Wednesday, May 23, 2007

Memberi - Menerima

Sekali waktu saya menerima email dari salah seorang rekan pembaca setia LPB dari Solo, yang menanyakan pendapat saya mengenai Karma. Mungkin anda sering mendengar kata-kata Hukum Kharma tapi bagaimana memaknainya bisa jadi kita mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Saya lebih suka menyebutnya sebagai Prinsip Memberi-Menerima (dalam artikel lain disebut sebagai Prinsip Sebab-Akibat). Dari beberapa artikel yang saya baca, Prinsip Memberi - Menerima ini sejatinya adalah inti dari kehidupan itu sendiri. Banyak contoh-contoh dalam kehidupan saya maupun orang lain yang merupakan contoh baik dari prinsip ini. Seperti yang saya dengar dari pengalaman seorang sopir taksi yang saya temui suatu siang.

Sopir taksi Blue Bird yang saya temui ini berasal dari Pool Penggilingan dan sehari sebelumnya dia mengalami sebuah kejadian yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Dia membantu seorang ibu melahirkan di dalam taksinya. “Siang itu saya lihat seorang ibu yang sedang hamil tua menyetop taksi yang ada di depan saya, tapi ternyata taksi itu tidak mau berhenti. Karena saya ada dibelakang taksi tersebut saya berhenti,” ujarnya memulai cerita. “Ternyata belum sempat turun dari taksi, di depan Rumah Sakit Persahabatan ibu tersebut melahirkan dan saya ikut bantu semampu saya”.

Waktu saya pulang ke Pool dan cerita kepada rekan sesama sopir mereka banyak yang bilang bahwa rejeki saya akan menjadi lebih baik nantinya. Mungkin ada hubungannya atau tidak, omongan teman-teman saya di Pool ternyata benar-benar saya alami hari ini. Nggak seperti biasanya, sejak dari saya keluar pool jam 9 pagi tadi rejeki saya tidak pernah terputus. Tadi sebelum bapak naik, saya baru menurunkan penumpang di depan Stasiun Kota. Sebelumnya di depan Pool saya sudah dapat penumpang ke arah Kelapa Gading. Apa ini ya bukti bahwa Tuhan itu pasti akan membalas amal kebaikan yang dilakukan umatnya dengan kebaikan yang berlipat?”

Saya takjub dengan pengalaman yang diceritakan oleh sopir taksi ini. Saya semakin mendapat pembuktian akan kebenaran Prinsip Memberi – Menerima dalam kehidupan. Apapun yang kita Berikan kepada kehidupan, sekali waktu kita pasti akan Menerima-nya kembali. Kalau kita banyak berikan kebaikan kepada orang lain, sekali waktu kita pasti akan menerima banyak kebaikan dari orang lain juga. Sebaliknya, apabila kita menyemai hal-hal negatif pada kehidupan maka bersiaplah sekali waktu kita akan menerima buah (akibat) dari tindakan tersebut.

Bukti Prinsip Memberi – Menerima ini terpampang secara jelas dalam kehidupan sekitar kita. Petani akan menyemai benih padi dan memberi pupuk yang baik karena mereka yakin alam kelak akan memberi-kan butir-butir beras untuk dimakan. Hutan yang dengan rajin ditebangi hingga gundul, sekali waktu akan memberikan bencana banjir dan longsor kepada masyarakat disekitarnya. Bila kita mendidik anak dengan berlimpahan kasih dan cinta, maka tidak heran apabila saat si anak beranjak besar dia akan melimpahi orang tua dan orang-orang sekitarnya dengan penuh rasa cinta dan sayang juga.

Dalam dunia layanan pun tidak lepas dari prinsip ini. Sebuah perusahaan yang dapat memberikan Layanan yang baik kepada pelanggannya akan mendapatkan lebih banyak lagi pelanggan dan pelanggan akan dengan senang hati melakukan bisnis dengan kita. Bagaimana dengan pribadi kita? Sederhana saja, kalau kita ingin menerima perlakuan baik dari orang lain, kita harus juga memperlakukan orang lain dengan baik. Jadi jangan buru-buru menyalahkan orang lain apabila mereka bersikap tidak menyenangkan terhadap anda karena siapa tahu anda sendiri yang menunjukkan sikap tidak menyenangkan pada mereka.

Prinsip ini bekerja atas dasar kesadaran atau niat yang mendasari sebuah tindakan dan tidak bekerja atas dasar “ketidaksengajaan”, misal: tidur, jalan, tidak sengaja menginjak kaki orang,dll. Tidak ada seseorang pun yang menentukan ‘penghargaan maupun hukuman’ untuk apa yang kita lakukan. Kita menciptakan sebab-sebab dari tindakan kita, dan kita jualah yang akan mengalami akibatnya. Kitalah yang bertanggung jawab atas kehendak dan tindakan kita sendiri.
Dalam sebuah tulisan disebutkan bahwa Buddha mengajarkan: “Sesuai dengan yang ditanam. itulah yang akan dipetik, Begitu juga dengan buah yang terima. Pembuat kebajikan akan mendapatkan hasil yang menyenangkan, Pembuat kejahatan akan memetik hasil yang menyedihkan. Jika kau tanam benih-benih kebajikan dengan baik, Maka kau akan menikmati buah-buah kebahagiaan”.

