Saat makan siang bersama dengan seorang teman lama saya, dia kelihatannya sedang kesal karena terlihat dari air mukanya yang keruh. Begitu kami mulai duduk untuk memesan makanan, dia mulai mengungkapkan perasaan kesalnya terhgadap kelakuan saudara iparnya yang baru saja dibantu keluar dari permasalahan keuangan. “Nggak tahu diri benar iparku itu. Udah ditolong dengan membantu membayarkan tagihan kartu kreditnya yang macet, masak nggak bilang terima kasih sama sekali!” ungkapnya. “Bahkan menelepon kembali pun nggak. Apa dia nggak kerasa kalau sudah ditolong orang ya?..nyesel juga aku udah nolong dia, kalau aku tahu begini, aku nggak akan membantunya se-sen pun!”
Saya hanya bisa mendengarkan segala keluh kesah dan mencoba untuk menenangkan perasaan marahnya agar tidak semakin menjadi besar. Perasaan kesal seperti yang teman saya rasakan adalah wajar dan mungkin banyak diantara kita (bahkan saya sendiri) masih sering merasa kesal apabila orang yang kita beri pertolongan tidak mengucapkan terima kasih atas usaha kita.
“Orang yang marah, hatinya penuh dengan racun” begitulah Konfusius pernah mengatakan. Dan saya merasa kasihan kepada teman saya tersebut karena saat itu (dan mungkin sampai kini) hatinya masih teracuni oleh sebab amarahnya. Perlu kita sadari bahwa manusia itu bermacam ragam tabiat-nya, itu sudah kodrat manusia. Tabiat untuk selalu berterima kasih terhadap setiap kebaikan tidaklah dimiliki oleh setiap manusia. Dalam sebuah buku pernah saya baca bahwa “Tahu untuk berterima kasih kepada setiap kebaikan dan pemberian adalah buah dari pendidikan yang baik. Dan kita tidak bisa menemukan ini di setiap diri manusia”.
Kita sebaiknya mengetahui dan memaklumi bahwa tidak semua manusia memiliki sifat “tahu berterima kasih” dan juga kadang manusia “lupa” untuk berterima kasih. Jadi kalau ada orang yang kita tolong kemudian ternyata dia tidak berucap terima kasih adalah hal yang wajar. Oleh karena itu, sebaiknya kita jangan selalu mengharap untuk mendapatkan ungkapan rasa terima kasih, sebab hal itu akan membuat hati kita jadi jengkel dan kesal.
Hal ini dipraktekkan oleh teman saya yang lain, seorang eksekutif muda yang bekerja di sebuah kedutaan besar asing. Setiap kali saudara-saudaranya membutuhkan bantuan dana (anak sekolah, masuk rumah sakit, bahkan untuk bayar hutang) mereka selalu datang ke teman saya ini. Sewaktu saya tanya apakah saudara-saudaranya berucap terima kasih dan kemudian datang untuk membayar kembali uang yang dipinjam, dia bilang tidak. Teman saya coba mensikapi hal tersebut dari sisi yang berbeda. Dia melihat bahwa apa yang dilakukannya semata-mata adalah ibadah karena Allah dan tidak mengharapkan balasan di dunia tapi nanti saat dirinya berpulang pada-Nya. Karena itulah dia selalu gembira dan iklhas saat memberikan bantuan dan tidak terpenjara dalam amarah dan kesal karena merasa perbuatan baik dan pemberiannya tidak berbalas langsung.
Teman saya agaknya mendekati gambaran syarat-syarat Manusia Ideal yang dijabarkan oleh seorang filsuf: Aristoteles. “Manusia Ideal,” kata Aristoteles,”Adalah orang yang merasa gembira bila dapat berbuat baik kepada orang lain, dan merasa malu bila menerima kebaikan dari orang lain. Sebab memberikan kebaikan adalah menggambarkan keagungan budi seseorang.” Kalimat Aristoteles itu senada sepengertian dengan sebuah cerita dalam sebuah pelajaran agama yang saya dengar waktu SD dulu, sebuah kisah dimana seorang Nabi telah berhasil menyembuhkan 10 orang kusta. Dan dari 10 orang kusta yang sembuh itu hanya ada satu yang mengucapkan terima kasih! Namun sang Nabi tersebut tidak mempermasalahkan hal itu.
