terharu sekaligus berterima kasih karena kami sedang ditunjukkan oleh yang Maha Tinggi bukti nyata bahwa kejujuran masihlah menjadi hal yang terbaik dan terindah yang dapat menjadikan hidup kita lebih bermakna. Pembelajaran yang langsung menghujam kedalam benak kami. Dalam kehidupan kota besar yang serba cepat, sibuk dan individualistis akan dapat membuat rohani kita menjadi kering dan kejadian seperti ini selaksa siraman rohani yang menyejukkan hati.
Pak Turyadi, lelaki kurus dengan sebagian besar rambut yang mulai memutih seolah dikirimkan oleh Yang Maha Agung untuk memberikan dan menunjukkan pelajaran yang sangat berharga tentang kejujuran. Kejujuran yang selayaknya menjadi prioritas utama untuk diterapkan dalam hidup dan pekerjaan kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)
