Istirahat saya di minggu siang itu terganggu oleh bunyi dering telepon. Ternyata saudara saya di Cilacap yang berada di ujung telepon. “Mas, Bu Sastro tetangga kita di Cilacap yang punya warung meninggal kemarin,” ujarnya pelan. Saya berusaha mengingat-ingat karena sudah lama sekali saya tidak update dengan lingkungan saya dulu termasuk nama dan sosok mantan tetangga-tetangga saya. Mungkin karena prosesor di kepala saya membutuhkan waktu agak lama untuk mengingat, suara diseberang terdengar lagi. Kali ini dengan nada gemas: “Itu lho masss.. yang anaknya dulu suka ngejar-ngejar layangan bareng mas di halaman SMP 3. Yang rumahnya dekat rel kereta api!”. Begitu mendengar penjelasan tersebut visual sosok Bu Sastro yang semula buram menjadi kian jelas. “O’iya..iya, aku ingat. Innanillaihi….”.
Kemudian dia mulai menceritakan ihwal musibah itu. “Aku punya perasaan nggak enak mas dengan meninggalnya beliau”. Belum sempat saya menanyakan ketidak-enakan itu dia melanjutkan, ”Soalnya terakhir kali aku ketemu dia sekitar minggu lalu aku agak judes dan membentak pada beliau. Soalnya aku sebal saat beliau layani aku di warung dia lebih sering ngobrol dengan pembeli lain. Karena itu aku jadi tambah lama dilayani padahal waktu itu aku sedang buru-buru. Nah kemarin tuh rencananya aku mau minta maaf karena aku jadi merasa bersalah karena sudah berkata ketus pada beliau tempo hari. Ehhh..tadi pagi aku dikasih tahu kalau beliau meninggal karena jantung. Lemes aku mas..aku jadi makin nggak enak hati karena nggak sempat minta maaf..”.
“Manusia berkehendak, Tuhan memutuskan”, begitu sebuah kata bijak yang saya pernah baca dalam sebuah buku. Terutama dalam soal kematian, tuntasnya kehidupan duniawi seseorang merupakan sebuah kuasa Yang Maha Memutuskan. Banyak kita dengar kepergian yang tiba-tiba. Seseorang yang paginya masih ngobrol dengan kita dan begitu siang menjelang kita mendengar kabar bahwa dia telah berpulang.
Kita tentu berharap meninggalkan kebaikan kepada semua orang yang pernah mengenal kita. Kita juga ingin setiap orang yang datang menunjukkan kedukaan di tempat pembaringan kita yang terakhir selalu mengenang pengalaman manis saat terakhir bertemu dengan kita. Orang-orang menangis karena mereka akan rindu terhadap kebaikan yang selalu kita berikan kepada mereka. Mereka juga tersenyum ketika mengingat kembali saat-saat kebaikan mereka terima dari kita, walau itu hanya sebentuk senyuman. Mereka akan rindu akan kasih yang selalu kita tebarkan ke orang-orang sekitar kita.
Perbuatan baik apapun bentuknya tidak akan pernah sia-sia karena akan berdampak mendamaikan hati siapapun yang melakukan dan menerimanya. Kadangkala kebaikan kita dibalas dengan kenyataan yang menyakitkan dan ini adalah sebuah ujian kebaikan. Apabila kita menerimanya dengan ikhlas, Insya Allah dalam waktu dekat kebaikan itu akan Allah balaskan dengan kebaikan yang berlipat kadarnya.
Janganlah waktu mengekang dan mengatur kapan kita untuk berbuat baik dan menebarkan kasih. Berbuat baik dan menebarkan kasih tidaklah selalu dengan sebuah sikap yang demonstratif. Sebuah senyuman merupakan perwujudan kasih dan salah satu hadiah terindah untuk siapapun. Kasih bisa juga kita tebarkan saat kita khusyuk berdoa dengan melafalkan harapan kebaikan untuk siapapun yang anda inginkan.
Janganlah waktu membatasi kita untuk berbagi kasih karena kita tidak tahu kapan saat Tuhan meminta kita untuk pergi. Dan sebelum semua itu terjadi pastikanlah bahwa kita selalu memberikan kebaikan setiap waktu dan saat bertemu dengan siapapun. Tutuplah hari dengan kebaikan, seolah-olah Tuhan akan memanggil kita kembali pada-Nya esok hari.