Tabiat dapat berterima kasih tidak serta merta tumbuh sendiri, namun perlu dipupuk dan disiram laksana bunga yang terawat. Tidak heran, seringkali kita melihat (bahkan mungkin kita lakukan sendiri) kita selalu bilang kepada anak balita kita untuk jangan lupa bilang terima kasih ketika anak kita mendapatkan sesuatu dari orang lain. Namun pembelajaran itu akan sia-sia kalau kita hanya bisa meminta mereka untuk selalu berterima kasih tanpa kita juga selalu menunjukkan bagaimana caranya. Salah satu saudara saya yang mempunyai anak balita sering kesal melihat anaknya susah (atau lupa) untuk berterima kasih saat mendapatkan sesuatu dari orang lain. Saya seketika tahu sebabnya, ketika saudara saya menerima sesuatu dia juga ternyata tidak (atau lupa) untuk berucap terima kasih! Seorang anak kecil akan lebih cepat belajar dari apa yang dilakukan dan dicontohkan oleh orang tuanya.
Nah, agar hidup kita dapat lebih bahagia: janganlah memikirkan dan mengharapkan ucapan terima kasih dari orang yang anda bantu, namun bergembiralah karena anda dapat memberi dan masih memiliki kesempatan untuk membantu orang lain.
Wednesday, August 8, 2007
Wednesday, July 18, 2007
Hati
Pada sebuah cerita, dikisahkan bahwa Tuhan ingin bersembunyi sementara dari umat-Nya yang tiada henti-hentinya memohon bantuan-Nya. Para malaikat banyak memberikan usul. Ada yang mengusulkan agar Tuhan bersembunyi di puncak gunung yang tertinggi, bersemayam sementara di lautan yang paling dalam dan tempat-tempat lain yang tiada mungkin dijamah dan didatangi oleh manusia. Namun Tuhan masih bimbang akan usulan-usulan tersebut, sampai akhirnya ada sebuah usulan yang sederhana: “Tuhan, bersembunyilah di hati sanubari manusia karena tempat itulah yang paling jarang didatangi oleh manusia”.
Hati disini bukanlah bermakna harfiah berupa organ yang berada dalam tubuh manusia. Hati sanubari lebih bermakna spiritual yaitu pada jiwa seseorang termasuk juga pikiran. Hati adalah cerminan sekaligus penyimpan memory dari segala perilaku dan juga perlakukan orang terhadap kita. Hati kita akan menyimpan rasa sakit apabila kita dizalimi oleh orang lain, karena itu orang menyebutnya sakit hati. Hati juga sebagai ”penjaga” segala perilaku, perkataan dan perbuatan saat kita berkehidupan sehari-hari karena itu bila kita akan berpisah dengan seseorang kita seringkali mengatakan ”hati-hati”.
Bila kita mulai mencintai seseorang akan disebut sebagai ”jatuh hati” dan apabila kita kemudian mencintainya dengan sungguh-sungguh kita akan menyebutnya dengan ”mencintai sepenuh hati”. Seorang anak yang dilahirkan dari dua orang yang saling mencintai akan disebut sebagai ”Buah hati”.
Beberapa contoh kata-kata diatas menunjukkan betapa peran hati sanubari selalu menjadi pusat dari setiap laku dan pikir kita. Hati adalah cermin. Apa yang kita lakukan terus menerus akan berpengaruh dan berbekas pada hati. Laku dan pikir yang baik akan membuat hati kita selalu bersih dan cemerlang. Sementara hal-hal tercela akan membuat hati kita selalu diselubungi oleh kabut kelam yang semakin lama semakin membuat hati kita menjadi hitam.
Hati yang hitam lambat-laun akan berkurang kepekaannya akan keindahan, kebenaran sejati dan kesucian. Dan hati yang hitam akan dengan sangat mudah dihinggapi oleh penyakit-penyakit hati. Penyakit-penyakit hati yang sering bersemayam dalam hati adalah Sombong, merasa lebih mulia, lebih pintar dan lebih baik dari orang lain. Serakah, keinginan untuk selalu menguasai dan mendapatkan lebih banyak dari orang lain serta ketiadaan keinginan untuk saling berbagi dengan orang lain. Iri dan dengki, yang selalu menyimpan rasa benci bila melihat orang lain lebih pandai, lebih baik, lebih kaya dll.
