Thursday, June 21, 2007

Lempar dadu Anda Segera!

Suatu siang pada hari Sabtu saya melihat beberapa anak kecil sedang berkumpul dan bermain sesuatu di teras rumah tetangga saya. Kelihatannya mereka asyik sekali dengan permainan itu. Ternyata mereka sedang bermain Ular Tangga, sebuahpermainan yang sudah lama tidak lagi saya lihat dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang.

Ular tangga adalah permainan yang sederhana. Ada banyak kotak-kotak yang harus dilewati dan beberapa terdapat gambar Tangga dimana kita bisa naik ke tingkat diatasnya dan gambar Ular yang mengakibatkan kita bisa turun dari tempat semula. Perjalanan si pemain akan berakhir di sebuah kotak Finish yang terletak di tempat paling atas dari permainan itu. Untuk menjalani kotak-kotak sampai ke tujuan akhir itu kita harus mengocok sebuah dadu. Angka yang ditunjukan oleh dadu itulah yang akan menentukan berapa kotak yang akan kita lalui dan apakah Tangga atau Ular yang akan kita temui.

Kalau dicermati lagi, permainan Ular Tangga sesungguhnya merupakan penggambaran yang baik mengenai kehidupan kita. Kotak-kotak yang harus kita lalui menggambarkan tahapan kehidupan yang harus kita lewati. Kehidupan harus selalu bergerak maju begitu juga kehidupan. Kotak-kotak yang kita jalani dalam permainan Ular-Tangga adalah gambaran dari tahapan kehidupan yang kita lalui: masa kanak-kanak, sekolah, bekerja, kehidupan dengan sanak saudara, perkembangan spiritual dll.

Terkadang dalam perjalanan kehidupan itu kita mengalami cobaan dan musibah yang menyebabkan kita harus “turun” dari posisi yang sudah kita miliki. Musibah atau cobaan dalam permainan Ular-Tangga ditunjukkan dengan gambar Ular. Penurunan ini bisa berasal dari dalam diri sendiri ataupun berasal dari sesuatu yang berada di luar kendali kita. Misal, kondisi ekonomi memburuk atau sebuah kondisi perusahaan sedang kesulitan finansial menyebabkan perusahaan terpaksa memberikan pesangon kepada karyawannya. Sedangkan rasa putus asa, pesimis, ingkar terhadap perubahan, depresi adalah penurunan yang lebih berasal dari dalam diri sendiri.

Tangga dapat diibaratkan dengan prestasi, reward dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kehidupan seseorang. Misal, seseorang mendapatkan promosi kenaikan jabatan dan pendapatan yang bertambah karena prestasi pekerjaannya yang meningkat secara signifikan. Seseorang yang mendapatkan reward yang besar karena membantu mendatangkan keuntungan kepada perusahaan atau seseorang yang berhasil menunaikan ibadah haji setelah menabung sekian lama. Peningkatan kualitas ini bisa saja yang terlihat oleh kasat mata (materi, jabatan) atau lebih bersifat pada kualitas bathin seseorang.


Kita hidup dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Kalau dalam permainan Ular Tangga anak-anak kita tahu dimana ujung perjalanan kita dan dimana saja letak Ular dan Tangga itu. Dalam Ular-Tangga kehidupan kita tidak tahu berapa banyak kotak yang harus kita lewati dan dimana saja kita akan menemui Ular ataupun Tangga. Suka atau tidak dengan permainan Ular Tangga Kehidupan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melempar dadu untuk bisa melangkah maju. Atau ia putuskan untuk terus saja ada di petak yang sekarang ditempati.


Untuk melangkah maju, seorang pemain Ular Tangga harus melempar dadu. Melempar dadu ini menggambarkan usaha kita untuk maju. Namun jumlah angka yang keluar sebagai dasar kita bergerak adalah mutlak milik Yang Maha Tahu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah-lah yang mengatur. Kuasa kita hanyalah sebatas berusaha dengan ibarat lemparan dadu.


Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadunya kembali dan menyangka bahwa di kotak itulah nasib terakhirnya. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah mau melempar dadu lagi dan kembali kedalam permainan Ular Tangga Kehidupan. Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.
Karena itu, setiap kali menemui ”Ular”, segeralah lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian banyak lemparan (baca:usaha), kita pasti akan menemukan ”Tangga” yang akan mengangkat kita pada kehidupan yang lebih baik!

Monday, June 18, 2007

Berikan Maaf Dengan Segera!