SELAMAT HARI NATAL 2009
Semoga Kasih Natal selalu bersemayam dalam hati kita
Sunday, February 1, 2009
Menunda
“Selamat Tahun Baru ya Mas, Semoga tahun 2009 makin sukses deh!..mas aku mau ajak mas dan keluarga jalan-jalan ke Bogor nih, mau nggak?” suara riang dari kerabat saya siang itu membuat kegiatan bersih-bersih rumah menjadi sedikit terusik. “Wah maaf dek, saya sedang bersih-bersih rumah, mumpung hari libur”, jawab saya menolak ajakannya. “Udah lah, bersih-bersih kan bisa aja dilakukan besok-besok hari, kan masih lama liburnyaa..” ujarnya lagi dengan kenes.Tapi tetap saja saya menolak dengan halus karena saya sudah merencanakan untuk bersih-bersih rumah ini sejak lama.
Saya yakin anda sama seperti saya, sering mendapat ajakan dan bujukan untuk menunda dan meninggalkan apa yang sedang kita kerjakan untuk melakukan hal lain yang sama sekali berbeda. Menurut Anthony Robins, ada 2 penyebab kenapa kita menunda melakukan sesuatu. Yaitu bahwa secara alamiah manusia akan selalu tergerak untuk menghindari hal yang tidak menyenangkan (pain) dan selalu mengharapkan kesenangan (pleasure). Dan inilah yang terjadi saat kita menunda sesuatu (pekerjaan) ketimbang menyelesaikannya.
Contoh sederhana seperti berikut. Sebagai seorang Salesman, anda ditargetkan menelpon prospek nasabah minimal 100 orang per minggu. Tetapi anda justru memilih untuk menundanya. Dalam fikiran anda (mungkin) terbersit rasa ragu sekiranya prospek nasabah tersebut akan menolak penawaran anda, nasabah susah untuk dihubungi, anda merasa tidak PeDe dll. Anda kemudian lebih memfokuskan energi diri ke hal-hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan kegiatan mencari prospek nasabah. Misal, rencana kumpul rutin dengan teman-teman, kegiatan kencan anda akhir minggu, dll. Dengan menunda menelepon prospek nasabah, diri anda mendapatkan kesenangan semu. Akibatnya menjelang weekend, kejar tayang pun dilakukan dengan menelpon puluhan prospek nasabah yang menjadi target hanya dalam 1 hari terakhir. Kadang hal ini diperburuk, ketika pada hari itu anda harus juga menyelesaikan tambahan pekerjaan penting yang diberikan mendadak oleh atasan. Akibatnya bisa ditebak, selama menelepon prospek anda akan terburu-buru, tidak focus selama interaksi dan pekerjaan yang diberikan oleh atasan anda bisa jadi tidak juga rampung.
Menunda sesuatu, sederhana tapi bisa berakibat buruk. Sudah tahu bayar kartu kredit setiap tanggal 5 setiap bulan, “Ah masih tgl 28, masih lama, pakai aja dulu uangnya“, begitu biasanya kita berpikir. Sampai akhirnya lupa dan baru ingat setelah tanggal 5, barulah kita sibuk cari ATM untuk cepat-cepat bayar. Bahkan seringkali kita baru ingat setelah ditelepon oleh pihak bank.
Suka tidak suka, kebiasaan menunda pekerjaan sekalipun kecil merupakan kebiasaan buruk. Kita tidak hanya akan menghambat diri tapi juga bisa merugikan orang lain. Bayangkan bila seorang staf IT menunda pekerjaan untuk memperbaiki system kantor atau komputer rekan kerja lain yang rusak. Penundaan pekerjaan yang dilakukan tidak hanya merugikan diri sendiri (karena pekerjaan lain akan menumpuk) juga berdampak merugikan kepada perusahaan.
Menunda sesuatu, pada banyak hal menghambat kemajuan. Harusnya pekerjaan bisa selesai hari ini, jadinya besok atau besoknya lagi. Kalau gajian ditunda tentu kita akan protes dan pasti tidak mau, tapi kalau menunda pekerjaan seringkali masih saja kita lakukan. Kalau kita ingin sukses, tentu kita harus membiasakan untuk tidak menunda. Kerjakan yang bisa dilakukan pada hari ini, Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Sekecil apapun yang kita lakukan, akan sangat berguna untuk kemajuan diri.
Kebiasaan menunda seperti itu mungkin masih banyak terjadi pada kita. Kesempatan yang datang kita lewatkan, kita mengira besok akan ada kesempatan yang lebih bagus lagi. Begitu seterusnya setiap ada kesempatan kita lewatkan. Akhirnya kita nggak akan pernah mengambil satupun peluang, kita nggak melakukan apapun, sampai akhirnya kita menyadari telah begitu banyak membuang kesempatan.