Hati adalah cermin sekaligus ”penyaring” dari apapun yang hendak kita lakukan. Bila kita terpancing untuk melakukan sesuatu kecurangan, bercermin dan bertanyalah pada hati kita. Bersih dan cemerlangnya sebuah hati sangat dipengaruhi oleh asupan ”makanan” yang kita konsumsi setiap waktu. ”Makanan” itu dapat berupa segala kejadian yang kita lihat, informasi yang kita baca, cerita yang kita dengar dan nilai-nilai spiritual yang kita yakini dan amalkan. Namun ”makanan” terbaik yang harus dikonsumsi oleh hati adalah dengan dengan sesering mungkin kita mendekatkan diri dengan mengunjungi Sang Pencipta yang selalu bersemayam di hati setiap insan.
Saya kembali teringat salah satu lagu yang sangat saya sukai yang syairnya berbicara mengenai Hati:
”Jagalah hati jangan kau kotori. Jagalah hati lentera hidup ini. Jagalah hati jangan kau nodai. Jagalah hati cahaya Illahi. Bila hati kian bersih. pikiranpun akan jernih. Semangat hidup nan gigih. Prestasi mudah diraih.”
Selamat bekerja!
Hati disini bukanlah bermakna harfiah berupa organ yang berada dalam tubuh manusia. Hati sanubari lebih bermakna spiritual yaitu pada jiwa seseorang termasuk juga pikiran. Hati adalah cerminan sekaligus penyimpan memory dari segala perilaku dan juga perlakukan orang terhadap kita. Hati kita akan menyimpan rasa sakit apabila kita dizalimi oleh orang lain, karena itu orang menyebutnya sakit hati. Hati juga sebagai ”penjaga” segala perilaku, perkataan dan perbuatan saat kita berkehidupan sehari-hari karena itu bila kita akan berpisah dengan seseorang kita seringkali mengatakan ”hati-hati”.
Bila kita mulai mencintai seseorang akan disebut sebagai ”jatuh hati” dan apabila kita kemudian mencintainya dengan sungguh-sungguh kita akan menyebutnya dengan ”mencintai sepenuh hati”. Seorang anak yang dilahirkan dari dua orang yang saling mencintai akan disebut sebagai ”Buah hati”.
Beberapa contoh kata-kata diatas menunjukkan betapa peran hati sanubari selalu menjadi pusat dari setiap laku dan pikir kita. Hati adalah cermin. Apa yang kita lakukan terus menerus akan berpengaruh dan berbekas pada hati. Laku dan pikir yang baik akan membuat hati kita selalu bersih dan cemerlang. Sementara hal-hal tercela akan membuat hati kita selalu diselubungi oleh kabut kelam yang semakin lama semakin membuat hati kita menjadi hitam.
Hati yang hitam lambat-laun akan berkurang kepekaannya akan keindahan, kebenaran sejati dan kesucian. Dan hati yang hitam akan dengan sangat mudah dihinggapi oleh penyakit-penyakit hati. Penyakit-penyakit hati yang sering bersemayam dalam hati adalah Sombong, merasa lebih mulia, lebih pintar dan lebih baik dari orang lain. Serakah, keinginan untuk selalu menguasai dan mendapatkan lebih banyak dari orang lain serta ketiadaan keinginan untuk saling berbagi dengan orang lain. Iri dan dengki, yang selalu menyimpan rasa benci bila melihat orang lain lebih pandai, lebih baik, lebih kaya dll.
Hati adalah cermin sekaligus ”penyaring” dari apapun yang hendak kita lakukan. Bila kita terpancing untuk melakukan sesuatu kecurangan, bercermin dan bertanyalah pada hati kita. Bersih dan cemerlangnya sebuah hati sangat dipengaruhi oleh asupan ”makanan” yang kita konsumsi setiap waktu. ”Makanan” itu dapat berupa segala kejadian yang kita lihat, informasi yang kita baca, cerita yang kita dengar dan nilai-nilai spiritual yang kita yakini dan amalkan. Namun ”makanan” terbaik yang harus dikonsumsi oleh hati adalah dengan dengan sesering mungkin kita mendekatkan diri dengan mengunjungi Sang Pencipta yang selalu bersemayam di hati setiap insan.
Saya kembali teringat salah satu lagu yang sangat saya sukai yang syairnya berbicara mengenai Hati:
”Jagalah hati jangan kau kotori. Jagalah hati lentera hidup ini. Jagalah hati jangan kau nodai. Jagalah hati cahaya Illahi. Bila hati kian bersih. pikiranpun akan jernih. Semangat hidup nan gigih. Prestasi mudah diraih.”
Selamat bekerja!
Subscribe to:
Posts (Atom)