Mengendalikan Tindakan

Setiap pulang kantor saya selalu melewati jalan depan Stasiun Bekasi yang sangat padat terutama pada sore hari. Kepadatan itu semakin bertambah parah karena banyak pengendara sepeda motor yang tidak mau mengalah dan cenderung mengambil badan jalan yang berlawanan. Malam itu kembali saya temui keadaan yang sama. Di depan mobil saya banyak motor yang berjalan berlawanan arah. Tanpa peduli mereka tetap melaju perlahan mengambil jalur yang salah.
Ketika mobil saya jalankan perlahan tiba-tiba dari arah depan mendadak muncul sebuah sepeda motor yang berjalan kencang dengan mengambil jalur yang salah. Karena kaget, mobil saya rem mendadak sehingga motor tersebut dapat lewat disamping mobil saya dan serempetan tidak terjadi. Mobil lain dibelakang saya yang kebetulan melihat kejadian tersebut membunyikan klakson. Terus terang saat itu saya emosional sekali dan ingin rasanya turun dan memaki-maki pengendara motor tersebut.


Saat perjalanan saya lanjutkan kembali saya mencoba meredakan emosi yang tadinya muncul. Saya kemudian membayangkan kejadiannya apabila saat itu saya turun dan mendatangi pengendara motor tersebut untuk memberi pelajaran. Saya mungkin saja bisa puas dengan melakukan itu. Tapi apa manfaatnya buat saya? Apakah hidup saya bakal lebih bahagia? Istri saya bakal lebih cinta pada saya? Atau hanya kepuasan yang sifatnya hanya sementara saja?.

Saya teringat oleh sebuah artikel menarik yang dikirimkan oleh rekan saya di kantor mengenai prinsip 90/10. Stephen Covey sebagai penggagas prinsip ini mengatakan bahwa 10% kehidupan dibuat oleh hal-hal yang terjadi pada diri kita dan 90% kehidupan ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi dan memberi respon. Kita tidak memiliki kontrol terhadap apa yang terjadi terhadap diri kita. Kita tidak dapat mencegah kemacetan di jalan, mobil yang tiba-tiba mogok, pesawat yang delay dan dalam kasus saya adalah motor yang mengambil arah yang berlawanan. Tapi yang 90% sungguh berbeda. Kita memiliki kemampuan untuk mengontrol yang 90%. Kita tidak dapat mengontrol motor yang berjalan berlawanan dan membahayakan, tapi kita dapat mengontrol bagaimana reaksi kita terhadap peristiwa tersebut.

Kalau dalam kasus saya diatas saya berkeras untuk turun dan memberi pelajaran kepada pengendara motor diatas akan sangat berbeda akhir ceritanya. Berikut kemungkinan-kemungkinannya : saya tiba di rumah akan jauh lebih lama, saya akan jadi tontonan banyak orang, lalu lintas bakal tambah macet karena saya berhenti, banyak orang yang jadi marah ke saya karena berhenti sembarangan, darah tinggi saya bisa kumat dll. Dan semua itu sebabnya hanya sederhana: karena reaksi saya terhadap sebuah kejadian.

Kita sungguh tidak memiliki kuasa terhadap kejadian-kejadian yang menimpa kita tapi kita punya kekuasaan besar untuk menentukan reaksi kita terhadapnya. Reaksi dipicu dari pikiran kita dan sekali keputusan diambil dan dilaksanakan tidak dapat kita tarik kembali. Dan apabila ternyata hasilnya tidak menyenangkan, hanya penyesalan yang akan terucap.

Stephen Covey menyebutkan beberapa cara bagaimana menerapkan prinsip 90/10 ini. Bila ada komentar negatif tentang anda, janganlah mudah terpengaruh dan langsung bereaksi. Biarkan komentar itu berhenti karena benar tidaknya komentar itu anda yang menentukan. Bila ada kejadian tidak enak menimpa anda, janganlah mengumbar emosi dengan langsung bereaksi. Pikirkan dampaknya apabila anda hendak melakukan sesuatu. Keputusan reaksi yang salah dapat menyebabkan banyak hal: anda tambah stress, kehilangan teman, anda dipersepsikan negatif oleh orang lain, sampai kehilangan pekerjaan dll.

Konsep 90/10 ini sangatlah sederhana namun kita sering alpa untuk menerapkannya dalam kehidupan kita. Bila anda ingin hidup anda lebih baik dan menyenangkan, tidak ada salahnya mulai hari ini mari kita sama-sama menerapkan prinsip 90/10 ini dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan kita!