Suatu malam saya mendapat telepon dari saudara saya dari luar kota. Diawali dengan basa-basi menanyakan kabar dan keluarga kemudian sampai pada tujuan utama: curhat. Dia merasa kesal dengan perlakuan adik iparnya yang seolah-olah bertindak tidak adil terhadap bapak mertuanya (bapaknya saudara saya) yang tinggal satu rumah dengan si adik ipar itu. Dia kesal dengan perlakuan yang menurutnya tidak adil, lebih kesal lagi karena adiknya yang menjadi suami dari adik ipar tersebut ternyata tidak berbuat banyak untuk merubah sikap sang adik ipar.

“Sakit hati rasanya mas kalau dengar cerita dari saudara yang lain mengenai perlakuan adik iparku itu”, ujarnya dengan ketus. “Aku sepertinya susah untuk memaafkan perlakuan dia terhadap bapak selama ini”. Saya yang mendengar limpahan curhatnya hanya bisa merespon sewajarnya karena saya sendiri tidak tahu bagaimana permasalahan sebenarnya.

Memang banyak kejadian yang dengan mudah memancing emosi amarah kita. Kita bisa marah karena orang lain tidak berlaku seperti apa yang kita hendaki. Kita bisa marah karena dunia seolah berjalan tidak mengikuti apa mau kita. Kita marah pada tukang ojek yang dengan seenaknya mengambil jalan kita dll. Kadang kita juga marah karena orang lain yang berlaku apa adanya dan seolah (atau memang sebenarnya) tidak tahu bahwa kita benci kepadanya. Akibat kemarahan itu kita dengan sadar menimbun amarah dalam otak kita berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Otak ibarat tubuh itu sendiri, yang perlu dengan kontinu diberi asupan gizi yang sehat dan seimbang agar otak selalu bertumbuh dan bekerja dengan baik. Makanan bagi otak kita adalah apapun yang kita pikirkan: kebencian, amarah, syukur, positif, optimis dll. Benci, iri dan marah ibarat makanan “beracun” bagi pikiran kita karena dia sanggup mematikan rasa optimis, cinta kasih dan toleransi terhadap orang lain. Apabila “makanan beracun” ini selalu dikonsumsi dalam dosis yang tetap bahkan meningkat akan merusak dan mempengaruhi tubuh yang lain. Ia akan mempengaruhi peredaran darah, sistem immun, meningkatnya tekanan jantung dll.

Kemarahan yang terpendam disinyalir merupakan penyebab dari pelbagai penyakit seperti pusing, migrain, sakit leher, pinggang, insomnia, ketakutan dan yang lebih ekstrem lagi adalah timbulnya depresi. Kemarahan ini akan menetap karena kita sebagai manusia punya kecenderungan untuk senantiasa melakukan satu hal: ‘Enggan untuk meMAAFkan orang lain!’

Untuk mencapai kebahagiaan kehidupan kita perlu mengubah cara pandang kita karena sumber kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan diluar. Jangan sampai sikap orang lain dapat mempengaruhi kebahagiaan kita. Untuk bisa melakukan ini kuncinya hanya satu yaitu berusaha untuk memaafkan. Memaafkan orang lain sebenarnya bukanlah untuk kebaikan orang tersebut, tetapi untuk kebaikan kita sendiri.

Mempraktekkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Perbuatan memaafkan pasti menyembuhkan siapa saja yang rela memaafkan. Ia bagai melepaskan beban berat dari pundak kita. Memaafkan bukan hanya pada sikap orang lain tapi juga memaafkan pada masa lalu kita yang selama ini kita rasakan menghalangi perkembangan jiwa anda.

Percayalah selalu akan hukum keseimbangan alam, dimana berlaku: siapa yang menabur benih, suatu saat dia akan juga menuai. Kalau ada seseorang yang memperlakukan saya dengan tidak baik (menzalimi), saya malah merasa kasihan karena sebenarnya orang tersebut sebenarnya sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika dia akan juga dizalimi oleh orang lain, itulah hukum keseimbangan alam. Segeralah maafkan, Tuhan saja Maha Memaafkan dan Pengampun terhadap ciptaan-Nya.

Mahatma Gandhi pernah berujar: “Memaafkan bukan menunjukkan bahwa kita lemah, namun sebaliknya Memaafkan merupakan bukti bahwa kita adalah orang yang kuat”. Karena ternyata memaafkan orang lain dengan ikhlas dan tulus adalah suatu sikap yang sulit untuk dilakukan.