Kebanyakan penyebab dari kegagalan adalah karena kebiasaan menunda. Ayo kawan, jangan pernah menunda pekerjaan jika bisa kita lakukan saat ini juga!...
Saya yakin anda sama seperti saya, sering mendapat ajakan dan bujukan untuk menunda dan meninggalkan apa yang sedang kita kerjakan untuk melakukan hal lain yang sama sekali berbeda. Menurut Anthony Robins, ada 2 penyebab kenapa kita menunda melakukan sesuatu. Yaitu bahwa secara alamiah manusia akan selalu tergerak untuk menghindari hal yang tidak menyenangkan (pain) dan selalu mengharapkan kesenangan (pleasure). Dan inilah yang terjadi saat kita menunda sesuatu (pekerjaan) ketimbang menyelesaikannya.
Contoh sederhana seperti berikut. Sebagai seorang Salesman, anda ditargetkan menelpon prospek nasabah minimal 100 orang per minggu. Tetapi anda justru memilih untuk menundanya. Dalam fikiran anda (mungkin) terbersit rasa ragu sekiranya prospek nasabah tersebut akan menolak penawaran anda, nasabah susah untuk dihubungi, anda merasa tidak PeDe dll. Anda kemudian lebih memfokuskan energi diri ke hal-hal yang tidak berhubungan sama sekali dengan kegiatan mencari prospek nasabah. Misal, rencana kumpul rutin dengan teman-teman, kegiatan kencan anda akhir minggu, dll. Dengan menunda menelepon prospek nasabah, diri anda mendapatkan kesenangan semu. Akibatnya menjelang weekend, kejar tayang pun dilakukan dengan menelpon puluhan prospek nasabah yang menjadi target hanya dalam 1 hari terakhir. Kadang hal ini diperburuk, ketika pada hari itu anda harus juga menyelesaikan tambahan pekerjaan penting yang diberikan mendadak oleh atasan. Akibatnya bisa ditebak, selama menelepon prospek anda akan terburu-buru, tidak focus selama interaksi dan pekerjaan yang diberikan oleh atasan anda bisa jadi tidak juga rampung.
Menunda sesuatu, sederhana tapi bisa berakibat buruk. Sudah tahu bayar kartu kredit setiap tanggal 5 setiap bulan, “Ah masih tgl 28, masih lama, pakai aja dulu uangnya“, begitu biasanya kita berpikir. Sampai akhirnya lupa dan baru ingat setelah tanggal 5, barulah kita sibuk cari ATM untuk cepat-cepat bayar. Bahkan seringkali kita baru ingat setelah ditelepon oleh pihak bank.
Suka tidak suka, kebiasaan menunda pekerjaan sekalipun kecil merupakan kebiasaan buruk. Kita tidak hanya akan menghambat diri tapi juga bisa merugikan orang lain. Bayangkan bila seorang staf IT menunda pekerjaan untuk memperbaiki system kantor atau komputer rekan kerja lain yang rusak. Penundaan pekerjaan yang dilakukan tidak hanya merugikan diri sendiri (karena pekerjaan lain akan menumpuk) juga berdampak merugikan kepada perusahaan.
Menunda sesuatu, pada banyak hal menghambat kemajuan. Harusnya pekerjaan bisa selesai hari ini, jadinya besok atau besoknya lagi. Kalau gajian ditunda tentu kita akan protes dan pasti tidak mau, tapi kalau menunda pekerjaan seringkali masih saja kita lakukan. Kalau kita ingin sukses, tentu kita harus membiasakan untuk tidak menunda. Kerjakan yang bisa dilakukan pada hari ini, Manfaatkan waktu sebaik mungkin. Sekecil apapun yang kita lakukan, akan sangat berguna untuk kemajuan diri.
Kebiasaan menunda seperti itu mungkin masih banyak terjadi pada kita. Kesempatan yang datang kita lewatkan, kita mengira besok akan ada kesempatan yang lebih bagus lagi. Begitu seterusnya setiap ada kesempatan kita lewatkan. Akhirnya kita nggak akan pernah mengambil satupun peluang, kita nggak melakukan apapun, sampai akhirnya kita menyadari telah begitu banyak membuang kesempatan.
Kebanyakan penyebab dari kegagalan adalah karena kebiasaan menunda. Ayo kawan, jangan pernah menunda pekerjaan jika bisa kita lakukan saat ini juga!...
Subscribe to:
Posts (Atom)
